Cerpen

Yang Dibeli Rahil, yang Dihitung Langit

Ahad, 15 Maret 2026 | 16:00 WIB

Yang Dibeli Rahil, yang Dihitung Langit

Ilustrasi (Freepik)

Barangkali kemiskinan memang begitu menyedihkan. Ia menimba lebih banyak syukur dengan harapan bahwa bagaimanapun, Allah pasti akan membantu hamba-Nya.

 

Karena itu Rahil merasa beruntung, sebab meski tertatih mencari nafkah, orang tuanya berkecukupan. Dengan penghasilan yang kadang tak seberapa, Ayah dan Ibu masih sanggup bekerja keras menyemai dan memanen secara rutin kebun sayur mereka lalu menjualnya ke Pasar Minggu. Satu-satunya profesi yang telah menghidupi Rahil dan kedua adiknya.

 

Mungkin keadaan yang membutuhkan banyak perjuangan dan keprihatinan itulah, yang kemudian membentuk Rahil tumbuh menjadi anak dengan budi pekerti yang luhur, perangai lembut, tutur kata yang halus, dan suka membantu. 

 

Sebagai anak yang baru mondok, kerap kali Rahil disuruh-suruh seniornya. Ia tak pernah merasa keberatan sedikit pun dan selalu menurut. Sebab itulah mengapa banyak orang yang menyukainya baik dari teman seangkatannya maupun kakak kelasnya.


Ramadhan datang dan menjadi Ramadhan pertama bagi Rahil di pondok. Ia semangat sekali mengikuti pengajian pasaran. Dhuha mengaji Kasyifatus Saja lalu setelahnya Kitabul Adab. Sehabis dzuhur hafalan dan setoran Juz ‘Amma, lalu setelah tarawih mengaji Fathul Qorib.

 

Tetapi yang disukai Rahil dari semuanya adalah hari Jumat, karena hari Jumat adalah hari 'bebas' para santri. Pada bulan biasa hari Jumat tidak hanya libur madrasah dan roan. Namun sepanjang siang hingga sore, mereka diliburkan dari berbagai kegiatan dan menjadi 'Hari Istirahat Sedunia', begitu kata Rahil. Pada bulan Ramadhan, meski tetap mengaji pasaran, hari Jumat masih menyenangkan sebab ada ngabuburit di sore hari.

 

Mereka akan keluar ke Balai Desa. Terletak di perempatan desa yang katanya sangat ramai sekali karena menjadi pusat jajanan dengan beragam jenis di wilayah itu.


"Belilah sesuai kebutuhan dan jangan sampai kalap. Kemudian ingatlah nasihat Gus Baha yang mengatakan agar membeli dagangan yang sepi, barangkali rezeki kalian itu adalah bagian dari kebutuhan mereka," tutur Ustadzah Himma menutup pengajian Kasyifatus Saja pagi itu dengan nasihat menyentuh. Mengingat pertama kalinya santri baru, keluar untuk ngabuburit, ia menyisipkan sedikit pesan kepada mereka sekedar pengingat atas kebaikan.

 

Rahil mendengarnya cukup tersentuh, namun tak begitu menghayatinya sebab ia sudah tak sabar menunggu sore dan ingin segera keluar Pondok untuk ngabuburit. Ia juga tak tahu siapa Gus Baha itu. Pasti salah seorang Kiai terkenal.

 

Sampai akhirnya sore pun tiba, Rahil sudah rapih memakai seragam Pondok dan bersiap keluar bersama ketiga temannya. Begitu pengumuman dimulainya jam keluar berkumandang, mereka bergegas dengan riang meniti jalanan Pesantren hingga tak terasa sudah sampai di Balai Desa yang sangat ramai. Sampai-sampai, mereka kesulitan melihat jajanan yang beragam jenis itu.

 

Dengan segenap perjuangan mengeluarkan diri dari desakan orang-orang dewasa, akhirnya Rahil dan temannya berhasil lolos dari keramaian itu. Di tangan Rahil sudah terdapat sop buah, martabak dan tahu petis. Tangan temannya yang lain pun tak kalah penuhnya dengan varian jajanan yang berbeda. Mereka berjanji akan saling berbagi saat di Pondok supaya bisa merasakan jajanan masing-masing.

 

Di jalan pulang, Rahil melihat seorang Kakek penjual cilok yang tersisih sendiri dari keramaian. Dagangannya tampak sepi. Tubuhnya yang bungkuk berkali-kali mengelap bakul dagangannya. Padahal Rahil yakin dagangan itu terlihat bersih.

