Nasional

Krisis Air dan Kekeringan Berulang, Greenpeace Desak Pemerintah Bangun Strategi Jangka Panjang

NU Online  ·  Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30 WIB

Krisis Air dan Kekeringan Berulang, Greenpeace Desak Pemerintah Bangun Strategi Jangka Panjang

Ilustrasi kekeringan. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Kekeringan yang berulang setiap musim kemarau menunjukkan perlunya strategi jangka panjang pemerintah dalam menghadapi krisis air. Greenpeace Indonesia menilai persoalan tersebut tidak cukup ditangani dengan langkah darurat, terutama ketika fenomena El Nino diprediksi semakin kuat.


Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Yuyun Harmono mengatakan sejumlah wilayah di Indonesia telah memiliki indeks kekeringan tinggi, bahkan sebelum kondisi diperparah oleh El Nino.


“Tentu pada kondisi-kondisi musim kemarau, tidak hanya tahun ini, tetapi juga tahun-tahun sebelumnya yang belum diperparah dengan kondisi El Nino. Itu juga beberapa daerah kan sudah ada indikasi bahwa daerah itu punya indeks kekeringan yang sangat tinggi, terutama misalnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (20/8/2026).


Menurut Yuyun, wilayah dengan tingkat kerentanan kekeringan tinggi perlu mendapatkan perhatian serius. Kondisi tersebut semakin mendesak karena ancaman El Nino berpotensi memperburuk kekeringan dan ketersediaan air.


Ia mendesak pemerintah menjalankan dua pendekatan sekaligus, yakni strategi untuk menangani dampak kekeringan saat ini dan strategi mitigasi dalam jangka panjang.


“Nah, ini juga harus dicari solusinya. Jadi, ada dua yang harus dilakukan. Pertama adalah strategi coping, jadi strategi yang bisa berdampak langsung, itu harus dipecahkan. Yang kedua adalah strategi untuk memitigasi dan ini bisa jangka panjang,” tutur Yuyun.


Yuyun mencontohkan, kebutuhan air masyarakat yang tidak dapat ditunda harus segera diatasi melalui solusi langsung. Sementara itu, langkah mitigasi dapat dilakukan melalui pembangunan embung atau waduk serta penggalakan pemanenan air hujan untuk mengurangi risiko kekeringan pada masa mendatang.


“Jika butuhnya air hari ini, ya apa langkah strategi coping untuk menyelesaikan kebutuhan airnya. Langkah mitigasinya apa, misalnya dengan membangun embung atau waduk, atau menggalakkan lagi misalnya panen air hujan, dan sebagainya,” ucapnya.


Ia menilai persoalan kekeringan juga tidak dapat dilepaskan dari krisis iklim. Menurutnya, pemerintah perlu mengatasi akar persoalan melalui pengurangan penggunaan energi fosil dan pencegahan deforestasi.


“Kalau itu tidak dilakukan, ya kita akan mengulangi hal yang sama dari tahun ke tahun,” tegas Yuyun.