Kisah Alqamah, Sahabat Nabi yang Mendurhakai Ibunya
NU Online ยท Jumat, 23 Desember 2022 | 07:00 WIB
Alqamah merupakan sahabat nabi yang lebih mementingkan istri daripada ibunya sendiri. (Ilustrasi: nu online)
M. Tatam Wijaya
Kolumnis
Sebagai gambaran bagaimana beratnya balasan orang yang melukai perasaan ibu, pernah ada seorang sahabat namanya โAlqamah. Ia seorang yang sangat taat kepada Allah, tekun beribadah, tak pernah tertinggal puasa dan shalatnya. Tak terkecuali zakat dan sedekahnya. Namun, di penghujung hayatnya, ia kesulitan mengucapkan kalimat Lฤย ilฤha illallฤh.
Setelah dilaporkan dan ditelusuri oleh Rasulullah saw, โAlqamah masih memiliki seorang ibu yang sudah tua dan hatinya pernah terluka gegara sikapnya. Menurut sang ibunda, โAlqamah terlalu lebih perhatian dan lebih mementingkan istrinya ketimbang ibunya. Itulah sebabnya, saat sakaratul maut, lidah โAlqamah kelu tak bisa mengucap kalimah thayyibah.ย
Untungnya, Rasulullah saw. segera memintakan ampunan kepada sang ibunda untuk โAlqamah. Demi membuka pintu maaf sang ibunda, beliau sempat meminta para sahabat mengumpulkan kayu bakar untuk membakar โAlqamah.
Mendengar demikian, jiwa keibuan ibunda โAlqamah pun bangkit dan hatinya pun luluh. Ia merasa tidak tega jika harus melihat jasad sang anak dibakar hidup-hidup di depan mata. Hingga akhirnya ia rela memaafkan โAlqamah daripada melihat jasadnya hangus terbakar api. Rasulullah saw menyampaikan kepada sang ibunda, โDuhai ibu, api akhirat jauh lebih pedih ketimbang api dunia.โ
Setelah dimaafkan, โAlqamah pun dengan mudahnya menghembuskan nafas terakhir seraya mengucap kalimah Lฤ ilฤha illallฤh. (Lihat: Syekh Zainuddin al-Malaibari, Irsyadul-โIbad, halaman 91).
Seorang โAlqamah saja yang taat ibadah kepada Allah, berada di ambang kematian suโul khatimah, bagaimana dengan orang yang durhaka kepada Allah dan orang tua? Bagaimana orang yang terus membangkang dan selalu menyakiti perasaan orang tua?ย
ย ย
Sungguh ini pelajaran berharga bagi siapa pun yang masih memiliki sikap buruk kepada orang tuanya. Sekaligus pelajaran bagi siapa pun yang menginginkan kematian husnul khatimah.
Di momen Hari Ibu ini, marilah kita sama-sama mengubah sikap buruk kita kepada orang tua, terlebih kepada ibu kita. Doakan yang terbaik jika mereka sudah tiada. Bahagiakanlah mereka. Jika belum mampu membahagiakan, setidaknya jaga ย sikap dan perkataan kita agar tidak melukai perasaan mereka. Sebab, balasan dan ancamannya sangatlah berat dan merugikan kita di dunia dan akhirat. Wallahu โalam.
Ustadz Tatam Wijaya, alumnus Pondok Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim โSyubbanul Muttaqinโ Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Jihad Generasi Muda dalam Mengisi Kemerdekaan Indonesia
2
RAPBN 2027 untuk Program MBG Capai Rp240 Triliun, Setara 29 Persen dari Anggaran Pendidikan
3
Khutbah Jumat: Jangan Nodai Kemerdekaan dengan Kemaksiatan
4
RAPBN 2027 Tembus Rp4.097,2 Triliun, DPR: Harus Berdampak dan Menjawab Harapan Rakyat
5
Gus Ipul Targetkan DPT Muktamar Ke-35 NU Rampung 17 Agustus 2026, Sebut Progres SK 95 Persen
6
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
Terkini
Lihat Semua