Ketua PBNU Dorong Tokoh Agama Tenangkan Masyarakat di Tengah Krisis Energi
NU Online · Kamis, 2 April 2026 | 15:30 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mendorong tokoh agama untuk hadir menenangkan masyarakat di tengah krisis energi.
Ia menilai situasi publik saat ini penuh emosi akibat kesulitan ekonomi dan konflik global. Tokoh agama perlu berperan meredam kepanikan agar tidak menimbulkan efek domino yang panjang.
“Tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama juga punya peran penting untuk ngedem-ngedemi atau mendinginkan suasana. Karena kita tahu situasi publik sekarang ini memang emosional sekali,” Ujar Gus Ulil, saat ditemui NU Online usai diskusi Ngopi Kerukunan di Gedung PGI, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Lebih lanjut, ia menyerukan agar negara-negara Muslim bersatu dan menolak segala bentuk serangan maupun intervensi antarnegara Islam.
“Apa pun alasannya, serangan dari satu negara Muslim ke negara Muslim lain tidak bisa diterima. Jalan damai dan diplomasi harus dikedepankan,” tambahnya.
Gus Ulil menyoroti tindakan sepihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilainya ugal-ugalan dan melanggar hukum internasional. Menurutnya, hal ini menambah emosi publik yang sudah sensitif.
“Situasi emosional ini perlu didinginkan, karena kalau tidak, bisa membakar banyak hal,” tegasnya.
Di sisi lain, Gus Ulil mengapresiasi langkah pemerintah yang tidak menaikkan harga minyak pada 1 April. Menurutnya, kebijakan tersebut membantu meredam kepanikan publik di tengah tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia.
“Itu perlu kita apresiasi karena sekurang-kurangnya kebijakan itu tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat,” jelasnya.
Sebagai bentuk nyata, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) telah melakukan kunjungan diplomasi dengan Duta Besar Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat di Jakarta.
"Langkah ini sebagai upaya NU untuk mendorong perdamaian dan penghormatan terhadap tatanan internasional," kata Gus Ulil.
Konflik dipicu faktor ekonomi
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI, Bunyan Saptomo, menambahkan bahwa dunia saat ini berada dalam kondisi disorder dengan melemahnya lembaga dan hukum internasional. Ia menilai konflik global lebih banyak dipicu oleh faktor ekonomi, terutama perebutan sumber daya migas.
“Amerika menjadi satu-satunya negara super power dengan julukan American order, memiliki 800 pangkalan militer di seluruh dunia. Ambisi menguasai minyak dari Venezuela hingga Iran berdampak besar terhadap ekonomi global,” ujarnya.
Ia menambahkan, perang yang terjadi sangat merugikan dari sisi ekonomi, politik, maupun sosial.
"Kekuatan militer, ekonomi, termasuk petrodollar dan perdagangan, menjadi faktor utama dalam konflik Iran dan Amerika," katanya.
Kontributor: Ahmad Syafiq S
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
4
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
5
Temui Dubes AS, Gus Yahya Serukan Dialog AS-Iran Demi Hentikan Perang di Timur Tengah
6
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
Terkini
Lihat Semua