Banyak pernikahan yang retak bukan karena masalah besar, melainkan karena pasangan berhenti melakukan small gestures, yaitu perhatian kecil atau kasih sayang secara non-verbal yang menunjukkan kepedulian tanpa perlu tindakan besar. Gestur kecil ini membuat seseorang merasa disayangi dan diperhatikan. Saat gestur ini hilang, pasangan mulai merasa sendirian meski hidup bersama.
Masalahnya, banyak orang mengira cinta harus dibuktikan dengan sesuatu yang mahal. Harus membelikan berlian, ngajak liburan, atau memberi hadiah besar di momen tertentu. Padahal, yang sering dibutuhkan pasangan justru tindakan sederhana. Memberi sesuatu tanpa diminta, membantu tanpa disuruh, mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, dan menyingkirkan ponsel saat pasangan berbicara, merupakan bentuk perhatian sederhana yang memiliki dampak emosional nyata.
Small gestures ini tampak sepele, tapi justru dampaknya besar. Gestur ini memberi pesan yang jelas. Pasangan akan merasa dirinya penting, diperhatikan, dan dimengerti. Tanpa gestur ini, hubungan perlahan terasa dingin. Bukan karena cinta hilang, tapi karena perhatian berhenti ditunjukkan.
Dalam konteks ini, Rasulullah saw menjadi teladan dalam melakukan perhatian sederhana yang bermakna. Beberapa hadits menggambarkan bagaimana Rasulullah saw memperlakukan istri-istrinya dengan penuh kepedulian melalui tindakan sederhana. Tindakan kecil yang beliau lakukan ini menunjukkan kehadiran emosional yang nyata dan konsisten.
Salah satu contoh diriwayatkan dari Anas bin Malik ra dalam peristiwa perjalanan pulang dari penaklukan Khaibar. Hadits ini menggambarkan bagaimana Rasulullah saw secara langsung membantu Shafiyah ra saat hendak menaiki kendaraan. Tindakan tersebut mencerminkan perhatian beliau terhadap istrinya.
خَرَجْنا إلى المَدِينَةِ، قالَ: فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُحَوِّي لَها وَراءَهُ بِعَباءَةٍ، ثُمَّ يَجْلِسُ عِنْدَ بَعِيرِهِ فَيَضَعُ رُكْبَتَهُ، فَتَضَعُ صَفِيَّةُ رِجْلَها على رُكْبَتِهِ، حَتَّى تَرْكَبَ
Artinya, “Kami keluar menuju Madinah. Anas berkata, ‘Aku melihat Rasulullah SAW menyiapkan tempat duduk Shafiyah di belakangnya dengan kain, kemudian ia duduk di dekat untanya dan memosisikan lututnya, lantas Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga naik (ke unta).’” (HR. Bukhari)
Dalam hadits lain, Ali bin Husein ra meriwayatkan sebuah peristiwa yang kembali menunjukkan perhatian Rasulullah saw kepada istrinya. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi saw saat mendampingi istrinya pulang dari Masjid Nabawi.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَعِنْدَهُ أَزْوَاجُهُ فَرُحْنَ فَقَالَ لِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ لَا تَعْجَلِي حَتَّى أَنْصَرِفَ مَعَكِ
Artinya, “Suatu ketika Nabi SAW berada di masjid (Nabawi), sedangkan istri-istrinya ada di dekatnya kemudian mereka pulang. Rasulullah bersabda kepada Shafiyah binti Huyay: ‘Jangan buru-buru agar aku bisa pulang bersamamu.’ (HR. Bukhari)
Di dalam rumah, beliau juga memberikan perhatian yang nyata melalui keterlibatan langsung dalam urusan keluarga. Keteladanan ini tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Aswad ra dari Aisyah ra.
قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ، مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ قَالَتْ: كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ
Artinya, “Al-Aswad berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Aisyah: Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah saw di rumahnya?’ Aisyah berkata: ‘Beliau membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, maka apabila telah masuk waktu shalat beliau keluar untuk shalat.’” (HR. Al-Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa perhatian dan kasih sayang Rasulullah saw tidak terbatas pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret di dalam rumah. Keteladanan ini relevan untuk diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Perhatian sederhana dapat dilakukan dengan membawakan minuman, mencuci piring tanpa diminta, mengambilkan air, atau membantu membersihkan rumah. Tindakan ini membuat pasangan merasa diperhatikan, disayangi, dan dipahami dalam kehidupan sehari-hari.
Hal-hal kecil semacam ini tidak boleh diremehkan. Justru dari tindakan sederhana inilah rasa dicintai sering tumbuh dan terjaga dalam bahtera rumah tangga. Para ulama juga menjelaskan bahwa melayani urusan rumah tangga merupakan bagian dari teladan orang-orang saleh. Hal ini ditegaskan oleh Imam al-Barmawi:
أن خدمةَ الدارِ وأهلِها سنَّةُ عبادِ الله الصالحين
Artinya, “Melayani urusan rumah dan keluarga adalah sunah para hamba Allah yang saleh”. (Al-Barmawi, al-Lami’ as-Shahih, [Suria, Darul Nawadir: 2012], jilid XIII, halaman 495)
Selain itu, perhatian kecil dalam rumah tangga juga merupakan amal saleh yang memiliki nilai di sisi Allah swt. sekecil apa pun yang kita lakukan dalam menghadirkan keharmonisan rumah tangga tidak boleh dianggap remeh. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya: “Nabi saw bersabda, ‘Sungguh janganlah kamu memandang rendah suatu kebaikan pun, meski kamu sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.’” (Hadits riwayat Imam Muslim)
Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa keharmonisan pernikahan tidak bergantung pada hal-hal besar, melainkan pada perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten. Small gestures berfungsi menjaga keterhubungan emosional suami istri. Ketika perhatian diekspresikan melalui tindakan nyata, pasangan merasa dihargai dan dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari. Waallahu A’lam
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
