Di sana-sini, nama Darmi tercoreng. Akibatnya, kiri-kanannya enggan berbicara kepada perempuan desa itu. Tetangganya terpaksa mendengarkan pembicaraan yang berulang. Hal itu disebabkan kebiasaan Darmi membahas menantu pertamanya
Ada saja cara untuk menyebut menantu tersebut. Mulai dari pribadi, keluarga atau bahkan teman-temannya. Tema menantu seakan-akan tidak ada habisnya.
Suatu ketika, dia mengatakan bahwa sang menantu akan bisa menjadi tokoh terkenal karena banyak orang-orang bertamu. Bahkan, terkadang tamu tersebut pulang hingga larut malam. Hilir mudik tamu itu mengundang tanda tanya para tetangganya. “Minimal dia bisa menjadi kepala desa suatu hari nanti,” puji tetangganya kepada Darmi.
Cita-cita Darmi, putri sulungnya harus menikah dengan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Berbulan-bulan ditunggu, pria yang melamar tidak sesuai harapan. Mereka hanya berstatus honorer, pegawai kontrak atau pegawai perusahaan swasta.
Maka, Darmi dan keluarganya menolak dengan alasan putrinya mau melanjutkan pendidikan atau meniti karir terlebih dahulu. Sebuah alasan yang dibuat masuk akal sehingga tidak menyinggung perasaan sang pelamar. Maklum, sang putri adalah gadis paling pandai saat sekolah menengah. Pantas jika Darmi memilihkan calon terbaik untuk putrinya. “Perempuan memang harus selektif,” katanya.
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
Karena lelaki idaman tidak kunjung tiba, datanglah seorang pemuda yang sudah bekerja di kantor desa. Penampilannya meyakinkan. Awal kunjungan, pemuda itu membawa sebuah sepeda motor keluaran terbaru. Karena takut putrinya jadi perawan tua, Darmi mengalah dengan keadaan. Tidak apalah, yang terpenting calon tersebut seorang pegawai kantoran dan bukan petani seperti suaminya.
Darmi merasa capek menjadi istri seorang petani. Suaminya sering bercerita bahwa petani selalu menjadi objek penderita dari kebijakan. Mereka disebut dalam kampanye tapi, nasibnya tidak berubah setelah calon tersebut menjabat. “Harga-harga itu buktinya, Bu. Petani menjual padi dengan harga murah, namun harga beras sangat tinggi.”
Pada saat lamaran, pemuda itu meminta kepala desa menjadi juru bicara. Keluarga Darmi terpukau lalu menerima lamaran tanpa syarat. Jadilah, putrinya menikah dengan pemuda biasa, bukan ASN.
“Yu Darmi pasti senang punya menantu seorang pegawai?” tanya Ngatini salah satu tetangganya.
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
“Pasti, Yu. Dulu, cita-citaku menantu harus pegawai negeri. Tapi, tak apalah pegawai di desa. Yang penting, dia punya jabatan. Nanti, gaji pasti naik. Aku bisa punya sepeda motor baru, kursi atau pakaian baru,” jawab Darmi panjang lebar.
“Ya. Nanti, Yu Darmi bisa bergaya biar kelihatan muda. Begitu kan, Yu?” kata Ngatini berniat melambungkan Darmi.
Ngatini sebenarnya enggan berbicara kepada tetangganya yang senang bila dipuji. Tapi, apa boleh buat, masak ketika berbicara kepada seseorang dia harus protes atas pernyataannya. Tidak patut, bukan?
Terpaksa? Ya, begitulah. Hidup harus nrimo ing pandum. Ngatini menganggap Darmi adalah makhluk Tuhan yang perlu diberi ruang untuk mencurahkan perasaannya. Setidaknya, dia perlu membual sedikit untuk melambungkan hati Darmi. Bukankah menyenangkan hati orang berpahala?
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
“Ya, Yu Tini. Apa yang kita cari selain menyenangkan diri. Betul kan? Ngomong-ngomong, menantuku akan menjadi penarik Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Biasa, tugas dari Pak Kades. Bukankah kabar ini membahagiakan?”
“Wah, hebat. Itu sebuah pencitraan gratis. Mahal, lho membuat citra baik sekarang. Pintar, menantumu, Yu?” puji Ngatini.
“Bener, kan? Dia memang menantu kebanggaan. Tidak harus seorang pegawai negeri. Yang penting, dia pintar menata karier,” ungkap Darmi.
Bosan dengan pembicaraan itu, Ngatini menyela. “Eh, Yu Darmi, aku mau belanja. Jangan lupa besok Minggu waktunya khataman.”
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
Jika pembicaraan tidak ditutup dengan cara halus, Ngatini takut menyinggung perasaan tetangganya. Itulah caranya. Dia khawatir jika diteruskan, pembicaraan itu bisa berlangsung berjam-jam.
Sebenarnya, dia sudah menerima keadaan dan menganggap kebiasaan Darmi sebagai sebuah hiburan. Tapi, kali ini hiburan itu cukup baginya. Minimal, dia merasa beruntung. Perilakunya tidak seperti tetangganya yang suka memamerkan kebahagiaan sehingga menyakiti pendengarnya. Yakni, kebosanan karena topik berulang.
