Obituari

Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat

NU Online  ยท  Selasa, 4 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat

Perupa Nasirun dalam satu sesi wawancara dengan NU Online (Foto: NU Online/Vedy Santoso)

Salah satu aspek mendasar dalam kehidupan Nasirun (1965-2026) sebagai seniman lukis papan atas Indonesia adalah tradisi tarekat di tengah keluarganya. Ayah dan saudara-saudaranya dalah para pengamal Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) melalui jalur KH Bustamul Karim. Namun, sebagaimana kultur santri pada umumnya, Nasirun jarang sekali membahas faktor tarekat dalam kehidupannya, bahkan ia cenderung menghindarinya dan selalu menegaskan dirinya bukan pengamal tarekat. Kecuali kepadaย beberapa teman dekatnya, ia akan menceritakan tentang makna dari kultur tarekat di tengah keluarganya bagi ย perjalanan hidupnya.ย 


Saya sendiri juga merasa risih membahas masalah tarekat, terlebih dalam konteks dunia seni rupa, dunia yang saya hindari dan tidak saya pahami. Bahkanย di lingkungan NU sekalipun banyak yang risih dengan tarekat. Namun, dalam konteks menulis (mengenang) tentang Nasirun, kultur tarekat dalam keluarganyaย merupakanย faktor tidak terhindarkan. Sebab baginya, dunia tarekat adalah seperti seni rupa, terutama karya seni dalam beragam bentuknya, yakni sebagai jalan memahami hidup yang tidak sepenuhnya bisa dipahami manusia dengan nalarnya.ย 


Dalam banyak pertemuan kami, muncul obrolan: mengamalkan tarekat adalah upaya sesorang memiliki kesadaran konstan di dalamย pembekuan suasana ruang-waktu, ingat (eling) bahwa tidak semua aspek hidup bisa dipahami, soal kesadaran akan keterbatasan manusia mengarungi kehidupannya yang kompleks. Aspek terpenting, para salik atau pengamal tarekat (satu level di atas santri dan satu level di bawahย kewalian) berlaku kaidah โ€œfa kaanal โ€˜ilmu lahu โ€˜ainanโ€, bahwa dalam melihat realitas, mereka tidak terbelenggu logosentrisme. Melihat lukisan misalnya, mereka melampui teks, simbol dan mereka melihat dan merasakan sesuatu yang lebih kompleks dari sebuah karya seni.ย 


Beberapa pengalaman saya menyaksikan bagaimana hal yang demikian ada dalam dirinya. Suatu sore saya ke rumahnya kisaran tahun 2017. Ada beberapa tamu bule waktu itu. Setelah tamu pamit, kami ngobrol di bagian belakangan rumahnya. Dengan vulgar ia mengatakan, โ€œsaya ini perwujudan paling remeh dari doanya KH Bustamul Karim (Mbah Bustam), bapak dan ibu saya.โ€ Tamu bule yang baru pergi itu seorang yang kaya dari Selandia Baru dan berkeinginan membeli banyak lukisannya dan berniat menzakatinya sejumlah karya perupa terkenal dunia. โ€œAlam bekerja karena doa orang saleh,โ€ katanya sore itu.ย 


Kemudian, setahun lalu, saya mampir sore hari ke rumahnya di Bayeman, Yogyakarta. Kami duduk di kursi panjang bagian belakang ruang utama rumahnya. Tidak lama putri sulungnya, Ima, menghampiri, menunjukkan kepadanya bahwa ada invoice pembayaran beberapa lukisan. Ima berkomentar, โ€œKok bisa, Ayah?โ€ย Nasirun menjawab, โ€œEyang putrimu bukan orang biasa, Nduk.โ€ Kami pun ngakak bersama.ย 


Dalam kehidupan Nasirun, tiga orang yang sering kali diceritakannya kepada saya dan penting disinggung di sini, terutama KH Bustamul Karim, ayah, dan ibunya.


