Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

Gus Yusuf Maju sebagai Caketum PBNU, Klaim Tak Langgar AD-ART NU

NU Online  ·  Jumat, 28 Agustus 2026 | 18:15 WIB

Gus Yusuf Maju sebagai Caketum PBNU, Klaim Tak Langgar AD-ART NU

KH Yusuf Chudori di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Jombang, NU Online

 

Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengatakan bahwa pencalonannya sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak semestinya terganjal aturan mengenai jeda politik.

 

 

Ia menyampaikan bahwa seluruh kader NU memiliki hak yang sama untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan organisasi, mengingat dirinya yang pernah menjabat sebagai Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jawa Tengah.

 

 

Gus Yusuf menilai bahwa ketentuan mengenai jeda politik bukan bagian dari AD/ART NU, melainkan terdapat dalam Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU.

 

 

“Itu kan tadi yang saya sampaikan soal iddah politik, jeda politik itu kan sebenarnya di AD/ART (NU) tidak ada. Itu hanya (di dalam) perkum (peraturan perkumpulan NU). Ya maka semangat kita sekarang kembalikan lagi ke AD-ART,” ucapnya saat ditemui NU Online di Posko Pemenanganya, Jumat (28/8/2026).

 

 

Menurutnya, aturan internal NU seharusnya tidak menjadi penghalang bagi kader terbaik untuk mengabdi dan berkontribusi dalam organisasi.

 

 

Ia menilai latar belakang kader, baik dari politik, eksekutif, pesantren maupun akademisi, tidak semestinya menjadi alasan pembatasan.

 

 

“Jangan ada pasal-pasal yang justru mengkebiri kader-kader kita sendiri. Berikan hak yang sama kepada seluruh kader-kader terbaik NU Baik yang di eksekutif, di politik, di pesantren, akademisi, semua punya hak yang sama untuk memberikan yang terbaik untuk NU. Jangan itu diganjal oleh peraturan-peraturan di luar AD/ART. Itu semangat yang kita munculkan jadi harus diberikan hak yang sama,” tuturnya.

 

 

Terkait mekanisme pemilihan ketua umum PBNU, Gus Yusuf menyerahkan keputusan kepada muktamirin. Ia menyebut mekanisme pemilihan melalui Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) maupun sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

 

 

“Saya nanti sekali lagi kembalikan kepada Muktamirin. Artinya, Muktamirin, PC-PC pengen menyampaikan aspirasinya secara langsung, itu kita hargai bahwa itu memang hak dari para ketua-ketua PC,” katanya.

 

 

Gus Yusuf menambahkan bahwa sistem Ahwa juga memiliki kelebihan karena keputusan berada di tangan para masyaikh dan kiai yang dinilai lebih berhati-hati. Keputusan berada di tangan para masyakih dan kiai yang dinilai lebih berhati-hati.

 

 

“Yang kedua Sistem Ahwa itu juga punya kelebihan karena di tangan para masyaikh, kiai-kiai kita yang lebih berhati-hati. Jadi semua ada kelebihan dan ada kekurangannya masing-masing. Nanti kita kembalikan pada hasil muktamir seperti apa,” ujarnya.

 

 

Ia mengaku telah memiliki modal dukungan, tetapi enggan membeberkannya secara rinci.

 

 

“Tidak kira-kira itu udah fix, tapi bahaya itu nanti digerpol sama memancing rahasia ini. Yang penting cukup lah untuk modal menang,” katanya.

 

 

Gus Yusuf mengungkapkan bahwa persiapan pencalonannya telah dilakukan selama enam bulan. Ia mengklaim sejumlah PCNU sudah jenuh dengan konflik dan membutuhkan figur yang mampu menyatukan kembali kekuatan NU.

 

 

“Udah enam bulan kita persiapannya. Karena PC-PC ini sudah jenuh, sudah jenuh terhadap konflik. Mereka butuh figur yang bebas konflik yang bisa menjadi solutif, bisa menyatukan kembali kekuatan NU, itu yang menjadikan kita semangat gitu loh. Yang sini konflik, sani konflik, kita di tengah ini yang akan menyatukan semua kekuatan NU. Semangat, solutif, itu yang menjadikan perekat kita,” pungkasnya.