Nasional

Refleksi Hari Kartini, Akademisi Soroti Pentingnya Kebebasan Psikologis Perempuan

NU Online  ·  Selasa, 21 April 2026 | 21:30 WIB

Refleksi Hari Kartini, Akademisi Soroti Pentingnya Kebebasan Psikologis Perempuan

Raden Ajeng Kartini. (Foto: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen via Wikimedia)

Jakarta, NU Online

Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Konselor Universitas Negeri Semarang (UNNES), Muslikah, mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk memaknai ulang semangat Peringatan Hari Kartini di tengah perubahan zaman yang makin kompleks.


“Semangat Kartini hari ini tidak lagi sekadar tentang akses pendidikan, karena itu sudah jauh lebih terbuka lagi. Namun memang maknanya bergeser menjadi tentang kebebasan psikologis. tentang sebuah keberanian perempuan untuk mengenali diri, mengenali dirinya sendiri, menentukan pilihan hidup dan tidak terjebak pada standar sosial yang sempit,” ujar Muslikah kepada NU Online pada Selasa (21/4/2026).


Dosen Bimbingan Konseling UNNES itu menjelaskan, jika Kartini dahulu berjuang melawan keterbatasan eksternal, perempuan masa kini justru seringkali berjuang melawan tekanan internal.


“Kadang rasa yang tidak cukup, tuntutan untuk tampil harus selalu sempurna, atau kadang konflik antara harapan pribadi dan sosial. Maka, teman-teman, semangat Kartini hari ini adalah sebenarnya tentang sebuah keberanian. Keberanian untuk menjadi autentik, untuk menjadi diri sendiri, bukan masalah sekedar setara saja,” tegasnya.


Lebih lanjut, Muslikah menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi perempuan muda saat ini. Ia menilai, banyak perempuan mengalami tekanan akibat tuntutan berbagai peran sekaligus mulai dari keberhasilan akademik, kemandirian finansial, hingga standar penampilan fisik.


“Salah satu tantangan terbesar menurut saya adalah kadang kita itu merasa overload terhadap berbagai peran dan berbagai ekspektasi banyak pihak. Perempuan muda sekarang dituntut untuk bisa berhasil secara akademik, mandiri secara finansial, maupun kadang tuntutan untuk harus selalu tampil menarik secara fisik. Nah, semua itu kadang kita lakukan sekaligus untuk memenuhi keinginan-keinginan atau bahkan norma sosial tertentu. Nah tekanan ini seringkali memunculkan kecemasan pada perempuan,” jelasnya


Tekanan tersebut, lanjutnya, kerap memunculkan rasa ragu, perasaan tertinggal dibandingkan dengan orang lain, hingga mengalami kebingungan identitas.


"Saat ini sebenarnya apa ya yang kita inginkan? Kita itu ingin apa? Karena terlalu banyak suara dari luar yang kadang mempengaruhi keputusan kita. Dalam konteks ilmu konseling dan psikologi, saya sering melihat bahwa akar masalahnya itu bukan kurangnya kemampuan, tapi kadang kita itu yang sebagai perempuan itu terlalu keras pada diri sendiri,” jelasnya.


Dalam konteks ini, ia juga menyinggung peran media sosial yang memiliki dampak ganda terhadap kesehatan mental perempuan. Di satu sisi, media sosial menjadi ruang ekspresi dan dukungan sosial bahkan untuk edukasi, namun di sisi lain dapat memicu perbandingan sosial yang kadang tidak selalu realistis.


“Para remaja putri, para mahasiswi kadang sangat rentan terhadap perbandingan-perbandingan terhadap diri sendiri dengan versi terbaik dari orang lain yang memang itu sudah populer, sudah diakurasi. Hal ini bisa berdampak pada kepercayaan diri seorang mahasiswi atau remaja putri, atau pada perempuan secara umum. Bagaimana citra tubuh, bagaimana kecemasan itu muncul, sehingga kadang memunculkan depresi ringan sampai sedang, karena tadi merasa insecure dengan dirinya,” ungkapnya.


Muslikah menekankan bahwa dampak tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh intensitas penggunaan media sosial, tetapi juga bagaimana individu memaknai konten yang dikonsumsi.


Sebagai refleksi Hari Kartini, ia memberikan sejumlah saran agar perempuan yang ada di Indonesia tetap sehat secara mental di tengah tekanan zaman.


Pertama, penting untuk membangun self-awareness (kesadaran diri), yakni dengan mengenali batas diri, emosi, dan kebutuhan pribadi.


“Teman-teman perempuan Indonesia, tidak semua hal harus diikuti. Dan kita tidak semua standar harus dipenuhi. Maka kenalilah diri kita sendiri. Bangun self-awareness kita,” katanya.


Kedua, perempuan perlu melatih self-compassion atau sikap welas asih terhadap diri sendiri. Ia menyebut, perempuan muda yang sangat suportif kepada orang lain, tapi sangat keras pada dirinya sendiri.


“Padahal teman-teman, kesehatan mental itu bertumbuh dari hubungan yang sehat dengan diri kita sendiri,” lanjutnya.


Ketiga, ia mengajak perempuan Indonesia untuk bijak dalam menggunakan media sosial dengan mengkurasi konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga menyehatkan secara mental.


“Jangan kita ragu mencari bantuan. Jika teman-teman memang mengalami kondisi kesehatan mental yang terganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan professional. Bukan berarti kita lemah, tapi justru itu bentuk keberanian kita untuk terus merawat diri,” pesannya.


“Pada akhirnya teman-teman perempuan Indonesia menjadi perempuan kuat hari ini itu bukan berarti harus jadi perempuan yang sempurna. Tapi bagaimana kita mampu memahami diri menerima ketidaksempurnaan kita dan tetap melangkah dengan penuh kesadaran. semangat semuanya berikan yang terbaik jadilah Kartini Indonesia yang luar biasa,” pungkasnya.