Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

Peta Jalan NU 2026-2050 Jadi Tanggung Jawab Pengurus PBNU 2026-2031

NU Online  ยท  Kamis, 3 September 2026 | 16:30 WIB

Peta Jalan NU 2026-2050 Jadi Tanggung Jawab Pengurus PBNU 2026-2031

Logo Muktamar Ke-35 NU. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

 

Ketua Komisi Program Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) Alissa Wahid mengatakan, penyusunan Peta Jalan NU 2026โ€“2050 merupakan arah jangka panjang kepemimpinan NU pasca-Muktamar Lampung.

 

Alissa menjelaskan, peta jalan tersebut menjadi arah strategis NU yang perlu diperhatikan oleh setiap pengurus PBNU 2026-2031. Hal itu disampaikannya dalam jumpa pers di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Kamis (3/9/2026).

 

"Menjadi visi dari kepengurusan Rais Aam dan Ketua Umum terpilih di Muktamar ke-35, tetap pokok-pokok haluan program ini harus menjadi acuan dan nanti akan dipertanggungjawabkan sepanjang masa kepemimpinan, baik melalui Munas-Konbes maupun melalui Muktamar ke-36 tahun 2031 nanti," katanya.

 

Menurutnya, hal utama dalam peta jalan NU 2026-2050 adalah penguatan organisasi NU. Alissa mengungkapkan, visi jangka panjang itu dinilai penting karena NU telah memasuki abad kedua dengan berbagai tantangan baru.

 

"Karena ini masuk abad kedua dengan tantangan yang berbeda. Ada soal Gen Z, ada soal abad digital, ada soal perkembangan geopolitik, dan lain-lain," jelasnya.

 

"Karena itu, organisasi NU juga perlu untuk bertransformasi dan melakukan konsolidasi," sambung Alissa.

 

Selain itu, Alissa menegaskan bahwa peta jalan juga diarahkan pada penguatan khidmah NU melalui empat pilar. Keempatnya mencakup pesantren dan Aswaja, kesejahteraan sosial-ekonomi warga NU, peningkatan keunggulan sumber daya manusia (SDM) NU, serta pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

 

"Kalau ini tanggung jawab ke dalam, begitu ya, kepada warga NU yang jumlahnya 57 persen dari umat Islam di Indonesia," jelasnya.

 

Selain khidmah ke dalam, sambungnya, NU juga tetap memiliki tanggung jawab terhadap bangsa dan dunia. Menurut Alissa, posisi NU sebagai salah satu kekuatan sosial kemasyarakatan di Indonesia membuat khidmah untuk bangsa dan dunia menjadi bagian penting dari arah organisasi.

 

Terkait kebangsaan, Alissa mengungkapkan ruang lingkupnya mencakup advokasi kebijakan publik agar berpihak kepada rakyat, serta keterlibatan NU dalam isu politik, hukum, demokrasi, dan penguatan gerakan masyarakat sipil.

 

"Begitu juga positioning NU sebagai salah satu kekuatan Islam moderat di dunia. Itu untuk peta jalan," jelasnya.

 

Program NU 2026-2031 usung semboyan โ€œNU Berkah 2031โ€

 

Terkait arah strategis program NU periode 2026-2031, Alissa menjelaskan bahwa program tersebut mengusung semboyan "NU Berkah 2031". Semboyan tersebut merupakan akronim dari berorientasi jamaah, amanah, koheren, akuntabel, berkesinambungan, adaptif, dan andal.

 

"Ini karena kita tahu bahwa kata kuncinya atau terma kuncinya transformasi jam'iyyah di tahun 2026-2031," katanya.

 

Lebih lanjut, Alissa menegaskan bahwa pokok-pokok haluan program tersebut juga akan menjadi acuan bagi kepengurusan PBNU 2026-2031.

 

Dalam jumpa pers tersebut, turut dihadiri oleh Wakil Ketua Steering Committee (SC) KH Abdul Moqsith Ghazali, Sekretaris SC Prof Mohammad Nuh, Wakil Ketua OC H Gudfan Arif Ghofur, Wakil Koordinator Komisi Organisasi Prof Asrorun Niam Sholeh, Koordinator Komisi Program Alissa Wahid, Wakil Koordinator Komisi Rekomendasi H Ahmad Suaedy, dan Tim Penyusun Materi Komisi Keorganisasian Idy Muzayyad.