Nasional

Temuan CELIOS: Pertambangan dan Sawit Dominasi Hilangnya Hutan Sulawesi

NU Online  ยท  Selasa, 15 September 2026 | 22:30 WIB

Temuan CELIOS: Pertambangan dan Sawit Dominasi Hilangnya Hutan Sulawesi

Ilustrasi tambang. (Foto: Magnific)

Jakarta, NU Online

Tekanan terhadap lingkungan Sulawesi juga terlihat dari tingginya deforestasi. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mencatat sektor pertambangan dan perkebunan sawit menyumbang sekitar 82,2 persen deforestasi di Sulawesi sepanjang 2014โ€“2023.


Luas deforestasi akibat kedua sektor tersebut bahkan sekitar 18 kali lebih besar dibandingkan deforestasi yang berkaitan dengan pertanian ladang berpindah. Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa hilangnya tutupan hutan tidak semata-mata dapat dikaitkan dengan praktik pertanian masyarakat.


Kerusakan dalam skala besar justru berkaitan dengan ekspansi pertambangan dan perkebunan berskala industri. Perubahan tutupan hutan tersebut berjalan beriringan dengan perubahan struktur ekonomi di sejumlah wilayah Sulawesi.


Di Sulawesi Tengah, misalnya, kontribusi industri pengolahan dan pertambangan terhadap perekonomian meningkat dari sekitar 15,5 persen menjadi 55,8 persen dalam satu dekade. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun dari 34,3 persen menjadi 15,8 persen.


Peneliti CELIOS Viky Arthiando mengatakan perubahan tersebut bukan sekadar persoalan angka pertumbuhan ekonomi, melainkanย jugaย perubahanย dalamย hubunganย masyarakatย denganย alamย danย ruangย hidupnya.


โ€œMasyarakat semakin jauh dari alam dan akar kehidupannya, sementara ikatan sosial yang selama ini menjadi jaring pengaman perlahan memudar,โ€ ujarnya sebagaimana disampaikan melalui keterangan tertulis yang diterima NU Online pada Selasa (15/9/2026).


Nikel

Ekspansi industri nikel juga meningkatkan tekanan terhadap lingkungan. Sekitar 78 persen fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Sulawesi terkonsentrasi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Kedua provinsi tersebut juga menanggung 93,9 persen dari total kapasitas PLTU captive di Sulawesi yang mencapai 9.825 megawatt.


Listrik dari pembangkit tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri dan tidak dialirkan ke jaringan listrik publik. CELIOS menilai manfaat listrik terkonsentrasi di kawasan industri, sementara polusi dan risiko kesehatan ditanggung masyarakat di sekitarnya.


Industri nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara diperkirakan menghasilkan sekitar 32,8 juta ton limbah B3 setiap tahun. Pada saat yang sama, terdapat 269 titik penampakan tujuh spesies endemik yang berada di dalam atau berdekatan dengan wilayah izin pertambangan dan kawasan industri nikel.


Tekanan ekologis tersebut juga beriringan dengan persoalan kesehatan masyarakat. Wilayah sentra industri mencatat rata-rata 5.353 kasus ISPA dan pneumonia per tahun. Jumlah itu hampir dua kali lipat dibandingkan wilayah non-sentra yang mencatat 2.634 kasus.


Rata-rata kasus demam berdarah di kabupaten industri mencapai 47,5 kasus per tahun, sekitar tiga kali lipat dibandingkan wilayah non-ekstraktif yang mencatat 15,5 kasus.


Di sisi lain, kapasitas fasilitas kesehatan di wilayah sentra industri belum sebanding dengan beban tersebut. Wilayah sentra industri rata-rata hanya memiliki sekitar 85 puskesmas dan 59 rumah sakit, sedangkan wilayah non-sentra memiliki rata-rata 90 puskesmas dan 72 rumah sakit.


Kelayakan fasilitas kesehatan berdasarkan standar sarana, prasarana, dan alat kesehatan juga baru mencapai 74,35 persen, masih di bawah target 80 persen.