 

Pakaiannya setua usianya. Kopiah hajinya kusam dan ada sedikit robekan di bagian belakangnya. Sementara kemeja batik panjangnya yang usang ia gulung hingga siku.


Seketika Rahil merasa iba melihatnya. Ia teringat ucapan Ustadzah Himma tentang membeli dagangan yang sepi. Dan jujur saja ia ingin membeli dagangan itu namun jatahnya dalam sehari sudah habis. Sebab jika ia memaksa diri melebihkan uang jajannya di hari itu, ia pasti akan meminta lagi ke Ibu karena jumlah yang tidak sesuai target. Ia tak mau begitu. Tempo hari saat menelepon, Ibu bilang jika sayur di bulan Ramadhan tidak begitu laku lantaran harga yang melonjak naik sehingga ada penurunan daya beli.

 

Antara kakek itu dan Ibu, untuk saat ini ia akan memilih Ibunya dulu sambil berdoa semoga ada yang membeli dagangan sang Kakek. Ia juga berjanji kepada dirinya bahwa ia akan membeli dagangan kakek di Jumat berikutnya.

***


Begitu Rahil pergi, sang Kakek yang tadi sempat melihatnya berhenti sejenak, memandang dagangannya dengan getir. Namun kemudian ia tersenyum dan yakin bahwa rezekinya sedang ditata. Dalam semenit ia mengelap dagangannya lagi agar tampak sibuk. Membereskan sesuatu yang sudah rapih, dan menghitung kembali jumlah cilok yang tak juga berkurang. Ia tetap sabar menunggu hingga maghrib tiba. Namun selama itu, tak juga ada yang membeli dagangannya sedari ia membuka lapak sejak jam dua. Maka, ia pulang dengan tangan hampa.

 

Di rumah istrinya sudah menunggu. Ia tersenyum saat menyambutnya dan masih tersenyum ketika menyadari bahwa lagi-lagi, suaminya tidak bisa memberinya sedikit pun uang untuk sahur dan berbuka.


Sungguh tak apa, batin istri yang sabar itu. Ia masih memiliki uang simpanan dari putrinya yang merantau di Kalimantan. Cukup untuk tiga hari ke depan.


Dengan lembut ia mengajak suaminya yang sudah bekerja keras itu menuju meja tua dan lapuk untuk berbuka. Di sana sudah tersedia air putih, teh manis hangat, nasi, tempe-tahu, dan sayur lompong kuning, yang pasti dipetik istrinya dari kebun kecil di belakang rumah mereka. Mereka makan dengan lahap dan nikmat. Melupakan sejenak kemiskinan mereka.

***

 

"Cilok gerobak hijau?”

 

Rahil mengangguk.

 

“Kurang enak ciloknya,” lanjut Mbak Mawa, kepala kamarnya.

 

Rahil ber- “Ooo” pelan dan tak berniat membahas lebih jauh. Ia bertanya hanya ingin memastikan apakah seniornya sudah ada yang tahu perihal kakek tua itu. Apakah ia termasuk jajanan yang sering dibeli senior-seniornya atau apakah rasanya enak. Sayangnya, jawaban yang didapat rupanya cukup mengecewakan Rahil.

 

Ia malah sedih kepala kamarnya menjawab tak enak. Tanpa melihat latar belakang kakek itu yang sudah sepuh dan harusnya diapresiasi atas kegigihan serta kerja kerasnya.

***

 

Kakek Mus, namanya. Ia sudah berjualan cilok sejak muda. Bisa dibilang penghasilan dari berjualan itulah yang telah membesarkan anaknya hingga ada yang jadi PNS di Kalimantan dan yang satunya ia bantu beri modal untuk berjualan ayam potong di Jakarta.

 

Setiap bulan mereka terkadang mengiriminya rezeki, yang besar maupun kecil jumlahnya selalu ia syukuri. Namun uang kiriman anaknya yang PNS sudah habis 6 hari yang lalu dan anaknya di Jakarta tak kunjung mengabarinya.

 

Kakek Mus mengerti bahwa anak-anaknya sibuk dan tengah mempertimbangkan harga-harga pasar yang naik-turun. Terlebih dengan tanggungan keluarga mereka masing-masing. Maka selama sisa hari menuju lebaran, ia dan istrinya bergantung sepenuhnya dari berjualan cilok.

