Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

Mendiktisaintek Dorong Turots Ulama Nusantara Masuk Ekosistem Pendidikan Tinggi

NU Online  ·  Ahad, 30 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Mendiktisaintek Dorong Turots Ulama Nusantara Masuk Ekosistem Pendidikan Tinggi

Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto saat menyampaikan sambutan virtual dalam acara Seminar Turots Internasional yang diadakan Nahdlatut Turots di MAN 3 Jombang, Sabtu (30/8/2026). (Foto: Tangkapan layar YouTube TVNU)

Jombang, NU Online
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof Brian Yuliarto mendorong khazanah turots ulama Nusantara mendapatkan ruang yang semakin luas dalam ekosistem pendidikan tinggi dan penelitian. Menurutnya, warisan intelektual ulama Nusantara memiliki nilai penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pembentukan karakter generasi masa depan.


Hal tersebut disampaikannya melalui sambutan virtual dalam Seminar Internasional Turots Ulama Nusantara yang digelar oleh Nahdlatut Turots sebagai bagian dari rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di MAN 3 Jombang, Sabtu (30/8/2026).


Prof Brian mengatakan, Indonesia memiliki warisan intelektual Islam yang kaya dan telah berkembang selama berabad-abad melalui pesantren, kitab, manuskrip, serta jaringan keilmuan ulama nusantara.


“Dari warisan tersebut, kita belajar bahwa para ulama tidak berhenti pada penguasaan ilmu. Mereka menghadirkan ilmu untuk menjawab persoalan masyarakat, membangun kehidupan umat, dan memberi arahan bagi peradaban,” ujarnya.


Karena itu, ia menilai turots tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Khazanah tersebut perlu terus dibaca, dikaji, diteliti, dan dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangnya zaman.


Prof Brian menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam upaya tersebut. Menurutnya, karya dan manuskrip ulama Nusantara dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus objek penelitian yang membuka peluang lahirnya pemikirin dan inovasi baru.


“Manuskrip dan karya ulama Nusantara tentu harus terus diteliti, didokumentasikan, didigitalisasi, dan dikembangkan melalui pendekatan ilmiah. Kita tentu tidak ingin warisan intelektual yang begitu besar hanya tersimpan di rak- rak, sementara generasi mendatang semakin jauh dari khazanah keilmuan bangsanya sendiri,” tegasnya.


Teknologi Jadi Jembatan Turots dan Masa Depan

Prof Brian juga menyoroti perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang menurutnya membuka peluang baru dalam pelestarian dan pengembangan turots Nusantara.


Teknologi, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk melakukan preservasi manuskrip dalam skala lebih luas, membangun basis data khazanah keilmuan Nusantara, hingga memperluas akses bagi masyarakat dan peneliti.


“Dengan cara itulah teknologi akan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Warisan keilmuan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi akan terus hidup, berkembang, dan memberikan inspirasi dalam menjawab berbagai tantangan zaman,” jelasnya.


Lebih lanjut, ia berharap pendidikan tinggi Indonesia dapat berkembang dengan tetap memiliki akar sejarah dan identitas bangsa yang kuat. Di saat yang sama, generasi muda diharapkan mampu menguasai sains dan teknologi, memiliki kemampuan riset dan inovasi, serta tetap dibekali nilai, karakter, dan kebijaksanaan.


Untuk mewujudkannya, ia mendorong penguatan kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, ulama, peneliti, dan generasi muda. Tradisi keilmuan pesantren dan perkembangan akademik modern dinilai perlu saling memperkaya.


“Warisan intelektual para ulama harus terus dipertemukan dengan perkembangan sains dan teknologi,” katanya.


Ia berharap seminar internasional tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan langkah konkret. Di antaranya semakin banyak manuskrip yang diselamatkan dan didigitalisasi, penguatan penelitian tentang turots nusantara, perluasan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren.


“Semoga semakin banyak generasi muda yang mengenal dan mengembangkan khazanah intelektual bangsanya sendiri,” pungkasnya.