Nasional

Kebiasaan Menutup Sampah dengan Plastik Bisa Tingkatkan Pemanasan Global

NU Online  ยท  Selasa, 31 Maret 2026 | 21:00 WIB

Kebiasaan Menutup Sampah dengan Plastik Bisa Tingkatkan Pemanasan Global

Ilustrasi gunung sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. (Foto: NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

Ketua Tim Penanganan Sampah Institut Teknologi Bandung (ITB) Pandji Prawisudha mengungkapkan bahwa kebiasaan menutup sampah dengan plastik justru mempercepat terbentuknya gas metana, salah satu gas rumah kaca yang bisa meningkatkan pemanasan global.


Menurutnya, perubahan komposisi dan perlakuan terhadap sampah turut mempengaruhi proses pembusukan. Ia menyoroti kebiasaan masyarakat yang menutup sampah untuk menghindari bau. Padahal, langkah tersebut justru mengubah proses alami penguraian sampah.


โ€œApa yang akan terjadi ketika kita menutup sampah kita dengan plastik? Karena kita tidak ingin bau, maka sampahnya kita tutup,โ€ ujarnya dalam Webinar Cengkrama Iklim bertajuk Bijak Kelola Sampah, Jaga Iklim Kita: Inovasi Teknologi Menuju Indonesia Asri, yang digelar pada Senin (30/3/2026).


โ€œTapi sebetulnya ketika kita tutup, yang biasanya terjadi adalah berupa proses aerob seperti yang tadi di siklus alami sampah jatuh ke tanah, dimakan oleh hewan, kemudian didegradasi oleh mikroba dan juga jasa trading lain, kemudian menjadi tanah. Itu tidak terjadi,โ€ lanjutnya.


Pandji menegaskan bahwa penutupan sampah dengan plastik justru mematikan proses aerob dan menggantinya dengan proses anaerob yang lebih berbahaya.


โ€œKetika kita menutup sampah dengan plastik, maka prosesnya bakteri-bakteri aerobnya mati. Ketika sampah diolah di bagian akhir, maka petugas sampah akan mengalami bau yang sangat-sangat dahsyat. Itu yang biasanya kita keluhkan,โ€ ucapnya.


Ia mengungkapkan bahwa bau menyengat tersebut merupakan indikasi terbentuknya gas berbahaya, termasuk metana.


โ€œProses anaerob itu akan mengeluarkan gas metana, dan ini adalah merupakan gas rumah kaca. Gas metana ini yang membuat pemanasan global semakin hari semakin terasa,โ€ ungkapnya.


Pandji juga menjelaskan bahwa metana memiliki potensi pemanasan global atau Global Warming Potential (GWP) yang jauh lebih besar dibandingkan gas lainnya.


โ€œDalam hal ini angka GWP-nya adalah 100. Ini adalah angka Global Warming Metana itu nilainya kurang lebih 28. Tapi kalau kita menggunakan standar GWP untuk 20 tahunan, sebetulnya potensi pemanasan global untuk metana itu naik, bisa mencapai angka 80. Artinya 80 kali lipat dibandingkan GWP,โ€ jelasnya.


Ia menegaskan besarnya potensi gas metana yang dihasilkan dari pengolahan sampah yang keliru menjadi ancaman bagi iklim global.


โ€œTanpa perubahan perilaku masyarakat dan pembenahan sistem pengelolaan sampah, tumpukan limbah yang selama ini diabaikan justru akan terus menjadi bom waktu yang mempercepat laju pemanasan global,โ€ ujar Pandji.