Nasional

Masuki Musim Kemarau, Karhutla dan Kekeringan Mulai Melanda Sejumlah Wilayah

NU Online  ·  Selasa, 30 Juni 2026 | 18:00 WIB

Masuki Musim Kemarau, Karhutla dan Kekeringan Mulai Melanda Sejumlah Wilayah

Ilustrasi kekeringan dan kemarau. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyampaikan bahwa memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Indonesia mulai menghadapi peningkatan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.


Abdul mengatakan, karhutla terjadi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lahan seluas empat hektare di Desa Gentan, Kecamatan Bulu, dilaporkan terbakar pada Sabtu (27/6/2026) pukul 18.15 WIB.


Peristiwa serupa juga terjadi di Kota Langsa, Aceh. Lahan di Desa Birem Puntong, Kecamatan Langsa Baro, terbakar pada Ahad (28/6/2026). Menurutnya, kebakaran tersebut dipicu oleh pembakaran sampah.


"Kebakaran ini mengakibatkan satu kepala keluarga (KK) terdampak dengan luas lahan yang terbakar mencapai dua hektare," katanya, Senin (29/6/2026).


Karhutla juga terjadi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Lahan seluas dua hektare di Desa Tomo, Kecamatan Tomo, dilaporkan terbakar. Abdul mengatakan ancaman karhutla mulai meningkat seiring berkurangnya curah hujan pada musim kemarau.


Selain karhutla, dampak musim kemarau juga mulai dirasakan masyarakat melalui bencana kekeringan yang masih ditangani di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Banyumas, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten.


Di Kabupaten Banyumas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat kembali mendistribusikan 5.000 liter air bersih kepada warga Desa Taman Sari, Kecamatan Karanglewas.


"Air bersih tersebut kemudian ditampung masyarakat dalam toren berkapasitas 4.000 liter dan juga menggunakan ember," katanya.


Abdul mengatakan, di Kabupaten Boyolali kekeringan telah terjadi sejak awal Juni 2026 dengan sedikitnya 42 KK atau 125 jiwa terdampak.


"BPBD Kabupaten Boyolali mendistribusikan air bersih sebanyak 10.000 liter kepada masyarakat di lokasi terdampak kekeringan, yakni Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, dan Desa Samiran, Kecamatan Selo," ujarnya.


Sementara itu, di Kabupaten Klaten, BPBD mendistribusikan 60.000 liter air bersih atau setara 12 tangki mobil air kepada 301 KK atau 1.142 jiwa di Desa Sidorejo.


BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dengan tidak melakukan pembakaran lahan, menggunakan air secara bijak, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla maupun kekeringan.


"Pemerintah daerah juga diharapkan terus memperkuat langkah mitigasi melalui pemantauan wilayah rawan, kesiapsiagaan sumber daya, serta memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan," tegasnya.