Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai dunia saat ini berada dalam kondisi yang sangat tidak menentu, dengan tingkat ketidakpastian (uncertainty) dan sulit diprediksi (unpredictability) yang semakin tinggi.
Menurut Gus Yahya, situasi global tersebut memaksa seluruh aktor, termasuk organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama (NU), untuk memikirkan cara bertahan agar tidak menjadi korban dari ketidakmenentuan yang terus meningkat.
“Sekarang bayangkan ada aksi yang begitu menohok yang dilakukan oleh Amerika dengan menculik Presiden Venezuela. Ini enggak ada presiden. Gimana bisa presiden negara lain diculik dan kemudian diadili di Amerika,” ujar Gus Yahya dalam wawancara eksklusif yang ditayangkan di kanal YouTube NU Online bertajuk Gus Yahya: NU Masuk Abad Kedua, Dunia Tak Lagi Sama, Ahad (25/1/2026).
Ia menilai, dalam kondisi global seperti ini, semua pihak terdorong untuk mempertahankan posisinya masing-masing sebagai bentuk upaya bertahan hidup di tengah perubahan yang cepat dan penuh tekanan.
“Semua terdesak dalam situasi survival di tengah keadaan yang tidak menentu ini. Kita harus survive. Gimana caranya kita tidak jadi korban dari ketidakmenentuan ini. Itu semua berpikir begitu,” katanya.
Gus Yahya menegaskan, NU perlu memahami realitas global tersebut secara jernih dan menjadikan konsolidasi sebagai fondasi utama untuk menghadapi tantangan zaman.
Ia juga menekankan bahwa kebutuhan konsolidasi tidak hanya penting bagi NU sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga relevan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.
“Kalau kita ukur tantangan yang dihadapi oleh NU, enggak ada apa-apanya dibanding tantangan bangsa Indonesia. Luar biasa. Makanya saya sudah sejak, saya kira, dua tahun terakhir ini mengulang-ulang kebutuhan untuk melakukan konsolidasi nasional, konsolidasi bangsa secara menyeluruh, dan mari kita lepaskan perspektif-perspektif lama dalam soal ini,” tuturnya.
Menurut Gus Yahya, hanya melalui konsolidasi yang kuat dan kemampuan adaptasi yang cepat, NU dan bangsa Indonesia dapat bertahan sekaligus berkembang di tengah dinamika global yang terus berubah.
“Dalam keadaan apa pun, kita harus bisa cepat bergerak, cepat melihat, dan cepat beradaptasi. Karena dalam keadaan-keadaan sulit, kemampuan adaptasi itulah yang paling dibutuhkan,” pungkasnya.
