Khutbah Jumat: Kemarau Panjang, Saatnya Muhasabah dan Ikhtiar
NU Online · Jumat, 18 September 2026 | 06:00 WIB
M. Syarofuddin Firdaus
Kolumnis
Musim kemarau tahun ini lebih panjang dari biasanya. Sudah berbulan-bulan sejumlah wilayah di Indonesia tidak diguyur hujan. Akibatnya, kekeringan terjadi di mana-mana, termasuk kelangkaan air yang semakin banyak ditemukan di berbagai tempat. Sebagaimana kita ketahui, air merupakan kebutuhan primer bagi seluruh manusia.
Sebagai kebutuhan primer, persoalan ketersediaan air tentu perlu dicarikan solusi di tengah krisis yang melanda agar kehidupan tetap dapat berjalan dengan baik. Khutbah Jumat kali ini mengusung tema, “Kemarau Panjang, Saatnya Muhasabah dan Ikhtiar.” Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas desktop. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ، وَبِكَرَمِهِ تُقْبَلُ الْعَطَايَا وَالْعِبَادَاتُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ، الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ، الْمُرْسَلِ إِلَى كَافَّةِ الْمَخْلُوْقِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَتِهِ الْأَطْهَارِ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِالْاِبْتِعَادِ مِنَ الْأَشْرَارِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di antara bentuk untuk meningkatkan ketakwaan adalah membangun kesadaran atas ketidakberdayaan kita terhadap fenomena alam, sedangkan pada saat yang sama kita sangat membutuhkan salah satu komponen yang terkena dampaknya, yaitu air.
Fenomena alam yang dimaksud adalah musim kemarau yang kita hadapi saat ini. Beberapa waktu terakhir, kemarau panjang mulai dirasakan di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pertengahan September 2026 mencatat bahwa sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia masih memasuki musim kemarau.
Bahkan, terdapat lebih dari 1.600 lokasi yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. Kondisi ini juga disertai peringatan kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Indonesia.
Kemarau bukan hanya persoalan panasnya cuaca. Di baliknya ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu ketersediaan air sebagai hajat seluruh makhluk. Ketika sumber air mulai mengering, yang terdampak bukan hanya tanaman dan sawah, tetapi juga rumah tangga, peternakan, kesehatan, dan berbagai aktivitas masyarakat. Air adalah kebutuhan primer bagi manusia dan seluruh makhluk hidup.
Dalam keadaan seperti ini, Islam mengajarkan kepada kita dua hal yang harus berjalan bersama: muhasabah dan ikhtiar. Muhasabah membuat kita bertanya kepada diri sendiri, sedangkan ikhtiar mengharuskan kita bergerak mencari jalan keluar.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,
Di dalam Al-Qur’an, Allah menceritakan kepada umat Nabi Hud, yaitu kaum ‘Ad, untuk bertauhid dan menyembah-Nya. Bahkan, secara khusus Nabi Hud diperintahkan untuk menyeru kaumnya sebagaimana firman Allah berikut:
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
Artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.” (QS Hud: 52)
Syekh Wahbah al-Zuhaili di dalam Al-Tafsir al-Munir (Dimasyq: Dar al-Fikr, 1418), juz 12, hlm. 91, menjelaskan bahwa ajakan Nabi Hud tersebut bertujuan membangun kesadaran umatnya yang sangat membutuhkan air. Sebab, pada umumnya mereka bercocok tanam, air sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan dan perekonomian mereka.
Meski ayat ini mengisahkan Nabi Hud dan umatnya, pesan yang terkandung di dalamnya tetap relevan dengan kondisi kita hari ini. Ayat ini mengajarkan bahwa ketika menghadapi kesulitan, manusia perlu kembali kepada Allah. Istighfar dan taubat bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi juga kesediaan untuk memperbaiki diri dan perilaku.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,
Hanya saja, ayat ini jangan sampai dipahami secara sederhana bahwa setiap kemarau pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu. Kemarau juga merupakan bagian dari fenomena alam yang memiliki sebab-sebab klimatologis. Karena itu, sikap seorang Muslim bukanlah menuduh orang lain sebagai penyebab musibah, melainkan melakukan introspeksi sekaligus mencari solusi.
Islam tidak mengajarkan manusia hanya berdoa lalu menunggu keadaan berubah. Doa adalah permohonan kepada Allah, sedangkan ikhtiar adalah kesungguhan manusia menggunakan kemampuan yang telah Allah berikan.
Karena itu, di dalam sejarah disebutkan bahwa ketika Umar bin Khattab batal memasuki wilayah yang sedang terkena wabah, ia kemudian ditanya, “Apakah Anda hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab:
نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلَى قَدَرِ اللهِ
Artinya: “Iya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”
Dengan kata lain, ketika kekeringan datang, memilih menghemat air, mencari sumber air alternatif, memperbaiki saluran yang bocor, menampung air hujan, dan menjaga daerah resapan bukan berarti melawan takdir Allah.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,
Nabi Muhammad SAW sendiri juga telah memberikan contoh dalam berikhtiar, termasuk dalam menyikapi masalah krisis air. Salah satu ikhtiar tersebut bersifat ibadah, yaitu melaksanakan shalat istisqa’ untuk memohon turunnya hujan.
