Nasional

Influenza Naik 56 Persen, Menkes Minta Warga Tetap Siaga

NU Online  ·  Kamis, 1 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Influenza Naik 56 Persen, Menkes Minta Warga Tetap Siaga

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat diwawancarai media (istimewa)

Jakarta, NU Online

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, hasil surveilans sentinel menunjukkan positivity rate influenza mencapai 56 persen pada pekan ke-38 tahun 2026.

 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi peningkatan kasus influenza.

 

“Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium. Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Rabu (30/9/2026).

 

Ia mengungkapkan bahwa peningkatan aktivitas influenza pada Agustus hingga September 2026 masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia.

 

Berdasarkan data Kemenkes, pada minggu ke-38 tahun 2026, sebanyak 148 dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel dinyatakan positif influenza.

 

Budi menambahkan, virus yang dominan ditemukan adalah Influenza A (H1N1pdm09). Data tersebut menunjukkan pentingnya penguatan pemantauan, terutama ketika aktivitas influenza mengalami peningkatan.

 

Ia mengatakan Kemenkes juga memantau Influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan banyak diperbincangkan masyarakat dengan sebutan superflu.

 

Budi mengatakan istilah tersebut bukan nomenklatur resmi yang digunakan WHO maupun CDC untuk menyebut subclade K. Perkembangan influenza perlu dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan dan data surveilans, bukan semata-mata istilah yang beredar di masyarakat.

 

“Untuk yang disebut sebagai ‘superflu’ atau H3N2 subclade K, data yang kita pantau justru menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Jadi, kita perlu membedakan antara informasi yang beredar dengan kondisi berdasarkan data surveilans,” ucapnya.

 

Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 tahun 2026 tercatat 188 hasil pemeriksaan subclade K. Sebanyak 166 temuan terjadi pada 2025 dan 22 temuan pada 2026.

 

Budi mengatakan sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak memerlukan rawat inap. Penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir juga tidak ditujukan untuk semua pasien influenza.

 

“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” ujarnya.

 

Ia menyampaikan bahwa pembatasan penggunaan oseltamivir diperlukan untuk mencegah resistansi terhadap obat antivirus. “Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx,” katanya.