NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Dari Ucapan Terima Kasih, Lahir Kepercayaan Diri Anak

NU Online·
Dari Ucapan Terima Kasih, Lahir Kepercayaan Diri Anak
Ilustrasi ibu dan anak. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Relasi orang tua dan anak bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan fisik, tetapi membangun ruang batin yang sehat. Ucapan terima kasih dan apresiasi tulus dari orang tua, meski sederhana, berperan besar dalam membentuk kepercayaan diri dan harga diri anak. Pengakuan atas usaha anak bukan hiasan kata, melainkan fondasi psikologis yang memengaruhi kualitas hidupnya di masa depan.

Sejak lahir, anak tidak hadir sebagai kertas kosong, melainkan membawa fitrah dan potensi kesucian yang dianugerahkan Tuhan. Karena itu, anak bukan objek pasif dalam pengasuhan, melainkan subjek bermartabat yang layak dihargai. Pandangan ini sejalan dengan sabda Nabi SAW bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, sebagaimana hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عن أبي هريرة انه كان يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ‌مَا ‌مِنْ ‌مَوْلُودٍ ‌إِلَّا ‌يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Tidak ada seorang anak pun kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi,” (HR. Muslim).

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan suci, sementara orang tualah yang berperan menentukan arah pembentukan kepribadiannya. Karena itu, orang tua memegang peran krusial sebagai pengasuh utama yang bertanggung jawab menjaga kesucian fitrah anak agar tidak terdistorsi oleh pengaruh lingkungan. 

Dalam Islam, anak dipandang sebagai amanah, titipan suci dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya pada Surah At-Tahrim ayat 6.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir-nya memberikan interpretasi terhadap ayat tersebut sebagai berikut:

أمر الله -والأمر للوجوب- بأن يقي المؤمنون أنفسهم النار بأفعالهم، وأهليهم بالنصح والوعظ والإرشاد. وهذا يتطلب الالتزام التام بأحكام الشرع أمرا ونهيا، وترك المعاصي وفعل الطاعات، ومتابعة القيام بالأعمال الصالحة، وحث الزوجة والأولاد على أداء الفرائض واجتناب النواهي، ومراقبتهم المستمرة في ذلك

Artinya: "Allah memerintahkan, dan perintah di sini bermakna wajib, agar orang-orang mukmin menjaga diri mereka sendiri dari api neraka melalui amal perbuatan mereka, dan menjaga keluarga mereka dengan nasehat, wejangan, serta bimbingan. Hal ini menuntut komitmen penuh terhadap hukum-hukum syariat, baik dalam menjalankan perintah maupun menjauhi larangan; meninggalkan kemaksiatan dan mengerjakan ketaatan; terus-menerus melakukan amal saleh; serta mendorong istri dan anak-anak untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agama, menjauhi hal-hal yang dilarang, dan melakukan pengawasan yang berkelanjutan terhadap mereka dalam hal tersebut," (Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid. XXVIII, hal. 320).

Syekh Wahbah menegaskan bahwa keselamatan dari neraka bukan semata urusan pribadi, melainkan tanggung jawab kepala keluarga terhadap mereka yang berada di bawah asuhannya. Mendidik keluarga bukan tugas sesaat, tetapi proses pengawasan berkelanjutan agar nilai-nilai syariat tetap hidup di dalam rumah.

Kesadaran sebagai pemegang amanah ini menuntut orang tua untuk mengedepankan kasih sayang dan penghormatan, bukan pola asuh otoriter yang dapat melukai harga diri anak. Pendidikan yang sehat bertumpu pada cinta, kelembutan, dan kesabaran. 

Berangkat dari sini, ucapan terima kasih dan apresiasi orang tua bukan hal sepele, melainkan bentuk pengakuan atas martabat anak sebagai individu yang dimuliakan Allah. Prinsip ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

Artinya, “Kami tidak menganggap orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua,” (HR. Imam Tirmidzi).

Kepercayaan diri anak tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi terbentuk melalui interaksi harian dengan orang tua. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan paling awal memberi pengaruh besar terhadap cara anak memandang dan menghargai dirinya. Setiap apresiasi dan ucapan terima kasih dari orang tua berfungsi sebagai cermin sosial yang membuat anak merasa keberadaannya bernilai, sehingga rasa percaya diri tumbuh secara alami.

Kajian psikologi perkembangan menegaskan bahwa masa kanak-kanak merupakan fase emas pembentukan kepribadian. Pada tahap ini, tutur kata dan sikap orang tua mudah terserap dan menjadi dasar cara anak menilai diri serta dunia sekitarnya. Apresiasi sederhana, seperti pengakuan atas usaha, pelukan, atau kata-kata positif, bukan sekadar basa-basi, melainkan nutrisi emosional yang meningkatkan kebahagiaan dan memperkuat kepercayaan diri anak.

Berbagai riset juga menunjukkan bahwa kualitas relasi orang tua dan anak berbanding lurus dengan tingkat harga diri anak. Pola asuh yang menghargai proses, bukan hanya hasil, membantu anak memahami bahwa nilai dirinya tidak bersifat transaksional. Secara biologis, pengakuan ini merangsang hormon serotonin yang menstabilkan emosi dan menekan kortisol, sehingga anak terhindar dari stres kronis yang dapat menghambat perkembangan otaknya.

Sebagai langkah praktis, orang tua dapat membiasakan ritual syukur sebelum tidur dengan kalimat sederhana namun hangat, seperti, “Terima kasih ya, Nak, tadi sudah membantu Ibu.” 

Pada akhirnya, ucapan terima kasih orang tua kepada anak bukan sekadar etika sosial, melainkan kebutuhan mendasar bagi pertumbuhan jiwa mereka. Islam menempatkan kasih sayang dan syukur sebagai nilai ibadah, sementara psikologi modern menegaskan dampak nyatanya terhadap pembentukan kepribadian. Melalui apresiasi, orang tua bukan hanya mendidik anak, tetapi merawat amanah Ilahi agar tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Wallahu a’lam.

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Artikel Terkait