Nasional

PDNU Soroti Krisis Empati Nakes terhadap Pasien BPJS, Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

NU Online  ·  Senin, 10 Agustus 2026 | 20:30 WIB

PDNU Soroti Krisis Empati Nakes terhadap Pasien BPJS, Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

Ilustrasi tenaga kesehatan (nakes). (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Di tengah keluhan masyarakat mengenai akses layanan kesehatan, muncul komentar bernada merendahkan yang diduga ditulis sejumlah tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS Kesehatan di media sosial. Peristiwa tersebut dinilai tidak hanya melukai pasien dan keluarganya, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap profesi kesehatan.


Kasus ini mencuat setelah unggahan pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan viral di media sosial. Pada 22 Juli 2026, melalui akun Threads @yurizaltrich, Yurizal mengaku telah menunggu kamar rawat inap selama delapan jam. Dalam unggahannya, ia tidak menyebutkan nama rumah sakit tempat dirinya dirawat.


"Delapan jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal.


Unggahan tersebut kemudian dibanjiri komentar bernada merendahkan. Sebagian akun bahkan menyarankan Yurizal pindah ke ruang jenazah agar lebih cepat memperoleh kamar. Ada pula komentar yang menyinggung penyakit serius dan menyakiti diri dengan nada bercanda.


Sejumlah pemilik akun yang menuliskan komentar tersebut diduga berprofesi sebagai dokter, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya berdasarkan informasi yang tercantum pada profil media sosial mereka.


Perbincangan semakin meluas setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Kabar tersebut disampaikan sepupunya melalui media sosial dan membuat unggahan lama Yurizal kembali menjadi perhatian publik.


Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU), Muhammad S. Niam, menilai komentar merendahkan terhadap pasien tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.


"Jelas hilangnya empati, komentar miring, apalagi hujatan kepada pasien oleh seorang dokter maupun nakes tidak bisa dibenarkan apa pun alasannya. Baik pasien masih hidup maupun telah meninggal dunia. Bahkan, andai pasien kemudian selamat dan sehat kembali, tidak menghilangkan perbuatan buruk yang telah dilakukan," ujarnya kepada NU Online, Senin (10/8/2026).


Niam mengatakan perilaku tersebut mencederai nilai-nilai luhur profesi kesehatan yang dibangun di atas sumpah profesi, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap martabat pasien.


"Mereka layak dipertanyakan kredibilitasnya dan kesungguhannya memikul beban sebagai dokter dan nakes. Tentu jumlah mereka bisa dihitung dengan jari dibandingkan mayoritas dokter dan nakes yang masih memiliki jiwa sosial dan menjunjung tinggi sumpah yang telah diucapkan," katanya.


Ia menilai tindakan tegas perlu dilakukan agar perilaku segelintir oknum tidak merusak nama baik profesi kesehatan secara keseluruhan.


"Mengadili mereka yang telah mencederai nilai-nilai mulia yang harus dijunjung tinggi itu penting untuk membersihkan nama baik dokter dan nakes," tegasnya.


Keluhan Layanan Bukan Alasan Merendahkan Pasien

Niam juga mengingatkan bahwa banyak pasien BPJS selama ini mengeluhkan prosedur layanan yang dianggap berbelit dan merepotkan. Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk merendahkan pasien yang sedang membutuhkan pertolongan.


"BPJS sendiri yang memberikan aturan di luar tanggung jawab dokter dan nakes yang dirasakan oleh pasien cukup berbelit dan merepotkan. Namun, tentu saja itu semua tidak menyebabkan hujatan, ketiadaan empati, maupun segala bentuk wanprestasi bisa dibenarkan," tuturnya.


Lebih jauh, ia menilai perilaku tidak berempati dapat berdampak luas hingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.


"Ketika pasien merasa dihina, diabaikan, dipermalukan, atau diperlakukan tanpa empati, yang rusak bukan hanya hubungan dengan tenaga kesehatan tersebut, tetapi sering kali juga citra profesi kesehatan secara keseluruhan," katanya.


Menurutnya, empati bukan sekadar keramahan, melainkan fondasi pelayanan kesehatan yang berkualitas.


"Keahlian medis membuat pasien datang, tetapi empati membuat pasien percaya. Tanpa kepercayaan, efektivitas pelayanan kesehatan ikut menurun, meskipun kompetensi klinis tenaga kesehatan tersebut tinggi," tandas Niam.