Suatu malam, di ruang tamu sederhana, seorang ayah sedang berbincang dengan anak remajanya yang baru pulang dari sekolah. Di televisi sedang diberitakan kasus korupsi pejabat publik. Sang anak tampak murung.
Anak: “Ayah, kenapa ya banyak orang pintar dan kaya malah ditangkap karena korupsi? Bukankah mereka sudah punya segalanya?”
Ayah: “Pertanyaan bagus, Nak. Banyak orang cerdas gagal menjaga satu hal penting dalam hidup, yaitu integritas. Mereka bisa berilmu, bisa kaya, tapi kalau hatinya tidak jujur, semuanya bisa runtuh.”
Anak: “Integritas itu apa, Ayah?”
Ayah: “Integritas itu ketika ucapan, hati, dan perbuatan kita selaras dalam kebaikan. Ketika kamu bisa tetap jujur, walau tidak ada yang melihat. Kalau kamu berani bilang tidak untuk hal yang salah, itulah integritas.”
Anak: “Kalau begitu, bagaimana caranya supaya aku bisa jadi orang yang berintegritas dan tidak korupsi di masa depan?”
Ayah: “Pertama, mulai dari hal kecil. Misalnya, tidak mencontek saat ujian, tidak mengambil barang yang bukan milikmu, dan menepati janji walau kecil. Rasulullah SAW juga mencontohkan hal ini. Beliau dijuluki Al-Amin, artinya orang yang terpercaya, bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi.”
Anak: “Berarti integritas harus dilatih sejak muda ya, Yah?”
Ayah: “Betul sekali. Rasulullah SAW mendidik anak-anak di sekitarnya sesuai usia mereka. Lihat saja Siti Fatimah, putrinya yang dikenal jujur, penyabar, dan dermawan. Ada juga sahabat muda seperti Ibnu Abbas dan Anas bin Malik yang tumbuh jadi pemimpin dan ulama besar karena bimbingan Rasulullah.”
Anak: “Jadi, kalau aku ingin jadi pemimpin yang baik nanti, aku harus mulai dari hal-hal kecil dan jujur sekarang?”
Ayah: “Tepat sekali, Nak. Negara ini butuh generasi muda yang berintegritas. Jangan tergoda dengan uang haram, jangan ikut-ikutan kalau temanmu curang. Lebih baik sederhana tapi halal, daripada kaya tapi penuh dosa.”
Anak: (tersenyum pelan) “Insyaallah, Ayah. Aku tidak mau jadi koruptor. Aku mau jadi orang yang bisa dipercaya, seperti Rasulullah.”
Ayah: (menepuk bahu anaknya) “Itu baru anak Ayah. Ingat, Nak, integritas adalah warisan paling berharga yang bisa Ayah tinggalkan untukmu.”
Hadits riwayat Imam Baihaqi berikut mengisyaratkan bahwa Rasulullah SAW menerapkan metode pendidikan yang memperhatikan tahapan usia anak:
قال رسولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم -: مُرُوا الصِّبيانَ بالصَّلاةِ لِسَبعِ سِنينَ، واضرِبوهُم عَلَيها في عَشْرٍ، وفَرِّقوا بَينَهُم في المَضاجِعِ
Artinya: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (dengan pukulan mendidik) jika meninggalkannya saat berusia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka pada usia sepuluh tahun.” (HR. Imam Baihaqi).
Hadits ini menegaskan pentingnya metode pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Dalam konteks pembentukan integritas, prinsip yang sama dapat diterapkan. Nilai-nilai moral dan tanggung jawab harus dikenalkan secara bertahap agar tertanam kuat dalam diri anak sejak dini.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa masa yang paling tepat untuk menanamkan karakter dan nilai integritas adalah pada rentang usia 7 hingga 14 tahun, atau masa tamyiz. Pada fase ini, anak mulai mampu memahami nilai benar dan salah, serta belajar disiplin dan tanggung jawab.
