Prof Nuh Ungkap Tiga Hal Luar Biasa dari Muktamar Ke-35 NU
NU Online · Jumat, 11 September 2026 | 02:00 WIB
Prof M Nuh dalam acara Pembubaran Panitia Muktamar ke-35 NU di GSG Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Kamis (10/9/2026) malam. (Foto: Tangkapan layar Tambakberas TV)
Siti Ratna Sari
Kontributor
Jombang, NU Online
Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, telah usai. Namun, sejumlah catatan penting dari perhelatan tersebut masih menjadi bahan refleksi bagi para pengurus dan panitia.
Salah satunya disampaikan Prof H Mohammad Nuh dalam acara pembubaran Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (10/9/2026).
Prof Nuh menyebut ada tiga hal luar biasa dalam pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU. Menurutnya, ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang semula dianggap tidak mungkin dapat diwujudkan melalui kerja keras, doa, kekompakan, dan ikhtiar bersama.
Muktamar dalam 50 Hari
Hal luar biasa pertama, menurut Prof Nuh, adalah kemampuan panitia menyiapkan Muktamar Ke-35 NU hanya dalam waktu sekitar 50 hari.
Ia menilai penyelenggaraan agenda tertinggi dalam organisasi NU yang dihadiri ribuan Nahdliyin tidak mudah dilakukan dalam waktu sesingkat itu.
“Saya menyebutnya memungkinkan yang tidak mungkin, secara dzahir itu enggak mungkin. Bukan sekadar pelaksanaannya yang luar biasa, tetapi hasil dari muktamar itu alhamdulillah juga luar biasa,” jelas Nuh.
Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan semata-mata hasil kerja keras panitia. Kesuksesan penyelenggaraan Muktamar juga tidak terlepas dari doa, dukungan, dan keterlibatan berbagai pihak.
“Alhamdulillah berkat doa panjenengan semua, dukungan panjenengan semua dan insyaallah ridho dari para muassis akhirnya berjalan dengan sangat baik sekali,” imbuhnya.
Ketua Umum Dipilih AHWA
Hal luar biasa kedua, lanjut Nuh, adalah proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Ia menyebut mekanisme tersebut sebagai bagian dari proses menempatkan Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi dalam jamiyah NU.
“Seperti yang diulas oleh Pak Nusron Wahid tadi pagi pada saat silaturahim dengan para PWNU-PWNU se-Indonesia bahwasanya menjadikan Syuriah sebagai pimpinan tertinggi di jamiyah Nahdlatul Ulama dengan cara mengembalikan proses pemilihan ketua umum oleh AHWA,” kata Nuh.
Menurutnya, perdebatan mengenai arah NU sebelum pelaksanaan Muktamar Ke-35 berlangsung cukup tajam. Perdebatan tersebut, kata dia, bukan hanya berkaitan dengan kondisi NU saat ini, melainkan juga menyangkut arah organisasi pada masa mendatang.
“Bahkan waktu Munas Konbes di Kediri sangat tajam betul perdebatan itu. Tapi alhamdulillah begitu masuk ke Tambakberas semuanya sejuk, semuanya bisa diselesaikan meskipun sekali lagi harus melalui voting,” ungkapnya.
Ia menambahkan, proses tersebut menjadi bagian dari upaya mengawali abad kedua NU dengan menegaskan Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi dalam jamiyah Nahdlatul Ulama.
Panitia Dibubarkan
Hal luar biasa ketiga, menurut Nuh, adalah acara pembubaran panitia Muktamar. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai pengalaman yang berbeda selama mengikuti berbagai Muktamar NU.
“Tidak ada ceritanya setelah acara selesai itu ada acara pamitan seperti ini. Setelah Assalamualaikum ya sudah, waalaikumsalam, enggak ada, salam dada pun juga ndak pakai,” terangnya.
Nuh mengaku bersyukur dan senang karena tradisi tersebut dapat menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menghadirkan keberkahan bagi semua pihak yang terlibat.
“Yang tadinya kita anggap tidak mungkin di Tambakberas menjadi mungkin, itulah kedahsyatan dari beras. Matur sembah nuwun,” imbuhnya.
Di akhir sambutannya, Nuh menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh panitia atas berbagai hal selama dirinya memimpin steering committee Muktamar Ke-35 NU.
“Tentu saya mohon maaf barangkali selama memimpin steering committee banyak hal yang merepotkan panjenengan semua. Rapat-rapatnya pun juga maraton sampai subuh dan dilanjutkan. Tapi sekali lagi itu adalah bagian dari khidmah kita untuk menghantarkan NU di abad kedua ini,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Jadi Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Komitmen Tak Lupakan PWNU Jatim
2
Khutbah Jumat: Beberapa Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Kematian
3
Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri
4
4 Gunung Berapi Indonesia Meletus Dini Hari hingga Pagi Ini
5
Khutbah Jumat: Hati Merasa Jauh dari Allah, Apa yang Harus Dilakukan?
6
432 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan NU Peduli Cilacap untuk Warga Terdampak Kekeringan
Terkini
Lihat Semua