Penting juga menyebutkan bahwa, pertemuan awal saya dengan Nasirun bukan karena urusan dunia seni, melainkan karena kekaguman saya kepada sosok Allahuyarham KH Bustamul Karim tersebut.ย 


Dia seorang mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah kelahiran dusun di Lengkong, Wonoresik, Wonosari, Kebumen, Jawa Tengah. Letaknya tak jauh dari Pesantren al-Kahfi di dusun โ€œangkerโ€ Somolangu, salah satu pesantren tua di Jawa Tengah dan dikenal sebagai salah satu pusat dari tarekat Syaziliah di Jawa. Ia lahir pada 1890 dan wafat di Lampung pada 1971.ย 


Sebagai guru-mursyid, Mbah Bustam mengajarkan tarekat secara tidak umum. Setiap malam ia membaca dzikir khusisiyat (Hawijangkan-an) bersamaย beberapa muridnya sambil mengepal nasi di genggaman tangannya. Kemudian membagikannya ke muridnya sambil terus merapal rangkaianย dzikir sampai selesai. Nasi yang dikepal itu berasal dari beras-beras yang tercecer di tempat penggilangan padi. Setelah dzikir bareng, Mbah Bustam nantinya kembali ke mushala bambunya melanjutkan dzikir yang panjang. ย 


Dan, Nasirun kecil biasanya pura-pura tidur di depan pintu mushala Mbah Bustam itu. โ€œSaya mendengarkan โ€˜Hasbunallah wa niโ€™mal wakilโ€™ dirapal Mbah Bustam sampai waktu subuh,โ€ kata Nasirun. Begitu membuka pintu, Mbah Bustam membangunkannya dengan suara agak keras dan menyuruhnya pulang. Hardikan Mbah Bustam diyakininya sebagai berkah.


Mbah Bustam dikenal banyak membangun masjid di sekitaran Cilacap. Para muridnya meneladaninya dengan banyak membangun sumur untuk keperluan air masyarakat di pedesaan bagian selatan Jawa Tengah. Di suatu Kawasan, misalnya di sebuah kecamatan, murid Mbah Bustam tidak pernah banyak, tapi mereka solid dan bertemu secara intens satu dengan lain.ย 


Kemudian Mbah Bustam mewajibkan uzlah kepada murid-muridnya. Gayung bersambut melalui โ€˜wasilahโ€™ program transmigrasi pada masa Orde Baru. Banyak muridnya pindah sejumlah titik di pulau Sumatera. Termasuk kakak-kakak Nasirun ada yang ke Aceh, Sumatera Selatan, dan Riau. Transmigrasi ditafsirkan sebagai โ€˜uzlahโ€™ ke daerah sepi, menjauh dari keramaian, mencari ketenangan beribadah dan berzikir (eling) kepada Gusti Allah.ย 


Mbah Bustam mendapatkan ijazah kemursyidan (ijazatul-irsyad) dari Allahuyarham KH Husein Zamakhsyri dari desa Parid, Kawunganten, Cilacap. Ia menerima ijazah kemursyidan dari Kiai Siradj yang tinggal di Johor Baru, Malasyia, tapi asli Purworejo. Ia ย menerima ijazah kemursyidan dari Kiai Zarkasyi Berjan, Purworejo.ย 


Melihat rangkaian sanad Mbah Bustam tersebut, membuat saya paham kenapa Nasirun sangat menghormati turunan Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo: Pesantrenya KH Chalwani, Rais Aly JATMAN atau asosiasi tarekat muโ€™tabarah NU hari ini.ย 


Belakangan, Nasirun mengambil banyak amaliah harian kepada Kiai Soleh Bahauddin, Pesantren Ngalah, Purwosari, Malang, yang dikenalnya melalui perantara keluarga Sampoerna Surabaya. Saya pernah bertanya padanya, โ€œMasih ada po kiai yang โ€œsaktiโ€ seperti Mbah Bustam?โ€ Spontan dijawabnya, โ€œMasih banyak lah, jenengan tahu pasti. Menurut saya Mbah Soleh Ngalah di antaranya,โ€ jawabnya.ย 


Dalam banyak wawancara dan obrolan dengan banyak orang, Nasirun sering menyebut bahwa ayahnya adalah khalifah TQN dalam sanad Mbah Bustam. Namun, banyak temannya meragukannya. Tidak sedikit pula teman-teman dekatnya mengaitkan tradisi keislaman kelurganya dengan model Islam Kanan. ย 


