Pihak yang Intervensi Muktamar NU adalah Musuh Bersama, Harus Dilawan!
NU Online · Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:14 WIB
Jombang, NU Online
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hilmy Muhammad mengingatkan agar para pengurus NU tetap berdiri tegak menjaga marwah, kemandirian, serta kedaulatannya, tidak mudah diintervensi oleh kekuatan atau kepentingan politik maupun kelompok mana pun.
“Siapa pun yang mencoba mendikte, menekan, atau campur tangan dalam urusan internal organisasi harus disikapi sebagai musuh bersama yang ingin merecoki keutuhan NU. Musuh bersama harus dilawan bersama. Ini demi menjaga marwah organisasi dan kemandirian serta kedaulatan peserta muktamar,” tegas kiai yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut melalui siaran tertulis kepada media, Rabu (26/8/26).
Gus Hilmy menegaskan bahwa para pengurus NU yang menjadi peserta muktamar adalah kader pemikir dan pejuang yang mewakili kepengurusannya di setiap tingkatan. Mereka memiliki kedaulatan penuh atas pilihan nurani mereka.
"Para peserta muktamar adalah kader-kader yang merdeka. Maka, jadilah kader yang independen. Gunakan hak suara dan nalar organisasi berdasarkan kemaslahatan umat, baik kepentingan mereka di tingkat cabang atau wilayah, maupun kemaslahatan dalam pengertian NU secara keseluruhan di masa yang akan datang. Jangan sampai kita berpartisipasi karena tekanan pihak luar. Masa kita mau nuruti pihak yang mau merecoki dan memanfaatkan organisasi kita?" ungkap Gus Hilmy.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI tersebut juga merefleksikan sejarah berdirinya NU, khususnya melalui peristiwa penyerahan tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari melalui KH As’ad Syamsul Arifin.
“Kita maknai bahwa kepemimpinan NU diamanahkan dengan penuh kehati-hatian, ketulusan, dan syaja’ah atau keberanian. Keduanya adalah simbol kepemimpinan kiai yang kokoh dan sakral, bukan untuk mainan dan cengengesan, apalagi komoditas tawar-menawar politik pragmatis, dan tidak boleh diserahkan kepada pihak-pihak yang hendak mempermainkan masa depan NU demi kepentingan sesaat. Justru merekalah musuh kita bersama,” jelas Gus Hilmy.
Menurut Gus Hilmy, penyerahan kedua simbol tersebut juga disertai pesan al-‘asho liman ‘asho. Kalimat itu, menunjukkan bahwa pemimpin NU harus memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam mencarikan jalan kemaslahatan untuk NU.
Ungkapan al-‘asho liman ‘asho itu, lanjut Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY tersebut, ditafsirkan bahwa pemimpin NU harus mempunyai atau menjadi jalan atas setiap permasalahan dan tantangan, sehingga NU dapat berjalan sesuai tujuan dan mandatnya.
“Jangan bermain-main dengan tongkat karena simbol kepemimpinan. Yang main-main justru adalah yang pantas digetok, diingatkan karena khawatir akan dapat kualat. Apalagi sampai menjerumuskan NU dengan berdampingan pada pihak luar yang ingin mengintervensi kita,” katanya.
Gus Hilmy mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk bersatu-padu, mengawal jalannya muktamar dengan khidmat, bermartabat, dan suasana penuh gembira demi menyambut hari baru NU ke depan, di abad keduanya; memastikan NU senantiasa hadir sebagai penjaga akhlakul karimah serta pilar utama kebangsaan yang mandiri.
“Muktamar ini harus kita jalani dengan khidmat, bermartabat, dan penuh suasana kegembiraan. Kita menyambut lembaran baru abad kedua sesuai dengan semangat tema kita, ‘Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.’ Tema ini adalah pernyataan sikap bahwa kita menolak segala intervensi demi menjadikan NU sebagai organisasi yang berdaya dan bermartabat,” pungkas Gus Hilmy.
Terpopuler
1
Ini Jadwal Lengkap Agenda Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
2
KH Ma’ruf Amin: Calon Ketua Umum PBNU Harus Punya Kapasitas Manajerial dan Teknokratis
3
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
4
Muktamar NU: Absennya Tema Besar dan Agenda Kerakyatan
5
Anjuran Merayakan Maulid Nabi Muhammad dan Dalil-Dalilnya
6
Muktamar Ke-35 NU Dibuka Kamis 27 Agustus Pukul 15.00 WIB oleh Presiden Prabowo
Terkini
Lihat Semua