Sebagaimana diriwayatkan Aisyah di dalam Sunan Abu Dawud, suatu ketika banyak orang mengadu kepada Nabi SAW mengenai musim kemarau yang panjang. Nabi SAW pun mengajak mereka berkumpul, lalu berkhutbah dan melaksanakan shalat yang dalam fikih dikenal dengan shalat istisqa’.
Syekh al-'Azhim Abadi di dalam ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud juz 4, hlm. 36, menjelaskan bahwa hikmah Nabi SAW berbalik arah saat berkhutbah, dari menghadap umatnya ke arah kiblat, adalah doa simbolis agar keadaan berubah dari paceklik menjadi subur.
Apa yang dicontohkan Nabi SAW tersebut juga merupakan bentuk ikhtiar, bahkan sekaligus menggabungkan sikap introspeksi diri atas keterbatasan dan kebutuhan manusia terhadap alam. Melalui shalat istisqa’, kita memohon kepada Allah, Zat Yang Maha Mengendalikan alam semesta, agar menurunkan hujan.
Dengan demikian, ketika menghadapi kekeringan, seorang Muslim menggabungkan doa dan tindakan. Ada istighfar, ada shalat dan doa meminta hujan, tetapi juga ada tanggung jawab manusia untuk menghadapi persoalan yang sedang terjadi.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,
Karena itu, menghadapi kemarau panjang tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Semoga segera turun hujan.” Kita juga harus bertanya, apa yang sudah kita lakukan agar air yang masih tersedia tidak terbuang sia-sia?
Jika di rumah terdapat kebocoran keran, segera perbaiki. Jika penggunaan air dapat dikurangi tanpa mengabaikan kebersihan dan kesehatan, maka hematlah. Jangan menggunakan air secara berlebihan hanya karena merasa air masih tersedia. Sebab, ketika air sulit diperoleh, kita baru menyadari bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan nikmat yang sangat berharga.
Kita juga perlu mengingatkan orang-orang di sekitar kita agar menjaga sumber-sumber air. Mata air, sungai, dan daerah resapan tidak boleh diperlakukan sembarangan.
Menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Membiarkan sumber air tercemar berarti ikut mempersempit jalan kehidupan bagi manusia dan makhluk lainnya.
Bagi kalangan tertentu, seperti petani, ikhtiar dapat dilakukan dengan menyesuaikan pola tanam, memilih tanaman yang sesuai dengan kondisi ketersediaan air, menggunakan teknik pengairan yang lebih efisien, serta memanfaatkan informasi cuaca.
Bagi pemerintah dan pengelola fasilitas umum, ikhtiar dapat diwujudkan melalui pengelolaan sumber air, perbaikan jaringan distribusi, penyediaan air bagi wilayah terdampak, pembangunan dan pemeliharaan sarana penampungan air, serta langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Sementara bagi masyarakat yang memiliki kemampuan lebih, ikhtiar dapat diwujudkan dengan membantu mereka yang kesulitan memperoleh air. Ketika ada tetangga yang harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih, jangan sampai kita hanya berkata, “Semoga dimudahkan.” Bantuan air, sedekah, penyediaan tandon, atau gotong royong mencari sumber air merupakan bentuk nyata kepedulian yang sangat berarti.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,
Inilah wajah Islam yang sesungguhnya: berdoa kepada Allah sebagai bentuk kesadaran kita sebagai makhluk yang tidak berdaya, tetapi pada saat yang sama tidak meninggalkan usaha untuk mengubah keadaan menuju kemaslahatan.
Maka, kemarau panjang hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan dua pekerjaan sekaligus: memperbaiki hati dan memperbaiki ikhtiar. Kita memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang bermanfaat, tetapi pada saat yang sama kita juga berusaha menjaga setiap tetes air yang masih ada.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki keadaan kita, mencukupi kebutuhan air bagi manusia dan seluruh makhluk-Nya, serta menurunkan kepada kita hujan yang membawa manfaat dan keberkahan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ.
إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Ustadz M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darus-Sunnah Ciputat.
Terpopuler
1
Cinta kepada NU: Lutut Soekarno dan Lutut Saya di Muktamar
2
Keracunan MBG Berulang, P2G Minta Kepala BGN Mundur dan Program Dihentikan
3
Menteri Agama Lantik Basnang Said Jadi Dirjen Pesantren Pertama
4
Kemarau Diprediksi Berlangsung hingga November 2026, Ini Imbauan kepada Masyarakat
5
Siapa yang Paling Berhak Menjadi Imam? Ini Urutan Kriterianya Menurut Ulama Fiqih
6
Khutbah Jumat: Sibuk Bekerja, Jangan Sampai Kehilangan Waktu dengan Keluarga
Terkini
Lihat Semua