Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Shalawat Luthf: Penulis, Sejarah, dan Faedahnya

Shalawat Luthf: Penulis, Sejarah, dan Faedahnya
Shalawat Luthf: Penulis, Sejarah, dan Fedahnya
Shalawat Luthf: Penulis, Sejarah, dan Fedahnya

Di antara penyebab ketenangan dalam hidup adalah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Dengan membaca shalawat, seseorang juga memiliki harapan besar untuk bisa mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

 

Shalawat sendiri adalah doa atau pujian yang dipanjatkan kepada Rasulullah, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan kepadanya sebagai satu-satunya makhluk paling mulia di sisi Allah swt. Ragam bacaan shalawat sangat variatif. Para ulama dari masa ke masa telah banyak meninggalkan shalawat khasnya yang dijadikan wirid oleh generasi setelahnya.

 

Selain itu, ada beberapa shalawat yang pada kenyataannya tidak berasal dari tulisan atau amalan tersendiri, tidak pula berasal dari rangkaian kata yang disusun untuk memuji Nabi Muhammad saw, namun bersumber langsung dari Rasulullah. Ada yang diberikan melalui mimpi, dan ada pula yang langsung diberikan secara nyata kepada hamba-hamba pilihan yang telah memiliki kedekatan secara khusus dengannya.

 

Ada banyak shalawat yang pada kenyataannya bersumber langsung dari Rasulullah, di antaranya shalawat Basyairul Khairat, shalawat Adhimiyah, shalawat Luthf, dan beberapa shalawat lainnya. Dan pada kesempatan ini, penulis akan menjelaskan sejarah dan keutamaan dari shalawat Luthf.

 

Shalawat Luthf merupakan salah satu shalawat yang tidak jauh berbeda dari shalawat lainnya, yang berisikan doa dan sanjungan kepada Rasulullah. Berikut teks Arab, transliterasi, dan artinya,

 

اَللّٰهُمَّ صَـلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ صَلَاةَ أَهْلِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ عَلَيْهِ وَأَجْرِ يَا مَوْلَانَا لُطْفَكَ الْخَفِيَّ فِيْ أَمْرِيْ وَأَرِنِيْ سِرَّ جَمِيْلِ صُنْعِكَ فِيْمَا اٰمِلُهُ مِنْكَ يَا اَللهُ يَا سَمِيْعُ يَا قَرِيْبُ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

 

Allâhumma shalli 'alâ sayyidinâ muammad wa `alâ âlihi shalâta ahlis samâwâti wal aradlîna `alaihi wa ajri yâ maulânâ luthfakal khafiyya fî amrî wa arinî sirra jamîli shun`ika fî mâ âmiluhû minka yâ allâh uâ samî`u yâ qarîbu yâ rabbal `âlamîn(a)

 

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Muhammad ﷺ, dan kepada keluarganya, dengan rahmat para penghuni langit dan bumi. Jalankaniah kelembutan-Mu yang tersembunyi dalam urusanku, wahai Tuhanku. Tampakkanlah kepadaku rahasia keindahan penciptaan-Mu dalam sesuatu yang kuharapkan dari-Mu. Ya Allah, wahai Yang Maha Mendengar, wahai Yang Mahadekat, wahai Tuhan seluruh keberadaan.”

 

Shalawat di atas sangat masyhur dengan sebutan shalawat Luthf, yaitu salah satu shalawat kepada Nabi Muhammad yang dinisbatkan kepada Sayyid al-Imam al-Arif Billah Abdullah al-‘Alami.

 

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abul Fadl al-Muradi bahwa Sayyid Abdullah al-‘Alami merupakan salah satu ulama yang memiliki garis keturunan ke Rasulullah. Ia menekuni ilmu tasawuf mengikuti jejak kakeknya, Sayyid al-‘Alami. Selain tasawuf, ia juga istiqamah dalam membaca wirid, shalawat, dan lebih senang menghindar dari keramaian manusia (khalwat). Ia lebih senang menjalin interaksi dengan Allah hingga akhir hayatnya.

 

Para ulama sejarah tidak ada yang menulis secara pasti perihal tahun kelahirannya, namun Imam al-Muradi menengarai bahwa umurnya berkisar 80 tahun dan wafat pada tahun 1181 Hijriah. (Imam al-Muradi, Salkud Durar fi A’yanil Qurunits Tsani ‘Asyar, [Dar Ibnu Hazm, cetakan ketiga: 1408], juz I, halaman 432).

