Nasional

Ketika Banten Jadi Pusat Studi Islam

NU Online  ·  Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:00 WIB

Ketika Banten Jadi Pusat Studi Islam

Ervan Nurtawab. (Foto: UIII)

Depok, NU Online

 

Keberadaan pelajar dan ulama dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa Banten pernah menjadi salah satu simpul penting jaringan keilmuan Islam Asia Tenggara. Tingginya tingkat kajian Islam di wilayah tersebut juga tecermin dalam manuskrip-manuskrip yang memperlihatkan pengetahuan tentang qiraat, tafsir, penomoran ayat, dan berbagai cabang ilmu lainnya.

 

Kesultanan Banten pada masa lalu memiliki ekosistem keilmuan Islam yang maju. Para penguasanya mendatangkan ulama dan cendekiawan dari berbagai kawasan, seperti Gujarat dan Arab. Mereka juga memberikan dukungan agar mereka dapat tinggal dan mengembangkan kegiatan keilmuan di Banten.

 

Para ulama diminta penguasa Banten untuk menetap dalam jangka waktu tertentu serta mendapatkan penghargaan dan dukungan dari kesultanan.

 

“Mereka secara teratur mengundang para sarjana dari Arab dan Gujarat untuk tinggal di Banten selama mungkin atau sesuai dengan waktu yang ditawarkan kepada mereka,” kata Ervan Nurtawab, Pakar manuskrip Islam dari UIN Jurai Siwo Lampung, dalam Plenary Session 2 International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, Kamis (20/8/2026).

 

Praktik tersebut, lanjut Ervan, dapat dibandingkan dengan program akademik modern ketika seorang dosen atau peneliti diundang ke perguruan tinggi luar negeri untuk mengajar dan melakukan penelitian. Bedanya, pola serupa telah berlangsung di Banten beberapa abad lalu.

 

Kedudukan Banten sebagai pusat pembelajaran Islam juga terlihat dari kedatangan pelajar dari luar Nusantara. Ervan menyebut adanya hubungan keilmuan antara Kesultanan Banten dan komunitas Muslim di Mindanao, Filipina Selatan.

 

“Sebagian ulama atau pelajar dari Mindanao, sebelum pergi ke Hijaz, datang ke Banten untuk beberapa waktu guna mempelajari Islam,” ungkapnya.

 

Menurut Ervan, apabila pusat keilmuan tersebut terus bertahan dan berkembang hingga sekarang, Indonesia mungkin memiliki institusi pendidikan bersejarah yang menyerupai Universitas Oxford di Inggris.

 

“Seandainya pusat keislaman Banten itu masih bertahan hingga hari ini, saya kira kita mungkin memiliki sesuatu seperti Universitas Oxford,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan itu, Ervan juga menyampaikan bahwa penyalinan Al-Qur’an tidak dilakukan oleh orang tanpa bekal keilmuan. Para penyalin harus memahami ilmu-ilmu Islam, tradisi qiraat, pembagian ayat, dan seni kaligrafi.

 

“Orang yang menyalin Al-Qur’an tidak mungkin sekadar orang biasa yang tidak memiliki pengetahuan. Ia harus seorang yang berilmu mendalam, bukan hanya tentang ilmu-ilmu Islam, tetapi juga kaligrafi Islam,” jelasnya.

 

Hal itu menjawab pertanyaan moderator Maryam Qonitat terkait tradisi penyalinan mushaf yang ditemukan di Banten juga berlangsung di daerah lain, seperti Aceh dan Sulawesi. Ia kemudian meminta penjelasan mengenai latar belakang para penyalin, termasuk kemungkinan mereka memperoleh pendidikan melalui halaqah keilmuan atau lingkungan istana.

 

Pengetahuan mengenai keislaman tersebut, lanjut Ervan, memungkinkan seorang penyalin mengambil keputusan ketika berhadapan dengan perbedaan bacaan, tanda ayat, pembagian teks, dan unsur lain dalam mushaf. Karena itu, perubahan yang ditemukan dalam suatu manuskrip tidak selalu terjadi karena kesalahan, tetapi bisa merupakan upaya memperbaiki salinan berdasarkan pengetahuan qiraat yang dimiliki penyalin.