Nasional

Nilai-Nilai Gus Dur Hidup dalam Memperjuangkan Kesetaraan dan Perlindungan Anak

NU Online  ·  Sabtu, 30 Agustus 2025 | 09:00 WIB

Nilai-Nilai Gus Dur Hidup dalam Memperjuangkan Kesetaraan dan Perlindungan Anak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi saat menyampaikan sambutan dalam Acara Pembukaan Temu Nasional (Tunas) Jaringan Gusdurian di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat (29/8/2025). (Foto: dok. Gusdurian)

Jakarta, NU Online

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa perjuangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan perlindungan anak masih mengalir hingga saat ini.


Hal tersebut ia sampaikan dalam Acara Pembukaan Temu Nasional (Tunas) Jaringan Gusdurian di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat (29/8/2025). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Nyai Sinta Nuriyah Wahid, Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof Kamaruddin Amin, tokoh lintas agama, akademisi, dan masyarakat sipil.


“Api perjuangan Gus Dur tidak pernah padam. Justru ia terus menyala lintas generasi dan diwujudkan dalam aksi nyata kehidupan berbangsa,” ujar Arifah.


Arifah juga menyampaikan bila Gus Dur masih ada, beliau pasti akan tersenyum melihat api perjuangannya terus menyala di tangan Jaringan Gusdurian.


“Gus Dur pasti akan berpesan bahwa Indonesia tidak boleh diurus dengan rasa takut, tetapi dengan cinta. Dan itu harus diwujudkan dengan keberanian, membela yang rentan, termasuk perempuan dan anak sebagai masa depan bangsa,” ujar Ketua Umum Muslimat NU itu.


Menurutnya, Gus Dur mengajarkan bahwa selalu mengutamakan kemanusiaan, keberagaman, dan keadilan adalah teladan moral yang perlu dijunjung tinggi. “Beliau pernah berkata, memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Kalimat sederhana ini sesungguhnya merupakan fondasi besar peradaban,” jelasnya.


Arifah mengungkapkan bahwa nilai perjuangan Gus Dur tampak nyata ketika bangsa ini melindungi anak-anak dari kekerasan, memperjuangkan kesetaraan hak perempuan, serta merangkul kelompok-kelompok yang kerap disisihkan. Baginya, itulah jalan untuk memuliakan bangsa.


“Membicarakan isu perempuan dan perlindungan anak berarti melanjutkan perjuangan Gus Dur. Beliau percaya bangsa ini hanya akan kuat bila memberi ruang bagi semua, termasuk perempuan dan anak,” ungkapnya.


Ia menambahkan, dalam menghadapi kesulitan, Gus Dur selalu menunjukkan sikap keberanian, cinta kasih, dan keyakinan bahwa manusia tidak boleh kehilangan martabatnya. Nilai-nilai tersebut, menurut Arifah, harus terus dilanjutkan melalui aksi nyata.


“Untuk menjadikan nilai-nilai Gus Dur bukan sekadar inspirasi, melainkan gerakan bersama. Misalnya, menekan angka perkawinan anak, melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak agar setiap rumah menjadi ruang aman, hangat, dan penuh kasih,” tegasnya.