Nasional

Refleksi 20 Tahun Gempa Jogja: Ancaman Megathrust di Depan Mata

NU Online  ·  Senin, 15 Juni 2026 | 08:00 WIB

Refleksi 20 Tahun Gempa Jogja: Ancaman Megathrust di Depan Mata

Tangkapan layar Dosen Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah dalam Seminar 20 Tahun Gempa Yogya 2006 & Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa, Sabtu (13/6/2026). (

Jakarta, NU Online

Dua puluh tahun setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,4 yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya pada 27 Mei 2006, ancaman gempa besar belum benar-benar berlalu. Peristiwa yang menjadi salah satu bencana paling mematikan di Indonesia itu menyisakan pelajaran penting bahwa mitigasi dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat di tengah potensi gempa megathrust di selatan Pulau Jawa.

 

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Pemerintah Jawa Tengah, Pemerintah DIY, dan sejumlah mitra internasional, gempa Bantul 2006 mengakibatkan sekitar 5.700 korban meninggal dunia dan 70.000 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sekitar 154.000 rumah hancur dan 260.000 rumah mengalami kerusakan berat dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp29,1 triliun.


Dosen Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah, menjelaskan bahwa dalam sebelas tahun terakhir telah terjadi banyak gempa, baik gempa dangkal maupun gempa berkedalaman lebih besar.


Ia menambahkan, di wilayah selatan DIY terdapat klaster gempa yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Kondisi tersebut menunjukkan sumber gempa di kawasan itu masih aktif bergerak dan berada pada zona megathrust di selatan Jawa, meskipun hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa besar akan terjadi.

 

“Yang dapat dilakukan oleh para ilmuwan adalah mengidentifikasi sumber gempa, memperkirakan potensi magnitudo, serta memetakan dampak yang mungkin ditimbulkan,” ujarnya dalam Seminar 20 Tahun Gempa Yogya 2006 & Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa, Sabtu (13/6/2026). 

 

Gayatri mengimbau masyarakat meningkatkan kepekaan dan mengubah cara pandang terhadap ancaman megathrust. Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi kunci utama keselamatan, mulai dari pembangunan rumah tahan gempa, penyediaan jalur evakuasi yang jelas, kesiapsiagaan keluarga, hingga akses terhadap informasi yang valid dan berbasis ilmu pengetahuan.

 

Ia juga menyoroti tingginya mobilitas wisatawan di DIY yang memerlukan perhatian khusus dalam upaya mitigasi bencana.

 

“Wisatawan yang hanya datang satu atau dua hari sering kali tidak memahami risiko kebencanaan. Padahal dalam kondisi darurat, pengetahuan sederhana mengenai jalur evakuasi maupun titik aman dapat menjadi faktor yang menentukan keselamatan,” paparnya.

 

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Mujahid Amrudin, menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan pascagempa 2006 yang ditopang kultur gotong royong, nilai spiritualitas, dan kolaborasi lintas sektor menjadi modal penting menghadapi ancaman megathrust pada masa mendatang.

 

“Selain itu, manajemen penanganan bencana pascagempa yang terstruktur juga mempercepat proses pemulihan meskipun banyak penelitian mencatat masih ada sejumlah kelemahan di aspek manajemen tersebut,” jelasnya.