Nasional

PISA 2025, P2G Soroti 24 Persen Murid Indonesia Alami Perundungan

NU Online  ยท  Kamis, 10 September 2026 | 17:00 WIB

PISA 2025, P2G Soroti 24 Persen Murid Indonesia Alami Perundungan

Ilustrasi stop bullying. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Kenaikan skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tidak serta-merta menunjukkan seluruh persoalan pendidikan nasional telah teratasi. Di balik capaian tersebut, lingkungan belajar masih menghadapi persoalan serius, salah satunya perundungan.


Data PISA 2025 menunjukkan sebanyak 24 persen murid Indonesia mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yakni 20 persen.


Kepala Divisi Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Iman Zanatul Haeri menilai tingginya angka perundungan tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah dan satuan pendidikan.

Menurutnya, peningkatan capaian akademik tidak akan optimal apabila murid masih menghadapi kekerasan di lingkungan belajar.


โ€œIni menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk menciptakan ekosistem lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi,โ€ katanya dalam keteranganย tertulis, Kamis (10/9/2026).


Iman mengatakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Kementerian Agama (Kemenag), dinas pendidikan, dan satuan pendidikan dituntut membangun sistem sekolah dan madrasah yang aman dari berbagai bentuk kekerasan.


Menurutnya, iklim keamanan merupakan salah satu komponen penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu.


โ€œBagaimana kualitas atau mutu pendidikan akan dicapai, jika murid alami kekerasan, jika lingkungan belajarnya tak aman,โ€ ucapnya.


Ia menegaskan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berkewajiban mendampingi, membimbing, dan membersamai satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, serta tidak menoleransi kekerasan dalam bentuk apa pun.


Dedikasi Guru Tinggi

Di sisi lain, Iman menilai capaian PISA 2025 juga menunjukkan tingginya dedikasi guru Indonesia dalam mendampingi murid.


Sebanyak 85 persen guru di Indonesia disebut terus mengajar hingga murid memahami materi. Angka tersebut jauh di atas rata-rata OECD yang mencapai 69 persen.


Selain itu, sebanyak 80 persen guru membantu murid hingga benar-benar memahami materi, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 73 persen.


โ€œGuru menjelaskan materi ke murid sampai mereka benar-benar memahaminya. Dukungan belajar yang kuat dari guru dapat memperkecil ketimpangan pemahaman antarmurid, sebab guru meluangkan waktu ekstra kepada semua murid tanpa kecuali,โ€ ujarnya.


Namun, Iman melihat kondisi tersebut juga menunjukkan sebuah paradoks. Di satu sisi, tingginya pendampingan guru menunjukkan dedikasi dalam membantu murid. Di sisi lain, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa sebagian murid belum memiliki kemandirian belajar dan beban kerja guru masih tinggi.


Iman mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan kenaikan skor PISA Indonesia. Menurutnya, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk mencapai target capaian PISA 2029 sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025โ€“2029.


โ€œMeskipun skor PISA Indonesia naik, Kemdikdasmen jangan lupa ke depan, tugas rumah pemerintahan Prabowo tidaklah mudah, mencapai target skor PISA 2029 yang tinggi yaitu Membaca 409, Matematika 416, dan Sains 426 dalam RPJMN 2025-2029,โ€ pungkasnya.