NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Nasional

Psikolog Sebut Pola Asuh Maskulinitas Bisa Picu Kekerasan Seksual terhadap Anak Laki-Laki

NU Online·
Psikolog Sebut Pola Asuh Maskulinitas Bisa Picu Kekerasan Seksual terhadap Anak Laki-Laki
Ilustrasi kekerasan terhadap anak. (Foto: Freepik)
Ayu Lestari
Ayu LestariKontributor
Bagikan:

Jakarta, NU Online

Kasus kekerasan seksual tak hanya mengancam anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki, terutama di lembaga pendidikan. Menurut psikolog, kasus kekerasan seksual terhadap anak lelaki tak terlepas dari pola asuh maskulinitas sebagai pemicu.

Sri Nurrahayu Fitria, Psikolog klinis anak dari Biro Minauli Konseling, Medan menilai, pemahaman maskulinitas kerap dijadikan tameng yang justru melanggengkan stigma bahwa anak laki-laki harus kuat.

Stigma tersebut banyak ditemukan pada orang tua dengan pola asuh otoriter, atau sebaliknya pada pola asuh permisif yang memandang anak laki-laki sebagai sosok kuat sehingga diperlakukan secara istimewa atau dirajakan.

Menurutnya, stigma tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan sangat erat kaitannya dengan latar belakang pendidikan keluarga, sistem nilai, serta sosial-budaya yang berkembang di lingkungan tempat anak tumbuh.

“Mulai dari keluarga yang terdiri dari orang tua, siblings, kakek-nenek hingga ke tingkat yang lebih luas seperti lingkungan sekolah ataupun komunitas,” ungkap Ayu kepada NU Online, Sabtu (24/1/2026).

Ia menambahkan, persoalan ini kerap dikaitkan dengan budaya patriarki serta minimnya perlindungan terhadap anak laki-laki dari kekerasan seksual. 

Berdasarkan realitas di lapangan, Sri Nurrahayu menyebut bahwa kekerasan seksual terhadap anak laki-laki justru banyak dipicu oleh faktor lain, seperti paparan pornografi, kriminalitas di lingkungan sekitar, serta kesenjangan pendidikan dan sosial-ekonomi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kunci utama dalam membangun ketahanan mental anak terletak pada kehadiran kedua orang tua. Menurutnya, orang tua merupakan faktor paling besar yang memengaruhi tingkah laku dan perkembangan psikologis anak.

“Anak melihat hubungan antar orang tua sebagai panutan bagi hubungannya kelak. Mereka akan meniru dan mengadopsi nilai-nilai orang tuanya. Anak laki-laki menjadikan ayahnya sebagai figur panutan, sementara anak perempuan adalah ibunya, tetapi ini bukanlah sebuah aturan yang mengikat,” paparnya.

Selain kehadiran orang tua, pola komunikasi yang sehat dinilai menjadi langkah paling efektif dalam membangun rasa aman pada anak. Orang tua diharapkan mampu menyimak cerita anak dengan penuh perhatian, berdiskusi secara terbuka, serta menghindari sikap menggurui agar anak merasa dihargai.

Terkait edukasi seks, ia menilai bahwa pengetahuan mengenai seks idealnya diawali dengan pengenalan organ reproduksi melalui buku biologi. Sementara itu, pemahaman mengenai dampak seks dini dapat diperoleh melalui tontonan edukatif, termasuk tayangan kriminalitas yang menjelaskan aspek hukum pidana.

Penanganan psikologis

Adapun penanganan psikologis bagi anak korban kekerasan seksual, menurutnya, perlu dilakukan melalui pendekatan yang komprehensif. Pendekatan tersebut meliputi terapi keluarga, konseling berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT), serta art therapy.

Pendekatan CBT dilakukan dengan mengidentifikasi pikiran-pikiran negatif pada anak, kemudian menanamkan pola pikir positif melalui proses konseling. Sementara art therapy berisi teknik-teknik berbasis kreativitas seni, seperti menggambar, mewarnai, bermain peran dengan boneka atau objek tertentu, hingga bermain clay.

“Sejauh pengalaman praktik saya, metode ini cukup efektif bagi anak usia SD,” pungkas Ayu.

Upaya tersebut ditujukan agar anak tetap mampu menumbuhkan rasa percaya diri, merasa aman, serta dapat menyalurkan dan melepaskan emosi negatif melalui media seni maupun cerita.

Editor: Patoni

Artikel Terkait

Psikolog Sebut Pola Asuh Maskulinitas Bisa Picu Kekerasan Seksual terhadap Anak Laki-Laki | NU Online