Kiai dan Kuda Besi: Jejak Motor Kiai Wahab Chasbullah dan KH Abdullah Ubaid
NU Online · Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:37 WIB
Isfandiari MD
Kolumnis
Bikers atau juga disebut psycocyle punya role model yang jadi inspirasi mereka. Uniknya idola mereka juga bersentuhan dengan santri-santri pesantren. Walau beda habitat, keduanya kagum pada dua sosok yanng sama, KH. Wahab Chasbullah, salah satu muasis (pendiri) Nahdlatul Ulama (NU) dan, tokoh NU lainnya, KH Abdullah Ubaid, kiai muda, peturing sejati…
Dalam moment anniversary bikers atau saat hang out, dua tokoh ini sering jadi bahan obrolan. Diskusi motor apa yang mereka pakai, turing kemana saja dan romantisme dakwah mereka berkeliling pesantren-pesantren utamanya di tanah Jawa.
Dalam catatan, Kiai Wahab atau KH Ubaid ditelusuri memakai Harley-Davidson atau produk lansiran Inggris seperti BSA, Norton atau Royal Enfield. Makin banyak dibahas Harley Davidson terutama jenis the forty five (45 cu) dan dalam cc masuk ke 750 cc, entah versi sipil ataupun militer. Beberapa meraba, mereka memakai big twin yang populer di era itu, seperti Knuckelhead, Panhead atau Shovelhead. Sayang keterangan detailnya belum didapat.
Kisah Kiai Wahab atau akrab disapa Mbah Wahab dalam lingkungan santri tentu sudah banyak tercatat. Sejak pulang dari tanah suci Makkah (1914), mendirikan Tashwirul Afkar (1918 lantas Nahdlatul Wathan (1916) dan Nahdlatut Tujjar (1924). Masuk 1926, Mbah Wahab mengundang para kiai Ahlussunah wal Jamaah berkenaan dengan semakin gencarnyaa paham Wahabi di tanah Hijaz (Arab sekarang-red). Sepakat dirikaan Komite Hijaz dan mengirim utusan demi kebebasan mahzab.
Moment penting terjadi, nama utusan yang disepakati adalah jam’iyah Nahdlatul Ulama sebagai lembaga yang mengutus komite Hijaz, berangkat 1928, beliau dan Syekh Ghanaim Al -Mishry. Tak heran, Kiai Saifuddin Zuhri menyebut Mbah Wahab sebagai pendiri NU.
Titik ketertarikan para bikers mungkin beda. Di mata mereka ia adalah legend dari motorcycle enthusiast. Tergambar sosok alim yang riding dengan motor kaletogi riders item. Motor mahal di zamannya, hanya dimiliki orang berkantong tebal. Begitulan, motor berkelas hanya bisa didapat lewat distributor resmi di Jakarta atau Surabaya, impor langung dari pabrik asalnya. Biasanya dimiliki para mandor kebun, tuan tanah atau pengusaha sukses di zaman itu.
Mbah Wahab selain kiai memang memiliki kemampuan membeli itu semua. Bahkan tak hanya motor, koleksi muscle car juga menjadi hobinya di dunia otomotif. Motor-motor sekelas Birmingham Small Arm (BSA) Gold Star, Ariel Red Hunter, Norton Commando, Big Twin Harley-Davidson bisa saja jadi tunggangan favorit mbah Wahab.
Hal ini pernah diceritakan santri sepuh Pesantren Tambakberas Jombang atau putra beliau Kiai Hasib Wahab Chasbullah betapa ayahandanya gandrung sepeda motor berkelas.
Dalam literatur ada ditulis, seperti buku Tradisionalisme Radikal-Persinggungan NU-Negara karya Greg Fealy. Ada dikatakan Mbah Wahab memang mengkoleksi motor dan muscle car. Greg Fealy bilang,” Kiai Wahab salah seorang dari sedikit orang Islam yang punya mobil Amerika dan motor Harley Davidson.Ia sangat terkenal, semua orang tertaik melihatnya mengendarai motor dalam kecepatan tinggi berkeliling di daerah dengan mengenakan sarung, jaket, dan sorban putih," tulisnya.
Baca Juga
Sorban Diponegoro Kiai Wahab Chasbullah
Di samping itu, beliau juga tokoh di bidang olahraga sebagai pendiri Persatuan Sepakbola Himpunan Muslimin (PSHM) era 50-an berpusat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dengan tujuan mulia, sarana dakwah, mempererat persaudaraan antara kalangan santri dan pemuda setempat.
Tokoh kedua yang menonjol adalah KH Abdullah Ubaid, lahir di Kawatan, Surabaya 4 Jumadil Akhir 1318 H/1899 M. Two wheelers setiap era tak henti memberpincangkan tokoh ini. Postur tegap, ganteng, gagah dan selalu ditemani Harley-Davidson dalam setiap giatnya. Tampilan beliau sangat beda dengan kiai-kiai lain. Dalam setiap pertemuan organisasi NU, kedatangannya unik karena selalu didahului suara Harley yang menggelegar.
