Sebulan Pascagempa M7,7, Warga Ngada NTT Masih Bertahan di Tenda, Ekonomi Lumpuh
NU Online · Selasa, 15 September 2026 | 13:00 WIB
Penyaluran bantuan air mineral dan logistik lainnya bagi warga terdampak gempa yang masih tinggal di tenda di Kabupaten Ngada, NTT pada Sabtu (12/9/2026). (NU Peduli NTT)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Sebulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, warga terdampak di wilayah Ngada masih menghadapi situasi sulit. Gempa susulan yang terus terjadi membuat sebagian warga belum berani kembali menjalani kehidupan normal dan masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 15 September 2026 pukul 05.00 WIB, tercatat 15.722 gempa bumi susulan. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2 dan terkecil 0,9. Sebanyak 38 gempa memiliki magnitudo di atas 5 dan 190 gempa susulan dirasakan masyarakat.
Koordinator NU Peduli NTT wilayah Ngada, Irfanuddin, mengatakan intensitas gempa masih dirasakan warga. Gempa berkekuatan 5,2, menurutnya, menjadi salah satu yang cukup membuat masyarakat khawatir.
“Intensitas gempa sampai sekarang ini masih terasa, gempa berkekuatan 5,2 itu yang cukup bikin kita kaget, itu bisa tiga sampai empat kali yang berkekuatan besar begitu. Warga terdampak masih bertadan di tenda-tenda,” ujarnya kepada NU Online, Senin (14/9/2026).
Kondisi tersebut turut memukul perekonomian warga. Irfan menyampaikan bahwa aktivitas pasar dan toko menurun drastis karena pembeli berkurang. Sejumlah pedagang bahkan memilih menutup usahanya karena tidak ada pembeli.
“Makanya sebulan pascagempa kemarin itu ya pasar banyak yang memilih tutup karena kalau di buka juga tidak ada yang membeli,” katanya.
Trauma juga membuat pelaku usaha takut kembali beraktivitas. “Kadang kalau di pasar atau di toko para pelaku usaha ini trauma takut bangunan roboh, mereka kerobohan bangunan, jadi trauma,” kata Irfan.
Ia juga menyampaikan bahwa dampak serupa dirasakan nelayan dan petani. Nelayan belum berani melaut karena khawatir gempa susulan memicu gelombang tinggi. Sementara itu, lahan pertanian terdampak, bahkan ada yang terbelah sehingga tidak dapat digunakan untuk berkebun.
Situasi semakin berat karena Ngada juga menghadapi kekeringan pada musim kemarau. “Di musim kemarau saja sudah sulit mendapatkan air bersih, ini ditambah adanya gempa jadi makin sulit mendapatkan air bersih. Makanya para petani belum bisa Bertani karena airnya tidak ada, airnya sulit untuk bercocok tanam,” ujarnya.
Irfan menyampaikan bahwa NU Peduli NTT memberikan bantuan air mineral untuk memenuhi kebutuhan warga. “NU peduli ini juga memberikan bantuan air mineral karena Ngada ini di musim kemarau juga terdampak kekeringan,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, warga yang masih tinggal di tenda juga menghadapi persoalan kesehatan. “Tentu mereka banyak yang mengalami sakit demam, flu, infeksi saluran pernafasan karena debu banyak dan tebal-tebal karena kemaau itu. Sedangkan kalau malam itu dingin dan di tenda rentan angin masuk, sementara kalau siang panas sekali,” pungkas Ketua PC GP Ansor Kabupaten Ngada itu.
Baca Juga
Doa ketika Terjadi Gempa Bumi
Terpopuler
1
Hukum Suami Memanggil Istri dengan Sebutan Mamah atau Ummi
2
137 Mahasantri Ma'had Aly Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 NU
3
Presiden Prabowo Tiba di India untuk Hadiri KTT Ke-18 BRICS
4
Menkeu Suahasil: Keuangan Negara Harus Bisa Jalankan Program Prioritas Pemerintah
5
Prabowo Bicara Ketahanan di BRICS, Rakyat Indonesia Masih Menghirup Asap Karhutla
6
BGN Sebut 240 Ribu Satuan Pendidikan Belum Terima MBG
Terkini
Lihat Semua