Nasional

Greenpeace Temukan 6.811 Titik Asap Karhutla, Papua Jadi Episentrum Baru

NU Online  ยท  Selasa, 6 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Greenpeace Temukan 6.811 Titik Asap Karhutla, Papua Jadi Episentrum Baru

Tangkapan layar Konferensi Pers Kesaksian Korban Asap Karhutla Gambut dari Indonesia dan Malaysia secara daring, Senin (5/10/2026).

Jakarta, NU Online

Greenpeace Indonesia menemukan 6.811 titik sumber asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 8 Agustus hingga 1 Oktober 2026. Temuan tersebut menunjukkan Papua mulai menjadi salah satu episentrum baru karhutla, dengan 1.634 titik sumber asap.

 

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Belgis Habiba mengatakan, temuan tersebut diperoleh melalui analisis sedikitnya empat citra satelit dengan mengelaborasi sejumlah lapisan data untuk mengidentifikasi persebaran titik sumber asap dan keterkaitannya dengan wilayah pengelolaan lahan.

 

โ€œDari analisis kami, kami menemukan sejumlah 6.811 titik sumber asap yang tersebar di Indonesia sepanjang 8 Agustus hingga 1 Oktober 2026,โ€ ujarnya dalam Konferensi Pers Kesaksian Korban Asap Karhutla Gambut dari Indonesia dan Malaysia yang digelar secara daring, Senin (5/10/2026).

 

Berdasarkan wilayah, Kalimantan menjadi daerah dengan titik sumber asap terbanyak, yakni 3.628 titik. Papua menyusul dengan 1.634 titik, Sumatera 1.322 titik, Maluku 152 titik, dan sisanya tersebar di sejumlah wilayah Sulawesi.

 

โ€œDisusul oleh sebenarnya ini episentrum yang baru yaitu pulau Papua dengan jumlah titik sumber asap sekitar 1.634,โ€ katanya.

 

Belgis mengatakan Greenpeace juga mengidentifikasi persebaran titik sumber asap berdasarkan sejumlah entitas pengelolaan lahan. Dari 141 kesatuan hidrologis gambut yang diidentifikasi, ditemukan 3.557 titik sumber asap.

 

Sementara itu, pada 120 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) ditemukan 970 titik sumber asap. Adapun pada 233 izin perkebunan kelapa sawit terdapat 980 titik sumber asap.

 

Greenpeace juga menemukan 3.177 titik sumber asap di kawasan hutan produksi dan 862 titik di 44 kawasan konservasi yang diidentifikasi. Sebanyak 2.719 titik sumber asap ditemukan di wilayah yang sebelumnya mengalami kebakaran berulang pada 2015, 2019, hingga 2023.

 

Krisis Tata Kelola Gambut

Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian mengatakan, karhutla yang terjadi pada 2026 tidak dapat hanya dikaitkan dengan musim kemarau. Menurutnya, kebakaran merupakan akumulasi persoalan akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut.

 

โ€œKebakaran hutan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari akumulasi krisis yang terjadi akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut di Indonesia,โ€ ucapnya.

 

Putra mengatakan, karhutla telah berulang sejak dekade 1980-an, termasuk kebakaran besar pada 1982-1983, 1997 setelah pembukaan lahan gambut melalui proyek lahan gambut satu juta hektare di Kalimantan Tengah, serta kebakaran pada 2015, 2019, 2023, hingga 2026.

 

Pantau Gambut sejak Juli 2025 menyebutkan bahwa dari sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut di Indonesia, sekitar 16 juta hektare memiliki kerentanan tinggi terhadap karhutla.

 

Greenpeace Indonesia juga menemukan 936 perusahaan dengan konsesi PBPH dan praktik reklamasi ekosistem menguasai sekitar 8,3 juta hektare kesatuan hidrologis gambut di berbagai wilayah Indonesia.

 

Putra menambahkan, persoalan karhutla tidak berhenti setelah api padam. Pemulihan lahan gambut pascakebakaran juga dinilai belum menunjukkan hasil yang diharapkan.

 

Pada area gambut non-konsesi yang terbakar sepanjang 2015-2024, hanya sekitar 3 persen lahan yang kembali menjadi hutan. Sementara itu, sebagian besar lahan berubah menjadi semak belukar atau tanaman monokultur.

 

โ€œPada area gambut non-konsesi yang terbakar kita mencatat hanya tiga persen lahan yang kembali benar-benar menjadi hutan. Sisanya area tersebut berubah menjadi semak belukar dan, lebih ironisnya, kita menemukan sebanyak 54 persen berubah menjadi tanaman-tanaman monokultur seperti akasia dan sawit,โ€ katanya.