Nasional

Manuskrip Arab Nusantara Jadi Bukti Asia Tenggara Aktif Membentuk Dunia Islam

NU Online  ยท  Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Manuskrip Arab Nusantara Jadi Bukti Asia Tenggara Aktif Membentuk Dunia Islam

Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam dari University of St Andrews, Inggris, Andrew Peacock saat presentasi pada International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, Rabu (19/8/2026). (Foto: NU Online/Amien Nurhakim)

Depok, NU Online

Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam dari University of St Andrews, Inggris, Andrew Peacock, menegaskan bahwa manuskrip Arab di Asia Tenggara menyimpan bukti penting mengenai keterlibatan aktif masyarakat Nusantara dalam pembentukan tradisi intelektual Islam global. Namun, kekayaan tersebut hingga kini masih belum memperoleh perhatian akademik yang memadai.


Hal itu disampaikan Peacock dalam presentasi berjudul โ€œDiversity in the Arabic Manuscripts of Southeast Asiaโ€ pada International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, Rabu (19/8/2026).


Menurut Peacock, manuskrip memiliki kedudukan sangat penting dalam sejarah masyarakat Muslim. Salah satu penyebabnya ialah penyebaran teknologi percetakan di dunia Islam yang berlangsung relatif lambat dan baru berkembang luas pada abad ke-19. Karenanya, manuskrip tetap menjadi sarana utama komunikasi tertulis dalam waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan yang terjadi di Eropa.


Manuskrip tersebut digunakan untuk beragam kepentingan, mulai dari bacaan populer hingga karya teologi yang mendalam. Oleh sebab itu, penelitian mengenai sejarah Islam sebelum pertengahan abad ke-19 hampir tidak mungkin dilakukan tanpa menggunakan sumber manuskrip.


โ€œSudah tentu menjadi sulit untuk mempelajari sejarah Islam sebelum 1850 tanpa menggunakan manuskrip,โ€ tegas Peacock.


Bahkan menurutnya, untuk wilayah tertentu, manuskrip masih menjadi sumber utama hingga periode yang lebih akhir.


Kendati Islam mempunyai kedudukan sentral dan jumlah pemeluknya sangat besar di Asia Tenggara, tradisi manuskrip Arab di kawasan ini masih relatif sedikit diteliti. Sejumlah karya penting ulama Asia Tenggara yang ditulis dalam bahasa Arab pada masa pramodern juga belum diterbitkan dan masih tersimpan dalam bentuk manuskrip.


Peacock mencontohkan koleksi manuskrip Arab di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang sangat kaya, tetapi belum sepenuhnya diteliti secara memadai. Keterbatasan katalog dan sarana penelitian tersebut terkadang menyulitkan para peneliti untuk menjangkau sumber-sumber primer yang tersedia.


Peacock juga menilai keterabaian manuskrip Arab Nusantara tidak dapat dilepaskan dari cara pandang keilmuan pada masa kolonial. Para sarjana Barat sangat cenderung memusatkan perhatian pada tradisi yang mereka anggap sebagai tradisi tulis pribumi, seperti manuskrip berbahasa Melayu dan Jawa.


Sebaliknya, karya berbahasa Arab, termasuk yang ditulis atau disalin di Asia Tenggara, kerap dianggap sebagai produk bahasa asing yang tidak banyak memberikan informasi mengenai kehidupan masyarakat setempat.


Anggapan lain yang berpengaruh ialah pandangan bahwa bahasa Arab hanya dipertahankan sebagai bahasa ritual karena tidak dipahami oleh kebanyakan Muslim Asia Tenggara. Peacock menilai asumsi tersebut menyesatkan karena bukti-bukti manuskrip menunjukkan penggunaan bahasa Arab yang jauh lebih luas.


Bahasa Arab di Nusantara tidak hanya digunakan untuk kajian Al-Qurโ€™an, hukum Islam, dan kegiatan keagamaan. Bahasa tersebut juga menjadi bahasa diplomasi internasional, tata bahasa, sastra, pemerintahan, dan komunikasi di lingkungan istana.


Peacock menunjukkan bahwa para penguasa di Aceh dan Banten menggunakan bahasa Arab dalam korespondensi diplomatik, termasuk ketika berhubungan dengan penguasa Eropa. Di lingkungan kerajaan, bahasa Arab digunakan untuk mengartikulasikan kekuasaan sultan sekaligus membangun hubungan politik dengan dunia luar.


Bukti berupa karya tata bahasa Arab yang disalin di Jawa pada akhir abad ke-16 juga menunjukkan adanya usaha aktif masyarakat Nusantara untuk mempelajari dan menguasai bahasa Arab. Temuan ini membantah anggapan bahwa bahasa Arab semata-mata merupakan bahasa ritual yang tidak dipahami masyarakat.


Lebih lanjut lagi, selain karya manuskrip yang diproduksi secara lokal, terdapat pula manuskrip asal Timur Tengah yang beredar di Nusantara, terutama dari Yaman dan Hijaz, serta sejumlah wilayah lain. Peredarannya memperlihatkan bahwa Asia Tenggara terhubung dengan jaringan keilmuan dunia Islam yang sangat luas.


Peacock mengingatkan bahwa perpindahan pengetahuan tersebut tidak berlangsung satu arah, yakni dari Timur Tengah menuju Asia Tenggara. Karya dan perdebatan intelektual yang berkembang di Aceh dan wilayah Nusantara lainnya juga beredar serta mendapatkan perhatian di berbagai kawasan dunia Islam.


"Manuskrip-manuskrip, salinannya, hingga penulisnya, relative sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain," katanya.


Berangkat dari sirkulasi yang luas, kajian terhadap manuskrip dapat mengungkap jaringan intelektual dan artistik yang menghubungkan Nusantara dengan Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara, dan kawasan lainnya.


Konferensi yang berlangsung pada 19-20 Agustus 2026 tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Studi Islam UIII bersamaan dengan peluncuran Center for Islamic Manuscripts and Written Cultures. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pakar manuskrip, antara lain Andrew Peacock, Oman Fathurahman, Annabel Teh Gallop, Farish A Noor, dan Ervan Nurtawab.


Andrew Peacock dikenal sebagai peneliti sejarah dan kebudayaan intelektual dunia Islam pramoยญdern dengan penguasaan sumber berbahasa Arab, Persia, Turki, dan Melayu. Bukunya, Arabic Literary Culture in Southeast Asia in the Seventeenth and Eighteenth Centuries, memperoleh Sheikh Zayed Book Award pada 2025. Ia juga terpilih sebagai Fellow of the British Academy pada 2022.