Nasional

Gus Faiz Sebut Halal Bihalal Simbol Perbaiki Hubungan Sosial

NU Online  ยท  Selasa, 31 Maret 2026 | 12:00 WIB

Gus Faiz Sebut Halal Bihalal Simbol Perbaiki Hubungan Sosial

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Faiz Syukron Makmun di Kementerian Agama. (Foto: Kemenag/Fadhlillah Hafizhan M)

Jakarta, NU Online

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Faiz Syukron Makmun menyampaikan bahwa tradisi Halal Bihalal yang berkembang di Indonesia merupakan bentuk kearifan lokal yang sarat makna. Tradisi tersebut bukan hanya momentum seremonial, tetapi juga simbol untuk memperbaiki hubungan antarmanusia setelah menjalani ibadah Ramadhan.


โ€œHalal bihalal adalah simbol yang mengingatkan kita untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan sosial. Ini adalah kekayaan budaya Indonesia yang dibangun dari pemahaman agama yang mendalam,โ€ kata kiai yang akrab disapa Gus Faiz itu dalam tausiyahnya di hadapan Menteri Agama, Wakil Menteri Agama, dan jajaran pimpinan Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (31/3/2026).


Gus Faiz menjelaskan pentingnya memahami makna di balik simbol-simbol keagamaan yang hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia. Menurutnya, simbol-simbol tersebut menjadi cara sederhana, tetapi kuat untuk menyampaikan pesan-pesan agama yang mendalam.


โ€œSimbol itu mengingatkan kita pada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kalimat singkat. Ia menjadi cara masyarakat menyampaikan nilai-nilai agama secara sederhana, tetapi penuh makna,โ€ ujar Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta itu.


Dalam momen Halal Bihalal itu juga, Gus Faiz mengingatkan urgensi menjaga keseimbangan antara kesalehan ibadah dan kesalehan sosial. Menurutnya, ibadah yang dijalankan selama Ramadhan tidak akan bermakna utuh tanpa diiringi kepedulian terhadap sesama.


โ€œPuasa dan salat yang kita lakukan tidak cukup jika tidak diiringi dengan kepedulian sosial. Apa artinya ibadah yang khusyuk, tetapi kita abai terhadap lingkungan sekitar,โ€ ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta itu.


Ibadah, terangnya, bukan hanya memiliki dimensi ritual, tetapi harus dibarengi dengan kepedulian sosial dan hubungan yang baik dengan sesama. โ€œJangan sampai kita rajin beribadah, tetapi lupa menengok kanan dan kiri. Di sekitar kita masih banyak yang membutuhkan perhatian dan kepedulian,โ€ katanya.


Oleh karena itu, ia berpesan agar seluruh jajaran Kementerian Agama untuk terus menjaga peran strategisnya sebagai simbol harmoni antara nilai keagamaan dan kehidupan berbangsa. โ€œKementerian Agama adalah simbol bagaimana nilai agama hadir di tengah negara yang berdasarkan Pancasila. Amanah ini harus dijaga dengan baik,โ€ tutupnya.