Ayahnya bernama Sanrustan. Dari banyak ceritanya, jelas menunjukkan bahwa keluarganya dari jalur ayah adalah keluarga santri. Di sekitaran Adipala atau Cilacap, Kiai Sanrustan termasuk murid senior Mbah Bustam sehingga masuk akal kalau ayahnya benar seorang khalifah.ย 


Sedangkan ibunya, Mbah Supiyah, adalah seorang penganut Sunda Wiwitan yang teguh. Keluarga kakek-nenek Nasirun dulu dibantu mengurus pekerjaan rumah tangga oleh satu keluarga yang mereka anggap keluarga sendiri, dan itu adalah orang tua dari ibunya. Ayahnya menikahi Mbah Supiyah tanpa pernah meminta meninggalkan tradisi Sunda Wiwitan-nya. Namun, setahun sebelum suaminya wafat, Mbah Supiyah berubah dalam keseharian, sering terlihat menjalankan Islam sebagaimana keluarga santri di Jawa.ย 


Sosok ibunya yang paling mempengaruhi Nasirun. Ia tak pernah menolak keinginan apalagi melawan ibunya. Sang ibu adalah jimat hidupnya. Berkali-kali ia mengatakan kepada bahwa ibunya bukan perempuan biasa. โ€œTitisโ€, katanya. Tidak berlebihan kalau kemudian pada tahun 2009 ia menggelar pameran tunggal โ€œSalam Bektiโ€ di Galeri milik perupa Putu Sutawijaya di Nitiprayan.ย 


Ketika pembukaan pameran itulah saya melihat Nasirun menegaskan siapa dirinya. Ia ingin memberikan persembahan kepada ibunya sekaligus ingin mengatakan, โ€œRusak-rusak begini saya ini santri.โ€ Waktu itu, ketika semua tamu undangan sudah duduk rapi dalam pembukaan pamerannya, panitia kebingungan karena Nasirun belum keliatan. Tiba-tiba dia muncul naik sepeda ontel, memakai kopiah, sarungan, dan (terpenting) memakai baju kemeja seragam Maโ€™arif NU di kampungnya.ย 


Selain ibu, nama lain yang sering disebutnya adalah Kiai Sam Bustam, teman seperguruan ayahnya di bawah bimbingan Mbah Bustam. Setiap menceritakan nama itu kepada saya, terlihat sekali ekspresinya seperti merasakan kehadirannya. Saya sempat ragu, tapi tidak pernah menanyakan, apakah Kiai Sam Bustam ini berbeda dengan ayahnya, Kiai Sanrustan.ย 


Ketika heboh โ€œlukisan gorenganโ€ di awal kariernya, Mbah Sam Bustam tiba-tiba muncul tanpa berkabar terlebih dahulu. Begitupun ketika Nasirun baru selesai membangun rumahnya yang sekarang, tiba-tiba ia muncul tanpa memberi kabar. Lalu memintanya membeli kunyit yang banyak dan menggilingnya. Kemudian ia menebar kunyit itu ke seluruh sisi rumahnya di Bayeman. Setelah selesai, ia pamit pulang dan tidak mau diantar.


Salah satu kaidah ajaran tarekat Mbah Bustam yang luar biasa adalah kewajiban para muridnya bekerja atau menetapi maqom kasbi, bekerja, mencari rahasia Gusti Allah dalam keringat. Kaidah ini sepertinya dijalankan Nasirun sekeluarga. Mereka tidak anti pernik duniawiah, tapi tidak mau tergores duniawi. Kakak dan saudaranya tidak pernah merepotkannya secara finansial. Sering kali pemberian materinya ditolak oleh mereka. Sejak sukses jualan lukisan, Nasirun biasanya menyisihkan uang untuk membelikan kakak-kakaknya seperti kulkas, televisi, tape, dan sepeda motor di perantauan Sumatera.ย 


Suatu kali tahun 2017-an kakak sulung datang ke rumahnya. Nasirun bermaksud mengumpulkan saudaranya yang di rantau dan meminta mereka kembali ke Adipala, Cilacap, karena sudah pada berumur. Ketika bercakap di ruang tamu, kakaknya mengatakan kepadanya,ย 


