Jusuf Kalla Dorong Umat Islam Perkuat Sektor Ekonomi dan Pendidikan
NU Online ยท Ahad, 26 Juli 2026 | 18:00 WIB
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026). (Foto: NU Online/Risky)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) mendorong umat Islam untuk memperkuat sektor perekonomian dan pendidikan fondasi kemajuan bangsa. Menurutnya, dua sektor tersebut menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap negara lain.
Hal itu JK sampaikan saat menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).
Dalam paparannya, ia mengatakan setelah lebih dari tujuh dekade merdeka, Indonesia masih menghadapi tantangan terkait kemandirian ekonomi. Salah satu indikatornya yakni adanya ketergantungan terhadap bantuan luar negeri.
Menurutnya, hal tersebut menandakan bahwa kekuatan ekonomi bangsa termasuk umat Islam, sebagai mayoritas penduduk Indonesia masih lemah.
Ia membandingkan ekonomi Indonesia dengan sejumlah negara tetangga seperti Singapura, yang disebut 20 kali lipat lebih besar dari Indonesia. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam lebih melimpah dan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.
"Ini menunjukkan bahwa ekonomi umat Islam lemah, padahal kita ini 87 persen. Mari kita fokus," kata JK di hadapan peserta Kongres yang terdiri ulama dan tokoh dari berbagai organisasi keagamaan.ย
JK menegaskan bahwa penguatan ekonomi sejatinya memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Menurutnya, Nabi Muhammad telah memberikan teladan sebagai pedagang jauh sebelum mendapatkan mandat kerasulan.
"Saya sering katakan, Rasulullah saja dari umur 14 hingga menjadi rasul itu berdagang. Beliau menjadi rasul itu usia 40 sampai 63 tahun. Jadi menguasai tijarah itu bagian dari sunnah," tutur JK.ย
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu pun menyoroti lemahnya pendidikan. Ia menilai, kemajuan suatu bangsa tidak pernah lepas dari penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.ย
Namun, penguasaan tersebut haru sejalan dengan pembentukan akhlak agar kemajuan tersebut tidak menimbulkan malapetaka bagi banyak orang. Untuk itu, ia mendorong adanya keseimbangan antara ilmu agama, iptek sekaligus etika.
"Karena agama memberikan akhlak yang baik, sementara ilmu pengetahuan bisa mendorong perekonomian kita," pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis mengatakan bahwa hari ini pihaknya akan mendeklarasikan piagam tentang ekonomi keuangan syariah. Langkah ini disebut sebagai konsolidasi lembaga ekonomi dan lembaga keuangan syariah.
"Kita akan ada shahifah (piagam) Kongres Umat Islam tentang ekonomi keuangan syariah, dan insyaallah nanti malam dipastikan menjadi Piagam Kongres Umat Islam tentang konsolidasi ekonomi keuangan syariah itu," katanya usai Pleno.
Terpopuler
1
Maju Calon Ketua Umum PBNU, Gus Yusuf Soroti Tata Kelola Organisasi dan Penguatan Pesantren
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan Antara Percaya Takdir dan Tuntutan Menjaga Kesehatan
3
Khutbah Jumat: Menjaga Kesehatan dengan Berolahraga, Ikhtiar Menjaga Amanah dari Allah
4
Gus Rozin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Bawa Misi Benahi Organisasi
5
Kongres Umat Islam Indonesia Usulkan Pembentukan Danantara Syariah untuk Konsolidasikan Ekonomi Umat
6
Prabowo Tuding Masih Ada Londo Ireng dengan Wajah Wartawan hingga LSM
Terkini
Lihat Semua