Lain halnya dengan Ngatini, Darmi justru merasa senang. Dia tidak merasa bersalah atas pembicaraan tersebut. Diingatkan untuk khataman adalah sebuah peluang. Besok, dia bisa bercerita panjang lebar kepada jamaah yang datang. Tentu, dengan topik yang sama yakni sang menantu kebanggan.
Narti, salah satu jamaah khataman, sudah hafal dengan perilaku Darmi. Setelah lelah mengaji, dia beristirahat di luar rumah. Dia diam seribu bahasa ketika Darmi mendekat. Sebaliknya, Darmi membuka pembicaraan.
“Yu, sudahkah diminta pembayaran PBB oleh menantuku?”
“Belum, Yu,” jawab Narti.
Narti malas melanjutkan. Ada rasa enggan ketika Darmi menyebut menantunya. Sebagai sarana mencairkan suasana, dia meraih pisang goreng lalu memakannya.
Sambil mengunyah, dia berkata. “Enak pisang goreng ini, Yu.”
Baca Juga
Cerita Pendek: Perjanjian Kedua Iblis
“Aku kenyang,” jawab Darmi.
Komentar Narti tentang makanan ringan itu tidak ditanggapi oleh Darmi. Akhirnya, kedua orang jamaah itu duduk bersandar sambil memandang halaman milik tuan rumah. Pepohonan di pekarangan itu memanjakan mata. Warna dedaunan membuat mata yang lelah karena mengaji menjadi segar.
Narti membatin. Darmi selalu saja membicarakan menantunya. Membayar PBB bukankah bisa diselesaikan lewat pembayaran digital. Sekarang, zaman sudah berubah. Pembayaran bisa diselesaikan di mana pun. Bank-bank dan toko-toko menerima apa saja, apalagi cuma PBB.
“Ah, itu alasan yang dibuat untuk menyebut menantunya!”
Baca Juga
Cerita Pendek: Alhamdulillah
“Menurut Yu Narti bisakah menantuku menjadi kepala desa?” tanya Darmi tiba-tiba.
Narti tidak terkejut dengan pertanyaan orang di sampingnya. Sesuai perkiraan, Darmi menyebut menantunya. Tapi, dia mencoba tersenyum. Paling tidak, tersenyum bisa mengendurkan otot wajahnya. Lalu, dia menarik nafas dalam. Dia berusaha menjawab dengan kalimat tanpa emosi.
“Wah… bisa jadi anggota DPR, Yu,” puji Narti.
Darmi tersenyum puas. Niat memamerkan kini terwujud. Jawaban Narti semakin menyenangkannya.
Baca Juga
Cerita Pendek: Gambar Buatan
“Anggota DPR? Mantuku semakin terkenal. Dia akan muncul di TV. Pernyataan-pernyataannya akan diteruskan dan menjadi buah bibir,” batin Darmi.
Narti puas. Kalimatnya mengena. Sebaliknya, Darmi masih tersenyum. Lalu, dia berkata.
“Berarti, mantuku orang pintar ya, Yu?”
“Pintar sekali,” puji Narti
Baca Juga
Cerita Pendek: Nyeser
“Tidak salah aku pilih menantu?”
“Tidak salah. Tepat sekali,” jawab Narti.
Dia sedikit kesal sebenarnya. Namun, dia tetap menuruti Darmi.
“Kalau menjadi Presiden bisa, Yu?”
Pertanyaan Darmi aneh. Rasanya, dia mengada-ngada. Atau, dia mulai terpancing dengan bualan demi menyenangkan hatinya? Kata Narti dalam hati.
Daripada terlibat pembicaraan yang dia tidak suka, Narti ingin segera berlalu. Tapi, apa kata-kata untuk menutup pembicaraan yang semakin mengasyikkan Darmi?
“Orang pintar pasti menemukan cara agar menjadi presiden. Sudah Yu, aku mau mengaji,” tutup Narti.
“Terus, bagaimana caranya?” tanya Darmi yang sudah terpancing untuk berbicara lebih banyak.
“Sudah, Yu Darmi. Aku ingin melanjutkan mengaji. Tidak enak ngobrol berlama-lama di luar,” tutup Narti.
Darmi menelan ludah. Ada kekecewaan tampak dari raut wajahnya. Akibat kalimat penutup tersebut, dia tidak bisa melanjutkan pembicaraan lagi. Sebaliknya, Narti masuk ke dalam rumah dan mengambil Al-Qur'an. Dia membukanya lalu menyimak untuk bisa mendapat giliran sebagai pembaca berikutnya. Salah satu anggota jamaah itu senang karena menutup pembicaraan dengan cara yang bijaksana. “Semoga Darmi bisa berpikir tentang kebiasaannya,” batin Narti.
Jember, 9 September 2026
M Ali Albalya lahir di Jember, 17 April 1981. Meraih gelar Sarjana Sastra di jurusan Sastra Inggris Universitas Jember dan mantan wartawan Tabloid Mahasiswa Ideas Fakultas Sastra (kini: Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Jember. Tulisannya dimuat di Majalah Bobo, NU Online, titian.id, Radar Jember (Grup Jawa Pos), Majalah Tabilla MAN 1 Jember, Majalah Matan milik Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Koran Suara Rakyat Lumajang. Selain menulis, kegiatannya adalah berdagang di rumahnya.