NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Kopi dalam Khazanah Islam Klasik

NU Online·
Kopi dalam Khazanah Islam Klasik
Ilustrasi biji kopi. Sumber: Canva/NU Online.
Siti Isnaini
Siti IsnainiKolomnis
Bagikan:

Di era sekarang, alkohol bukan lagi pilihan utama generasi muda. Gen Z yang dulu menjadi target industri minuman keras justru beralih ke gaya hidup yang dianggap lebih sehat. 

Berbagai survei menunjukkan, mayoritas Gen Z memilih minuman non-alkohol saat bersosialisasi. Kopi dan matcha menjadi teman nongkrong, belajar, hingga melepas penat. Tren ini bukan hanya menurunkan konsumsi alkohol secara konsisten, tetapi juga menggoyahkan relevansi industri minuman keras.

Namun, kebiasaan ngopi sejatinya bukan sekadar tren gaya hidup. Jauh sebelum menjadi identitas sosial Gen Z, kopi telah memiliki sejarah panjang, nilai budaya, dan keistimewaan tersendiri.

Bahkan yang sempat viral di media sosial, dan memang kisah ini tercatat dalam literatur keislaman, kopi juga dikaitkan dengan kisah spiritual. Syekh Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi meriwayatkan perjumpaannya dengan Nabi Muhammad dalam keadaan terjaga. Ia meminta hadits secara langsung, lalu Nabi SAW bersabda bahwa selama aroma kopi masih tercium dari mulut seseorang, para malaikat memohonkan ampunan baginya. Hadits ini tercantum dalam Fawaidul Mukhtarah karya Zain bin Ibrahim bin Smith.

Tentunya, menyoal kisah di atas, sebagai pembaca kita jangan langsung memercayai bahwa hadits tersebut valid, sebab riwayat-riwayat hadits yang dinilai valid dan autentik sendiri dalam Islam harus memenuhi lima syarat Shahih berupa ittishal sanad, 'adl, dhabht, 'adamusy syudzudz wal 'illah.

Namun yang memunculkan pertanyaan adalah: mengapa kopi begitu istimewa? 

Salah satu penjelasan dikaitkan dengan asal-usul kopi yang berkembang di Yaman, meskipun penulis belum menelusuri keabsahan kisah tersebut. Dalam Fawaid al-Mukhtarah disebutkan bahwa kopi tidak bermula dari Ethiopia sebagaimana anggapan umum, melainkan dari Yaman, dengan kisah mitologis yang mengaitkannya pada peristiwa gangguan bangsa jin di wilayah al-Makha.

Penduduk mengadu kepada Syekh Ali bin Umar asy-Syadzili, yang kemudian mendapat ilham dan perintah Nabi SAW dalam mimpi untuk mengonsumsi kopi. Dari sanalah kopi ditanam, berkembang, dan diyakini menjadi sebab terhentinya gangguan jin dengan izin Allah.

Selain dimensi spiritual, kopi juga menjadi simbol pertukaran budaya global. Dari Yaman, kopi menyebar ke dunia Islam melalui jalur perdagangan. Di sisi lain, teh telah lama mengakar dalam budaya Tiongkok, sementara susu menjadi bagian penting tradisi konsumsi Eropa. Kopi, dengan demikian, bukan hanya minuman, tetapi simpul perjumpaan budaya lintas peradaban (Awalia Rahma, Budaya Minum Kopi di Jawa Abad ke-19 hingga Paruh Pertama Abad ke-20: Gaya Hidup dan Identitas [Disertasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016], hlm. 112).

Keistimewaan kopi ini bahkan diabadikan dalam syair Syekh Ali bin Umar al-Syadzili, yang dikenal dengan julukan Syekh Qahwah al-Bunniyah.

