Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

Forbes NU Dorong Muktamar ke-35 NU Rumuskan Arah Masa Depan

NU Online  ·  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:37 WIB

Forbes NU Dorong Muktamar ke-35 NU Rumuskan Arah Masa Depan

(Foto: Ira Wahyu/NU Online)

Jombang, NU Online 
Forum Bersama Warga Nahdlatul Ulama (Forbes NU) menggelar diskusi dan bedah buku di Angkringan Rebung, Mojokrapak, Tembelang, Kabupaten Jombang, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut digelar di tengah pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.


Mengusung tema “Bersama Warga NU, Merawat Tradisi, Menguatkan Solusi, Menyiapkan Masa Depan”, kegiatan Forbes NU membedah dua buku, yakni Antroposentrisme NU karya Mohammad Fahsin dan Jika NU Tidak Berubah karya Yanuar Pribatin.


Diskusi dipandu Badiul Hadi sebagai moderator dengan menghadirkan TG Hasan Bashri dan Bahrul Fuad sebagai penanggap. Forum tersebut mengajak peserta melihat Muktamar ke-35 NU tidak hanya dari sisi pergantian atau penetapan kepemimpinan, tetapi juga dari gagasan mengenai arah dan masa depan organisasi.


Koordinator Forbes NU, Abdul Waidl, mengatakan momentum Muktamar ke-35 NU perlu dimanfaatkan untuk membicarakan berbagai persoalan strategis yang menyangkut kehidupan organisasi dan warga Nahdliyin.


“Ada banyak hal yang harus dibicarakan tentang NU: visi masa depan dan kegelisahan umat Nahdliyin terkait tata kelola organisasi. Kita tidak ingin terjebak semata pada politik elektoral. Sisi lain yang harus dipikirkan sungguh-sungguh adalah apa visi NU ke depan,” ujarnya.


Menurut Abdul Waidl, rangkaian kegiatan Forbes NU juga diawali dengan mendengarkan aspirasi pengurus MWCNU dan Ranting NU. Langkah tersebut dilakukan agar gagasan yang berkembang dalam momentum Muktamar ke-35 NU tidak hanya berasal dari struktur organisasi di tingkat atas, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat.


“Pengurus Ranting dan MWC yang bertemu langsung dengan masyarakat dan pihak-pihak lain di lapangan. Suara mereka harus didengar oleh PCNU, PWNU, dan PBNU. Jangan sampai PBNU hanya berpikir tentang dirinya sendiri tanpa mendengarkan aspirasi di bawah,” tegasnya.


Dalam sesi bedah buku Antroposentrisme NU, peserta diajak mendiskusikan pentingnya membumikan nilai-nilai Islam dengan manusia sebagai salah satu agen utama. Gagasan tersebut juga dikaitkan dengan posisi NU dalam memperkuat masyarakat sipil serta menjaga hubungan kritis dan konstruktif dengan kekuasaan.


Sementara itu, Yanuar Pribatin melalui buku Jika NU Tidak Berubah menyampaikan otokritik terhadap kondisi internal organisasi. Ia mengibaratkan perjalanan organisasi seperti penggunaan Google Maps yang membutuhkan tujuan jelas sekaligus pemahaman mengenai posisi saat ini.


“Kalau ke depan kita tidak tahu mau ke mana, rute jalan yang akan kita lalui juga tidak akan tahu,” kata Yanuar.


Ia menilai persoalan kaderisasi, tata kelola organisasi, dan ekonomi umat perlu mendapatkan perhatian serius. Karena itu, Muktamar ke-35 NU diharapkan tidak berhenti pada agenda rutin lima tahunan, tetapi menghasilkan roadmap yang mampu menjadi pedoman perjalanan organisasi dalam jangka panjang.


Yanuar juga menyoroti pentingnya kemampuan NU beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama dalam menghadapi perubahan pola pikir dan karakter generasi muda. Menurutnya, pelibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk memastikan keberlanjutan organisasi.


Melalui forum tersebut, Forbes NU berharap Muktamar ke-35 NU mampu menghasilkan kepemimpinan yang terbuka dan akuntabel, sekaligus merumuskan visi serta peta jalan organisasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan dinamika sosial tanpa meninggalkan tradisi NU.


“Aspirasi masyarakat di tingkat MWCNU dan ranting diharapkan memperoleh ruang dalam perumusan kebijakan organisasi. Dengan demikian, keputusan Muktamar dapat memiliki keterhubungan yang lebih kuat dengan kebutuhan nyata warga Nahdliyin,” pungkasnya.