Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
NU Online ยท Rabu, 1 April 2026 | 08:17 WIB
Ridwan al-Makassary
Kolumnis
Di tengah dentuman perang Iran, ada satu gema yang tidak berasal dari ledakan rudal. Gema itu terbit dari ruang batin kolektif dunia Arab melalui lagu lawas โWein al-Malayeenโ. Penyanyinya adalah Julia Boutros, seorang Kristen Maronit dari Lebanon selatan, dengan nada bersemangat dan menggugat. Ini beberapa cuplikan lirik lagu tersebut:
Di manakah, di manakah?
Tuhan bersama kita, lebih kuatย
dan lebih besar dari kaum Zionis.
Mereka menggantung, membunuh,ย
mengubur, dan mematikan.ย
Tanahku tidak akan dipermalukan.
Darah merahku mengairi tanah hijauย
dengan rasa lemon.
Api revolusi tidak akan padam.ย
Kita adalah pemenangnya.
Lagu ini kembali beredar di sosial media, menjadi semacam kidung kebangsaan informal di kalangan orang-orang tertentu, termasuk di Indonesia, di mana mereka yang tak pernah secara resmi mendukung Iran, namun, tiba-tiba ikut merasakan getarannya di tengah dentuman perang yang membentang dari Teheran hingga Haifa.
Pertanyaan tersebut dalam konteks perang hari ini tampaknya menjadi subversif. Karena ia tidak diarahkan kepada musuh eksternal, namun, kepada dunia Arab yang tampak terjebak dalam dilema sekuritas (security dilemma) antara loyalitas pada Amerika Serikat atau solidaritas kepada Iran.
Orang Arab yang pro AS-Israel tampaknya kini terjatuh dalam โdilema pasir hisapโ (quicksand dilemma). Pada satu sisi, AS membutuhkan mereka untuk memenangkan perang. Pada sisi lain, orang Arab takut bahwa kemenangan itu akan menghancurkan mereka. Karenanya, tidak ada skenario menyenangkan bagi mereka. Kalah menjadi abu, menang menjadi arang.
Perang Iran, sejatinya, bukan hanya konflik antara negara. Ia akumulasi dari sejarah panjang intervensi, rivalitas, dan luka yang belum kering. Dari Irak hingga Suriah, Yaman hingga Lebanon, Timur Tengah telah lama menjadi ruang kompetisi di mana kekuasaan global dan regional bersua secara brutal. Namun, di balik semua itu, satu hal yang menghilang adalah hilangnya โdarah, kebanggaan dan kemarahanโ orang Arab di tengah perang yang berkecamuk. Di tengah kehancuran fasilitas dasar (sekolah, rumah sakit dan rumah tinggal) dan ribuan nyawa tak berdosa berguguran di Tanah Iran. Di sinilah lagu ini menemukan momentumnya kembali.
Dunia Arab hari ini tampak seperti masyarakat yang lelah untuk marah, pragmatis dan kehilangan harga diri. Setelah beberapa dekade konflik berlangsung tanpa akhir, kemarahan tidak lagi menjadi energi transformasi, melainkan beban emosional yang sulit dipikul. Ia tidak hilang, namun, ia kehilangan ruang politik untuk diekspresikan secara bermakna. Dan, ketika kemarahan kehilangan ruang, ia menemukan ruangnya pada musik.
Sejarah menunjukkan bahwa dalam situasi di mana ruang politik menyempit, ekspresi seni dan budaya justru menguat. Lagu menjadi arsip emosi yang tidak bisa disensor sepenuhnya. Ia bergerak melintasi batas negara, dan juga melindas rasa takut individu. Dalam konteks ini, lagu ini bukan sekadar lagu Lebanon. Ia adalah suara lintas batas, suara Arab yang terfragmentasi, namun, sedang mencari resonansi bersama.
Kebangkitan kembali lagu ini di tengah perang Iran menunjukkan bahwa konflik tidak hanya dipahami melalui narasi geopolitik, namun, juga melalui narasi emosional. Orang-orang tidak hanya bertanya siapa yang menang atau kalah, namun juga apa arti semua ini bagi dunia global?
Dan, acap pertanyaan itu tidak menemukan jawabannya di ruang konferensi internasional atau pidato politik. Ia justru menemukan bentuknya dalam lagu, puisi, dan bisikan-bisikan kolektif yang sulit ditangkap oleh statistik perang.
Namun, tidak semua kemarahan adalah kekuatan. Kemarahan yang tidak terarah dapat dengan mudah dimanipulasi dan menjadi bahan bakar bagi propaganda, ekstremisme, atau bahkan konflik baru. Di sinilah letak paradoksnya. Dunia Arab tidak hanya menghadapi krisis kemarahan yang hilang, namun juga krisis kemarahan yang salah arah.
Baca Juga
Ketika Perang Diberi Nama Tuhan
Lagu ini berdiri di antara dua krisis. Ia tidak menghasut, namun ia juga tidak menenangkan. Ia mengingatkan bahwa kemarahan, jika masih ada, harus ditemukan kembali, bukan sebagai ledakan emosional, namun sebagai kesadaran moral.
Dalam konteks perang Iran, ini penting, oleh karena konflik ini berpotensi memperluas fragmentasi regional, memperdalam polarisasi, dan memperpanjang siklus kekerasan. Tanpa kesadaran kolektif yang mampu membaca konflik ini secara kritis, masyarakat hanya akan menjadi penonton, dan juga menjadi bagian dari narasi yang mereka tidak sepenuhnya pahami.
Di sinilah musik memainkan peran yang tidak bisa diremehkan. Ia bukan solusi, namun, ia adalah pemantik. Julia Boutros, dengan caranya yang tenang, namun, tajam, tidak sedang memberikan jawaban kepada dunia Arab. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang mungkin terlalu lama dihindari, di mana Orang Arab yang mengandalkan jasa pengamanan pada AS, namun, berakibat menghancurkan tetangganya Iran.
Perang Iran mungkin akan berakhir cepat atau lambat, entah melalui negosiasi/diplomasi, kelelahan, kemenangan sepihak dan kekalahan yang menghancurkan. Namun, pertanyaan yang diajukan oleh lagu ini akan terus menghantui ruang-ruang publik dan privat, menunggu untuk dijawab.
Pungkasannya, di tengah perang yang pastinya akan meninggalkan luka, darah dan kematian di Iran, lagu ini menggugat, โdi manakah jutaan orang Arab?โ.ย
Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
4
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
5
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
6
Zakat Profesi ASN: Antara Standar Nisab dan Legalitas Pemotongan Gaji dalam Perspektif Fiqih
Terkini
Lihat Semua