وَمَهْمَا بَلَغَ سِنَّ التمييز فينبغي أَنْ لَا يُسَامَحَ فِي تَرْكِ الطَّهَارَةِ وَالصَّلَاةِ ويؤمر بالصوم في بعض أيام رمضان ويجنب لبس الديباج والحرير والذهب وَيُعَلَّمُ كُلَّ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ حُدُودِ الشَّرْعِ وَيُخَوَّفُ مِنَ السَّرِقَةِ وَأَكْلِ الْحَرَامِ وَمِنَ الخيانة والكذب والفحش وكل ما يغلب على الصبيان
Artinya: “Ketika seorang anak telah mencapai usia tamyiz (yakni mampu membedakan antara baik dan buruk), maka tidak boleh lagi dibiarkan meninggalkan bersuci dan salat. Hendaklah ia mulai diperintahkan untuk berpuasa pada beberapa hari di bulan Ramadhan, dijauhkan dari kebiasaan memakai kain sutra dan perhiasan emas, serta diajarkan segala hal yang ia butuhkan terkait hukum-hukum syariat. Ia juga harus ditakutkan dari perbuatan mencuri, memakan yang haram, berkhianat, berdusta, berkata keji, dan berbagai kebiasaan buruk lain yang sering muncul pada anak-anak,” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, [Beirut: Darul Ma'rifah, t.t.], jilid III, hal. 73—74).
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penanaman integritas bukan sekadar mengajarkan kejujuran, tetapi membentuk karakter menyeluruh melalui empat nilai utama berikut:
1. Menanamkan Kesederhanaan dan Menghindari Zona Nyaman
Anak perlu dibiasakan hidup sederhana dan tidak dimanjakan oleh kemewahan. Al-Ghazali memperingatkan bahwa kebiasaan hidup mewah akan menjerumuskan seseorang untuk mengejar kesenangan duniawi tanpa batas.
“Orang tua jangan membiasakan anak berada di zona nyaman dan tenggelam dalam kemewahan, sebab hal itu akan membuat mereka menghabiskan hidup untuk mengejar dunia dan akhirnya terjerumus dalam kerusakan.” (Ihya’ Ulumuddin, Jilid II, hlm. 72).
2. Menjauhkan Hati dari Keterikatan pada Materi
Cinta berlebihan terhadap harta adalah akar dari banyak keburukan, termasuk korupsi. Imam al-Ghazali menegaskan:
“Tanamkan kepada anak bahwa cinta dan tamak terhadap emas serta perak adalah keburukan yang harus dihindari, bahkan lebih berbahaya daripada racun.” (Ihya’ Ulumuddin, Jilid III, hlm. 73).
3. Menumbuhkan Sikap Qana‘ah (Rela dan Cukup)
Anak perlu diajarkan untuk menerima dengan lapang hati apa yang dimiliki. Qana‘ah menjaga hati agar tidak tamak dan tetap bersyukur.
“Sebaiknya orang tua menanamkan rasa senang mendahulukan orang lain dalam makanan, tidak berlebihan dalam urusan makan, dan bersikap qana‘ah terhadap apa yang ada.” (Ihya’ Ulumuddin, Jilid III, hlm. 72).
4. Memahami Dampak Pergaulan
Pada usia ini, anak mulai banyak berinteraksi dengan lingkungan luar. Oleh karena itu, orang tua wajib mengarahkan agar mereka bergaul dengan teman yang berakhlak baik.
“Anak-anak harus dijauhkan dari teman yang terbiasa hidup mewah dan sombong. Sebab, jika dibiarkan, mereka akan tumbuh menjadi pendusta, penghasut, dan berperilaku buruk.” (Ihya’ Ulumuddin, Jilid III, hlm. 72).
Secara keseluruhan, integritas tidak hanya berarti kejujuran dalam ucapan, tetapi juga meliputi kejujuran dalam sikap, niat, dan tindakan. Integritas yang kuat lahir dari pendidikan yang menanamkan kesederhanaan, ketahanan dari godaan materi, sikap qana‘ah, serta kesadaran akan pengaruh lingkungan.
Dengan pembiasaan nilai-nilai ini sejak dini, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, tidak mudah tergoda oleh kemewahan atau kekuasaan, serta memiliki tameng moral yang kokoh terhadap praktik korupsi. Itulah tujuan utama pendidikan integritas dalam Islam, membentuk generasi yang jujur, amanah, dan menjadi pelita bagi bangsa di masa depan.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Sekarang Aktif Menjadi Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.