Kiai bikers ini bukan tokoh sembarangan. Menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Al Khoiriyah, Ampel surabaya. Kemudian meneruskan nyantri di Pondok Syaikhona Kholil bangkalan, lalu belajar pada Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang. Ia salah satu teman dekat KH Machfudz Siddiq, yang kelak menjadi Ketua Umum PBNU. Beliau pernah menjadi guru di Madrasah Nahdlatul wathan (membantu KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Mas Mansur) dan Madrasah Al Khoiriyah yang bahasa pengantarnya menggunakan Bahasa Arab. Semangatnya yang kuat dalam berorganisasi, mendorong dirinya untuk mendirikan organisasi pemuda bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) di Surabaya.
Beliau juga jurnalis andal. Pernah menjadi Sekretaris Redaksi majalah tengah bulanan “Berita Nahdlotoel Oelama” dengan Pemimpin Redaksinya KH. Machfudz Siddiq dan juga menjabat Ketua Sidang Pengarang di Majalah Kemudi. Tahun 1932 menjadi Ketua Persatoean Pemoeda Nahdlotoel Oelama (PPNO) di Surabaya, yaitu cikal bakal Gerakan Pemuda Ansor.
Dalam perjalanannya, PPNO menjelma menjadi PNO (Pemoeda Nahdlotoel Oelama) dan berubah lagi menjadi ANO (Ansoru Nahdlotoel Oelama) ANO juga memiliki sayap kepanduan bernama BANO (Barisan Ansoru Nahdlotoel Oelama). Barulah dalam Muktamar ke-9 di Banyuwangi (1934) ANO resmi diakui masuk ke dalam NU. Tahun 1949 ANO berubah lagi namanya menjadi GP (Gerakan Pemuda) Ansor sampai sekarang.
Hampir seluruh hidup, pikiran dan tempat tinggalnya disumbangkan untuk gerakan kepemudaan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Bakatnya banyak, wartawan, guru, pemain musik, juga seorang mubaligh menyuarakan perjuangan jamannya. Beliaulah orang pribumi yang mendapat kesempatan mengisi pengajian rutin di radio Nirom, milik pemerintah Hindia Belanda, populer dan fansnya banyak.
Baca Juga
Sepenggal Kisah Abdullah Ubaid
Di usia muda (39 tahun, menyandang jabatan bergengsi di kalangan NU, sebagai Voorzetter HBNO (semacam Konsul PBNU), Vice Voorzetter PB ANO (Wakil Konsul), A’wan, Dakwah HBNO, Administrateur Berita Nahdlotoel Oelama dan beberapa jabatan penting lainnya.
Sebenarnya nama aslinya hanyalah Abdullah, karena diangkat anak oleh KH Yasin pasuruan, ditambahkan Ubaid (isim tashgir dari Abdu, yang berarti abdullah kecil), untuk membedakan dengan salah satu putra Kiai Yasin sendiri, yang juga bernama Abdullah.
Dalam gaya bahasa bikers,akhir hidupnya juga sangat legend. Saat belum genap 40 tahun, KH Ubaid berpulang pada sang pencipta melalui kecelakaan motor sepulang hadiri Muktamar Nu ke 13 di Menes Banten (1938). Di moment itu beliau mewakili utusan PCNU Surabaya dari unsur Tanfidziyah, dan KH Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU) mewakili Syuriah. Saat turing pulang, Harley-Davidsonya terpeleset dan jatuh di daerah Pekalongan Jawa Tengah, pada 20 Jumadil Akhir 1357 Hijriah atau 8 Agustus 1938 masehi. Jenazahnya lantas dibawa dan dimakamkan di Pemakaman Islam Tembok, Surabaya.
Setelah wafat, harta termasuk termasuk Harley-Davidson kesayangannya dihibahkan untuk organisasi. Hanya sebuah mesin jahit yang menjadi peninggalan keluarganya. Dengan mesin jahit itu, istri tercinta, Nyai Syafi’ah berjung menghidupi 7 anak yang masih kecil-kecil. Bahkan si bungsu. Ali Ubadi masih berumur 33 hari saat ditinggal ayahandanya.
Legend never fades away. Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Abdullah Ubaid tak akan terlupakan dalam berkhidmat kepada umat termasuk keunikannya di dunia otomotif.
Isfandiari MD, pendiri club motor Outsiders, penulis buku Outsider, Kisah Para Penunggang Motor ditulis bersama Iwan Rasta
Terpopuler
1
Masyarakat Adat Kalimantan Timur Ungkap Penolakan Proyek Karbon Bank Dunia
2
Khutbah Jumat: Makna Kemerdekaan yang Hakiki dalam Islam
3
Wacana Ketua Umum PBNU Dipilih Lewat AHWA, Rais Aam: Semua Dikembalikan ke Muktamirin
4
Khutbah Jumat Kemerdekaan: Mengenang Jasa Pahlawan, Melanjutkan Perjuangan
5
Khutbah Jumat: Hindari Kemaksiatan dalam Perayaan Kemerdekaan
6
Innalillah, Sesepuh Buntet Pesantren KH Hasanuddin Kriyani Wafat
Terkini
Lihat Semua