Ketum PBNU Luncurkan Saadatuna: Syarah Wujudkan Mabadi Khaira Ummah
NU Online · Kamis, 6 Agustus 2026 | 14:30 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf meluncurkan Saadatuna sebagai syarah atas Mabadi Khaira Ummah di Jakarta pada Rabu (5/8/2026).
Mabadi Khaira Ummah merupakan prinsip dasar pembentukan umat terbaik yang digagas oleh KH Mahfudz Shiddiq. Ada lima hal pokok yang menjadi prinsip Mabadi Khaira Ummah.
Pertama ash-shidqu atau kejujuran. Menurut Gus Yahya, prinsip ini tidak memutarbalikkan fakta. Rantai yang panjang bukan masalah, tetapi rantai yang gelap itulah masalah.
"Sebelum segala sesuatu, nomor satu itu kejujuran. Makanya KH Mahfudz Shiddiq itu menempatkan as-Shidqu itu nomor satu paling dulu," katanya.
Sebab, pergaulan tanpa kejujuran itu hubungan apapun akan rusak, apalagi kalau yang tidak jujur. Pasar kalau penuh ketidakjujuran pasti jadi sarang kejahatan. Teknologi tidak bisa memperbaiki pasar yang tidak jujur.
"Yang bisa kita upayakan adalah bagaimana supaya yang jujur beneran tetap bisa menang walaupun kejujurannya tidak terlihat. Karena kadang ya, tukang tipu itu kelihatannya jujur juga gitu. Jadi bagaimana supaya yang jujur beneran ini loh ini tetap bisa menang. Itu yang harus kita pikirkan caranya," jelasnya.
Karenanya, ash-Shidqu itu jujur dan terbuka dalam bertindak agar yang benar tak lagi kalah karena tak terlihat.
Kedua, al-amanah wal wafa bil ahdi (kepercayaan dan memenuhi janji). Amanah, menurutnya, merupakan titipan, bukan untuk dimiliki, melainkan dijaga. Ia menegaskan bahwa amanah tidak dijual, tidak juga dipinjamkan.
"Data warga ini amanah, bukan milik pengurus. Jadi ndak bisa diperjualbelikan. Ndak bisa dipinjam untuk politik atau apa. Dan itu harus ada jaminan," katanya.
Oleh karena itu, PBNU membangun teknologi yang menjamin keamanan data warganya, bahwa data warga ini hanya bisa dimanfaatkan untuk peruntukannya, yaitu untuk kemaslahatan mereka. Teknologi akan menyiapkan bahwa amanat atas data itu bisa ditagih.
"Artinya apa? Warga bisa mengecek bahwa datanya selamat. Dan saya pribadi siap mempertanggungjawabkan di hadapan warga, di hadapan pengurus, di hadapan Allah swt," katanya.
Ketiga, al-adalah atau keadilan. Ia menyebut, kerap kali yang jauh selalu terlambat. Keadilan itu menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga semua pengurus dan warga di mana saja mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sama pada saat yang sama.
"Apa yang didapatkan oleh cabang di Jakarta juga harus bisa didapat oleh ranting di NTT misalnya atau MWC di Papua," katanya.
"Yang terjadi seringnya adalah bahwa daerah-daerah di pinggir ini, yang jauh dari ibukota itu, sering terlambat. Yang dekat dengan ibukota bisa dapat duluan atau yang di Jawa dapat duluan. Yang di Indonesia timur, di pulau-pulau yang jauh terlambat," lanjutnya.
Oleh karena itu, Gus Yahya menegaskan perlunya membangun cara supaya tercipta keadilan sehingga semua bisa mendapatkan kesempatan dan fasilitas pada saat yang sama.
Keempat, al-Istiqamah (konsisten). Ia menegaskan bahwa yang baik tak harus tuntas di tangan satu orang, tak boleh terputus pada satu periode.
Satu periode, menurutnya, meletakkan fondasi. Periode berikutnya meneruskan bangunan. Istiqamah berarti sambung-menyambung antar periode seperti satu bangunan.
"Yang diharapkan istiqamah itu bukan cuma kita sebagai pribadi, jamiyah ini juga harus istiqamah," ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa hal yang menjadi problem adalah dalam periode lima tahun ini baru fondasi. Menurutnya, jika belum selesai dan ditinggal akan berbahaya, bisa mangkrak atau nanti bisa rusak. Sebab, pelanjut tidak memahami desain keseluruhannya sehingga bangunan yang dihasilkan itu jadi rawan.
"Makanya kita harus berusaha untuk mendapat kesempatan meneruskan pekerjaan ini sampai nanti jadi bangunan sehingga penerus kita nanti tinggal menggunakan bangunan itu untuk kemaslahatan jamiyah," ujarnya.
Prinsip terakhir adalah taawun, yakni tolong-menolong dalam kebaikan. Menurutnya, sejak dulu, jika ada yang membutuhkan, tangan selalu ringan diulurkan sebagai watak, bukan hanya program.
"Sejak dulu kalau ada tetangga butuh kita datang. Itu bukan program, itu watak namanya," katanya.
Hal yang berubah bukan niatnya, tetapi kecepatannya. Taawun itu bukan program organisasi, tetapi nilai dasar ajarannya Kanjeng Nabi yang dilakukan oleh organisasi.
"Yang perlu dilakukan oleh organisasi ini adalah mencari cara dan membangun satu alat supaya yang butuh pertolongan dan yang bisa menolong tersambung satu sama lain sehingga mereka bisa ketemu hari itu juga, nggak menunggu bulan depan atau kapan. Itu yang kita upayakan," katanya.
"Taawun tolong-menolong dalam kebaikan untuk saling menjaga dan menguatkan," pungkasnya.
Terpopuler
1
Melalui PBNU, YANMU Salurkan 11 Ambulans dan 1.000 Al-Quran untuk PWNU dan PCNU
2
Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat
3
Agresi Israel Tak Berhenti usai Kesepakatan Pelucutan Senjata, Jumlah Korban di Gaza Capai 73.356 Jiwa
4
Fariz Alnizar Dilantik sebagai Rektor Unusia Periode 2026–2030
5
PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung 3.000 Lebih Peserta Muktamar Ke-35 NU
6
Masuk Bursa Bakal Calon Ketua Umum PBNU, Ini Kiprah dan Profil KH Marsudi Syuhud
Terkini
Lihat Semua