Jelang Munas-Konbes 2026, PBNU Matangkan Materi dan Respons Dampak Konflik Global
NU Online ยท Rabu, 1 April 2026 | 20:30 WIB
Rapat Harian Tanfidziyah di lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No. 164, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026). (Foto: PBNU/Junaedin Ghufron)
Mufidah Adzkia
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), menegaskan pentingnya pematangan materi organisasi dan keagamaan, serta langkah antisipatif menghadapi dampak konflik global terhadap kondisi ekonomi nasional dalam persiapan Musyawarah Nasional (Munas), Konferensi Besar (Konbes), hingga Muktamar NU.
โKarena salah satu aspek penting Muktamar, selain pemilihan kepengurusan atau ketua baru dan Rais Aam, juga yang paling utama adalah materinya sendiri, mencakup materi keagamaan maupun hal-hal yang terkait dengan Tanfidziyah, seperti organisasi, program, dan rekomendasi,โ ujarnya seusai Rapat Harian Tanfidziyah di lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No. 164, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).
Gus Ulil menyampaikan, Munas dan Konbes kemungkinan akan digelar pada Mei 2026. Adapun Muktamar, sebagaimana diusulkan Rais Aam, diperkirakan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026.
โPanitia sudah terbentuk pada struktur inti, yakni Ketua SC dan Sekretaris, sesuai keputusan rapat gabungan terakhir pada bulan Ramadhan. Ketua SC adalah Kiai Said Asrori dengan wakil Pak Nuh. Kemudian Ketua OC adalah Gus Ipul dengan wakil Lora Amin Said Husni. Untuk struktur keseluruhan masih dalam proses,โ jelasnya.
Selain itu, rapat juga membahas persiapan Kongres Jamโiyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) serta perkembangan geopolitik global.
Gus Ulil mengungkapkan bahwa Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), telah melakukan safari diplomasi dengan mengunjungi sejumlah kedutaan besar negara yang terlibat dalam konflik Timur Tengah, seperti Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
โKetum telah melakukan berbagai upaya untuk merespons situasi global terkini. Kami juga membahas bagaimana menyikapi dampak perang terhadap kondisi dalam negeri, terutama implikasinya terhadap perekonomian,โ ungkapnya.
Ia menekankan bahwa Gus Yahya mengajak seluruh jajaran PBNU untuk memikirkan dampak konflik terhadap kehidupan riil masyarakat Indonesia, khususnya jika berlangsung dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, Gus Ulil menjelaskan salah satu langkah strategis yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan aplikasi Digdaya sebagai platform digital untuk memperkuat basis data warga.
โJika aplikasi ini mampu menjangkau hingga tingkat ranting dan mendata seluruh warga sesuai AD/ART, minimal 25 anggota per ranting, maka ketika situasi memburuk, struktur organisasi dapat digerakkan untuk membantu warga yang mengalami kesulitan ekonomi,โ jelasnya.
โDengan data yang terkelola baik, kita dapat membantu masyarakat kecil menghadapi tekanan ekonomi akibat situasi global. Ini langkah yang sangat strategis,โ pungkasnya.
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
5
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
6
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
Terkini
Lihat Semua