โ€œDik, kalau nyong ditanya, apakah saya bersyukur kamu kaya, saya sangat bersyukur. Tapi kalau kamu anggap saya kaget dengan kekayaanmu, sama sekali tidak. Semua barang yang kamu belikan tidak pernah saya pakai. Semua masih dengan bungkusnya. Kalau kamu meminta saya kembali ke Cilacap, apa kamu mampu menjamin saya bisa beribadah dengan tenang?โ€ย 


Nasirun langsung mengacungi jempol kepada kakaknya sambil ger-geran.ย 


Kaidah lain dari Mbah Bustam adalah mewajibkan muridnya menetapi ketidakpopuleran, anti-populer. Para muridnya tidak boleh membuka pengajian sebagaimana para kiai kampung umumnya. Mereka diminta hidup biasa saja seperti masyarakat umum. Tidak perlu menenteng tasbih ke mana-mana. Beberapa teman ayah Nasirun adalah orang alim mengaji kitab-kitab kuning, tetapi setelah Mbah Bustam pindah ke Lampung dan wafat di sana, mereka tidak berani membuka pengajian untuk umum.ย 


Namun, ada satu teman ayahnya yang melanggar kaidah ini. Ia membuka madrasah dan pengajian umum. Madrasah dan pengajiannya cepat sekali ramai. Lalu, tidak berapa lama ia sakit. Sebelum wafat, ia meminta Nasirun membeli semua barang berharga miliknya.ย 


Kaidah tidak terlihat dan tidak perlu dikenal ini, tampaknya sisa dari Naqsyabandiyah yang merupakan derivasi dari tradisi Uwaisiyah ataupun Malamatiya.


Warisan spiritual dari jalur tarekat dan Sunda Wiwitan tampaknya menjadi salah satu sumber energi kreatif dan mempengaruhinya memahami realitas secara visual. Saya menangkap magisme dalam banyak karyanya, tepatnya cara Nasirun mempraktikkan memetik-magis, tidak saja meminjam, meniru atau memindah figur dari wayang, rajah, figur-seram (bhuto) dalam kosmologi Jawa, kaligrafi-Jawa, atau cerita lain dalam tradisi, tapi praktik memetik juga memindahkan energi atau kekuatan tradisi ke dalam kanvas. Ada vibrasi energi dalam pilihan warna tebal, liar, dan tebal. Mimesis tidak sekadar memindahkan gambar tapi juga kekuatanya sehingga tampak lebih hidup.ย 


Ambil saja karyanya secara sembarangan, misalย "Mitos dan Legenda Alas Pasetran Gondo Mayit" (2002), terlihat kepadatan materiilnyaโ€”tumpukan cat yang tebal (impasto), goresan warna yang saling bertabrakan, kecemasan dalam garis, dan tekstur yang pekat.ย 


Estetika Nasirun tidak hanya bekerja sebagai cerita, tetapi sebagai pengalaman visual yang murni dan merangsang indra. Batas-batas jenis visual dihancurkan. Ia meleburkan simbol rajah mistis, kaligrafi pseudo-Arab/Jawa, motif batik, figur wayang kulit, hingga coretan visual ala graffiti dan pop art. Nasirun mengejar aspek magis dengan praktik memetik dengan bahan baku tradisi dan modernitas yang sangat dipahaminya.ย 


Saya melihat karya-karyan sebagai penimbunan visual (compulsive visual accumulation). Kanvasnya yang penuh sesak (horror vacui) mencerminkan bagaimana visualitasnya bekerja secara meluap-luap dan tak tertampung satu bingkai logika saja. Ia sangat menyadari lukisan atau karya seni bukan teks semata, terbatas oleh logosentrisme, tapi aspek kepadatan materil dan pengetahuan tak terlihat nalar yang biasa disebut sebagai tacit knowledge dalam praktik seni.ย 


Selamat jalan, Mas Nasirun...


Mataram, Senin 3 Agustus 2026


Hasan Basri Marwah, penulis,ย pegiat, dan pemerhati budaya kelahiranย Pagutan,ย Nusa Tenggara Barat, pengurus Lesbumi PBNU