Jakarta, NU Online
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan menghadapi tekanan setelah Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono resmi terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pengamat menilai keputusan tersebut berpotensi memicu kekhawatiran pasar, terutama terkait independensi bank sentral dalam menjaga stabilitas moneter.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Deniey Adi Purwanto menilai latar belakang Thomas yang memiliki rekam jejak politik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor.
Posisi Thomas sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto juga dinilai dapat memunculkan persepsi kedekatan antara BI dan pemerintah, yang berisiko mengganggu kepercayaan pasar.
Menurut Deniey pasar keuangan sangat sensitif terhadap isu independensi bank sentral. Ketika muncul anggapan bahwa kebijakan moneter berpotensi dipengaruhi kepentingan politik atau fiskal pemerintah, respons pasar cenderung negatif, terutama pada nilai tukar.
"Bahwa akan ada disrupsi independensi Bank Indonesia, ini bisa dilihat nilai tukar mendekati rekor terendahnya sekitar Rp16.985, hampir menyentuh Rp17 ribu," tuturnya dalam diskusi publik bertajuk “Depresiasi Rupiah: Dilema Independensi” yang digelar secara daring dikutip NU Online melalui Youtube INDEF Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, kekhawatiran utama pelaku pasar adalah jika arah kebijakan BI ke depan lebih menekankan pertumbuhan ekonomi jangka pendek dibandingkan menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.
"Kepemimpinan yang secara implisit dianggap memprioritaskan pertumbuhan dapat melemahkan rupiah karena pasar mengantisipasi penurunan suku bunga atau pelonggaran pertahanan nilai tukar," jelasnya.
Selain itu, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang cenderung naik turut dibaca pasar sebagai sinyal kemungkinan perubahan kebijakan moneter. Jika BI dinilai semakin sejalan dengan agenda pemerintah, risiko terhadap inflasi dan stabilitas rupiah disebut akan meningkat.
Deniey menambahkan, reaksi pasar terhadap terpilihnya Thomas sejauh ini terbelah ke dalam dua kemungkinan. Respons pertama adalah ekspektasi kebijakan pengetatan, di mana suku bunga tetap tinggi atau bahkan meningkat.
"Ini cenderung mendukung penguatan nilai tukar rupiah dan juga akan menarik modal dari luar negeri. Jadi, inflow-nya akan meningkat dan mengurangi ekspektasi inflasi," sebutnya.
Namun, respons kedua yang juga cukup kuat adalah asumsi bahwa kebijakan moneter justru akan dilonggarkan untuk mengakomodasi kebutuhan pembiayaan pemerintah. Dalam skenario ini, suku bunga berpotensi lebih rendah, sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian turut memperbesar risiko pelemahan rupiah ke depan.
"Konsekuensinya apa, mungkin banyak analis akan lebih mengarah kebijakan moneter terhadap pertumbuhan daripada stabilitas harga bahkan secara implisit, tapi intinya sama, maka ini dapat melemahkan nilai tukar," ucapnya.
Sebelumnya, Rapat paripurna DPR mengesahkan Keponakan Presiden Prabowo Thomas Djiwandono atau Tommy sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih. Tommy telah dinyatakan lolos fit and proper test atau uji kepatutan dan kelayakan oleh Komisi XI DPR.
Pengesahan itu diambil dalam rapat paripurna ke-12 masa persidangan III tahun sidang 2025-2026, di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Saan Mustopa.