 

Sejarah Shalawat Luthf

Secara umum, shalawat Luthf hanya dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-’Alami, bukan langsung darinya, bukan pula karyanya sendiri yang diajarkan kepada murid-murid dan pengikutnya. Namun, di balik adanya shalawat ini terdapat peran penting darinya.

 

Sayyid Abdullah al-’Alami selain dikenal sebagai keturunan Rasulullah melalui jalur Sayyidina Husain, ia juga memiliki jalinan interaksi dan hubungan yang sangat dekat dengannya. Dalam sejarahnya, ia tidak hanya bisa bertemu dengan kakeknya di waktu tidur (mimpi), namun juga sering didatangi di waktu ia terbangun. Bahkan, di tempat ia menyendiri (khalwah), juga sangat sering bersama Rasulullah.

 

Hubungan dekat itu akhirnya menjadi penyebab di balik adanya shalawat Luthf. Tepat dalam suatu kesempatan, Rasulullah mengajarkan shalawat ini kepadanya secara langsung dan nyata, bukan dalam mimpi, sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Muhammad Shadiq,

 

وَمِنْهَا اَلصَّلَاةُ اَلَّتِيْ لَقَّنَهَا النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُشَافَهَةً اَلسَّيِّدَ عَبْدِ اللهِ اَلْعَلَمِي: اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ صَلَاةَ أَهْلِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ الخ...

 

Artinya, “Di antara bacaan shalawat adaah shalawat yang diajarkan Nabi Muhammad saw secara langsung kepada Sayyid Abdullah al-’Alami, yaitu: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dan kepada keluarganya, dengan rahmat para penghuni langit dan bumi, (sebagaimana yang telah disebutkan di atas).” (Sayyid Muhammad, Nuzulul Abrar bil ‘Ilmil Ma’tsur minal Ad’iyah wal Adzkar, [Mathba’ah al-Jaraib: 1301], halaman 199).

 

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa shalawat ini murni shalawat langsung dari Rasulullah melalui Sayyid Abdullah al-’Alami. Dengan demikian, sudah sepatutnya untuk istiqamah membaca dan mengamalkannya. Lantas, apa saja faedah dan keutamaan membaca shalawat ini? Mari kita bahas lebih lanjut.

 

Faedah Shalawat Luthf

Membahas perihal faedah membaca shalawat, tentunya akan mendapatkan pahala dari Allah swt dengan pasti, tanpa perlu diragukan kembali. Selain itu, juga bisa menjadi salah satu media untuk mendapatkan syafaat dari Rasulullah kelak di hari kiamat. Namun, shalawat tidak hanya perihal pahala saja, juga terdapat banyak faedah yang akan dirasakan oleh orang-orang yang membacanya ketika ada di dunia, termasuk shalawat Luthf.

 

Sayyid Ahmad bin al-Ma’mun al-Balghitsi (wafat 1348 H) dalam salah satu kitabnya menjelaskan bahwa di antara faedah shalawat Luthf adalah mampu hilangkan kegelisahan, dan mampu menggampangkan semua kebutuhan manusia,

 

هَذِهِ الصَّلَاةُ لِتَفْرِيْجِ الْكرُوْبِ وَقَضَاءِ الْحَوَائِجِ أَيًّا كَانَتْ. وَذُكِرَ أَنَّ ثَوَابَهَا وَاحِدَةً بِخَمْسَةَ عَشَرَ أَلْفًا

 

Artinya, “Shalawat (Luthf) ini (faedahnya) untuk menghilangkan kesedihan (kesusahan, kesukaran), dan untuk mengabulkan kebutuhan-kebutuhan, apa saja bentuk (kebutuhan)nya. Dan disebutkan, bahwa pahala membacanya satu kali, (akan mendapatkan pahala) lima belas ribu.” (Sayyid Ahmad, Majlal Ahrar wal Haqaiq fima Yata’allaqu bish Shalati ‘ala Khairil Khalaiq, [Beirut, Darul Kutubil Ilmiah], halaman 83).

 

Demikian sejarah singkat dan faedah dari shalawat Luthf. Dengan mengetahuinya, semoga kita bisa istiqamah dalam mebacanya serta segala kesusahan dan kegelisahan bisa segera dihilangkan oleh Allah swt, Amin.

 

Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Shalawat/Wirid Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×