Warga Terdampak Gempa NTT Masih Bertahan di Tenda Tradisional, Trauma Belum Pulih
NU Online · Senin, 24 Agustus 2026 | 22:00 WIB
Kondisi warga terdampak gempa NTT yang masih tinggal di tenda tradisional di daerah Sambi Rampa, Kabupaten Manggarai, NTT. (Dok NU Peduli NTT)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memilih bertahan di tenda tradisional meski pemerintah telah menyalurkan tenda bantuan. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan penggunaan tenda serta trauma akibat gempa susulan.
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sikka Aklamin mengatakan kondisi itu ditemukan ketika pihaknya mendatangi sejumlah titik pengungsian.
Menurutnya, sebagian warga masih menggunakan tenda berbahan bambu karena belum terbiasa memasang tenda bantuan.
“Kita ke sana memang ada beberapa titik yang memang masih poskonya itu masih dengan bambu atau tendanya itu masih tradisional, hanya beberapa saja yang tersentuh pemerintah. Ketika pemerintah memberikan tenda juga tidak diajari bagaimana pengunaannya jadi mereka memilih kembali menggunakan tenda tadisional,” katanya kepada NU Online pada Senin (24/8/2026).
“Ketika kami datang, kami juga memberikan edukasi mendirikan tenda yang lebih canggih atau tenda yang bisa digunakan sekararang,” lanjutnya.
Aklamin mengatakan kesulitan pemasangan membuat warga kembali menggunakan tenda bambu. Rasa aman setelah gempa 15 Agustus 2026 juga menjadi pertimbangan di sejumlah titik terdampak di Kabupaten Sikka.
“Mereka masih bertahan di tenda karena memang mereka masih teringat gempa kemarin (15 Agustus 2026) yang suasananya persis kaya ketika gempa di NTT 1992,” ucapnya.
Ia menyampaikan bahwa trauma warga masih belum pulih, terlebih gempa susulan dengan magnitudo cukup besar masih terus terjadi.
“Setelah pasca itu masih ada goyang-goyangan atau masih sering adanya gempa susulan itu mereka merasa bahwa lebih baik kita di tenda daripada kita di dalam rumah gitu,” ucapnya.
Trauma itu juga dirasakan keluarga Aklamin. Ia menceritakan saat gempa terjadi setelah shalat Subuh, keluarganya segera keluar rumah untuk mencari tempat aman.
“Ketika gempa Sabtu kemarin itu saya posisi rebahan di kasur karena setelah shalat Subuh, istri saya memberi tahu bahwa di rumah miring-miring. Jadi, saya, istri, dan anak-anak langsung bergegas keluar dan mencari tempat yang jauh dari bangunan dan pohon,” tuturnya.
Menurutnya, anak berusia empat tahun pun mengalami trauma. “Anak saya yang usianya empat tahun juga trauma dari gempa kencang kemarin. Dia suka bilang ini masih sering goyang-goyang, kami takut. Anak kecil saja alami trauma apalagi yang dewasa,” ucapnya.
Terpopuler
1
PWNU Jateng Deklarasikan Muktamar Ke-35 NU yang Jujur, Bersih, Terbuka, Beradab
2
Data Terbaru Gempa NTT: 78 Meninggal Dunia, 907 Luka-Luka, 92 Ribu Warga Mengungsi, 4.256 Gempa Susulan
3
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
4
Karhutla Ancam Kalimantan, Pantauan Satelit BNPB Temukan 1.487 Titik Panas
5
Khidmah NU di Akar Rumput: Ketangguhan Keluarga menuju Indonesia Emas
6
PBNU Perluas Kolaborasi untuk Transformasi Pesantren
Terkini
Lihat Semua