قَهْوَةُ الْبُنِّ يَا أَهْلَ الْغَرَامِ * سَاعَدَتْنِي عَلَى تَرْكِ الْمَنَامِ
وَأَعَانَتْنِي بِعَوْنِ اللَّهِ عَلَى * طَاعَتِهِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
قَافُهَا قُوَّةٌ وَالْهَاءُ هُدًى * وَوَاوُهَا الْوُدُّ وَالْهَاءُ هُيَامٌ

Artinya: "Kopi biji wahai penduduk Gharam * (Kopi) telah membantuku untuk tidak tidur. Dan (Kopi) telah membantuku sebab pertolongan Allah * Untuk taat kepada-Nya, sementara orang-orang tertidur pulas. Qaf-nya (Lafad قهوة) bermakna kekuatan, Ha'-nya bermakna petunjuk * Wawu-nya bermakna kasih sayang, Ha'-nya bermakna cinta yang meluap-luap." (Zain bin Ibrahim bin Smith, Fawaidul Mukhtarah [Pasuruan, Maktabah Darul Lughah wad Dakwah, 2008], hlm. 332).

Menukil dari kalam Ibnu Abdillah as-Samarani dalam kitab Irsyadul Ikhwan karya Syekh Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi, bahwa kopi memiliki lima manfaat, sebagaimana yang dijelaskan dalam syairnya:

عَلَيْكَ بِأَكْلِ الْبُنِّ فِي كُلِّ سَاعَة * فَفِي الْبُنِّ لِلْأَكْلِ خَمْسُ فَوَائِد 
نَشَاطٌ وَتَهْضِيْمٌ وَتَحْلِيْلِ بُلْغَمٍ * تَطِيْبُ أَنْفَاسٍ وَعَوْنٌ لِقَاصِدٍ

Artinya: "Hendaklah engkau mengonsumsi kopi setiap waktu, karena pada kopi terdapat lima manfaat: memberi semangat, melancarkan pencernaan, menghilangkan dahak, menyegarkan napas, serta membantu mewujudkan harapan." (Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi, Irsyadul Ikhwan [Kediri, Maktabah al-Ihsan, 2017], hlm. 16). 

Penjelasan lebih lanjut dalam kitab Irsyadul Ikhwan adalah kopi dapat mengurangi waktu tidur pada orang yang tidak terbiasa meminumnya, dan semakin seseorang terbiasa meminumnya, semakin sedikit pengaruhnya terhadap dirinya. Kopi yang dikonsumsi dengan gula, menjadikan efek kopi tersebut muncul secara perlahan dan ringan, namun jika diseduh kopi tanpa gula, maka manfaat dan dampaknya lebih kuat.

Manfaat kopi untuk kesehatan juga didukung oleh data dalam beberapa artikel kesehatan, bahwa kopi merupakan sumber utama antioksidan, khususnya poliphenol dari keluarga chlorogenic acid. Poliphenol mengurangi risiko terhadap penyakit kronik dan penyakit “degeneratif” seperti kanker, diabetes tipe 2 dan penyakit kanker (Hye-Chang Kim, Seong-Rae Kim, dan Un-Ju Jung, “Coffee and Its Major Polyphenols in the Prevention and Management of Type 2 Diabetes: A Comprehensive Review,” International Journal of Molecular Sciences 26, no. 12, 2025: 5544).

Pada akhirnya, pergeseran minat generasi muda dari alkohol menuju kopi tidak dapat dipahami semata sebagai perubahan selera atau tren gaya hidup. Fenomena ini justru membuka kembali kesadaran bahwa kopi sejak lama telah dimaknai sebagai minuman yang sarat nilai, manfaat, dan keberkahan, baik dari sisi spiritual, kultural, maupun kesehatan. 

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, secangkir kopi hadir bukan hanya sebagai teman begadang atau simbol pergaulan, tetapi sebagai warisan yang menghubungkan manusia dengan tradisi, ibadah, dan upaya merawat diri. Dengan demikian, menguatnya budaya ngopi hari ini seakan menjadi penegasan ulang bahwa kopi memang layak disebut sebagai si hitam penuh keistimewaan.

Siti Isnaini, Alumni Kelas Menulis Keislaman NU Online 2025.

Kolomnis: Siti Isnaini
Tags:kopi

Artikel Terkait