 

Sambil mendorong gerobaknya di tengah siang yang terik, Kakek Mus berharap hari ini akan ada rezeki lebih. Sebab hasil penjualan kemarin sudah habis dibelikan gas dan bahan. Kenaikan harga di bulan Ramadhan menjadikan penghasilannya seperti tak ada apa-apanya. Namun ia dan istrinya tetap bersyukur. Ia yakin istrinya di rumah juga sudah semaksimal mungkin merawat sayur-mayur di belakang rumah agar tumbuh layak dan bisa dimasak. Supaya bisa meringankan pengeluaran belanja harian mereka.


Mereka sama-sama lelah, tentunya. Sebelum berangkat istrinya pun sudah repot menyiapkan dagangan. Sudah membuat bumbu dan merebus cilok. Kakek Mus tahu istrinya sedih saat merebus cilok-cilok itu. Sebab itu adalah cilok kemarin yang tak laku terjual dan terpaksa dimasak kembali. Masih layak dimakan meski mereka paham tekstur dan aromanya sudah berbeda sehingga sedikit mengurangi cita rasanya. Bahkan, lantaran kekurangan uang untuk membeli penyedap rasa, bumbu kacang mereka pasti akan terasa hambar.

 

Ketika ia sudah berdiam di tempat biasa ia berjualan, Kakek Mus mengeluarkan kain usang dari dalam laci gerobaknya dan mulai mengelap gerobak yang sebetulnya sudah dibersihkan istrinya itu. Mencari-cari kesibukan. Berharap mereka melihat kesungguhannya dalam berdagang dengan mempertahakan kondisi dagangan agar tetap bersih. Juga berdoa kepada Allah, agar ada orang yang tertarik dengan dagangannya dan membuat mereka membeli meskipun itu adalah sebuah cilok yang tak seberapa dibanding jajanan menarik lainnya.

***

Pada hari Kamis kemarin, Rahil tiba-tiba saja menawarkan diri untuk membuka jasa titip kepada teman atau seniornya yang tak berniat keluar. Seperti kampanye, ia mengatakan kepada mereka bahwa ia mau menerima titipan asal mereka tidak rewel terkait jajanan yang ia berikan mengingat betapa ramai dan berdesakannya keadaan di Balai Desa. Tentu saja ada yang setuju dan ada yang tidak. Meski demikian, tetap ada banyak orang yang menitip kepadanya.

 

“Aku lemas. Nggak cukup tenaga buat jalan. Untung kau membuka jastip.”

 

“Malas aku memilih jajanan sebanyak itu. Pilihkan saja sesukamu.”

 

“Nugget, es teh, dimsum, sisanya terserah kau saja, Rahil.”

 

Setelah mengantongi puluhan ribu uang titipan, Rahil dan ketiga temannya langsung bergegas ke Balai Desa.

 

Tempat pertama yang Rahil tuju tentu saja kakek penjual cilok. Membuat Rahil ingin menangis melhatnya sebab seperti minggu kemarin, kakek itu masih menyibukkan diri mengelap dagangannya yang sudah bersih. Mereka tak kesulitan membeli cilok sang kakek lantaran sepinya dagangan itu.


Sang kakek sendiri, melihat ada yang mendatangi gerobaknya, tampak sumringah dan tersenyum ramah. Rahil balas tersenyum, dan mengatakan ingin membeli 10 bungkus cilok dengan masing-masing harga 5000-an.

 

Salah satu temannya kaget mendapati Rahil membeli sebanyak itu. Tak ayal juga membuat kakek nampak terkejut seperti melihat malaikat turun dari langit. Mengirimkan berkah Ramadhan.

 

"Banyak banget, memang siapa yang menitip cilok?” tanya temannya. Sebab seingatnya hanya 6 orang yang bilang terserah Rahil ingin membelikan apa saja.

 

“Itu 4-nya buat aku,” jawab Rahil. Membuat ketiga temannya terbelalak. Namun mereka segera diam dan tak bertanya lagi. Mereka akan menanyakannya nanti.

 

Rupanya sang kakek memberikan satu bungkus cilok gratis. Rahil mengucapkan terima kasih dan menerima cilok itu dengan sopan sambil menyerahkan satu lembar uang 50.000-an. Adapun kakek itu, saat menerima uang dari Rahil terlihat sangat terharu dan wajahnya yang teduh nampak bersyukur sekali.

 

Mereka mengangguk sopan menandakan mereka akan beranjak. Ketika di rasa sudah jauh dari dagangan Kakek, teman-temannya menanyakan mengapa Rahil membeli sebanyak itu.

 

“Buat siapa saja yang mau. Di Pondok kan sudah ada makanan berbuka dan takjil,” jawabnya sambil tersenyum. Menenteng plastik berisi ciloknya yang sangat banyak. Berjalan riang dan hati yang senang menuju keramaian meski terdorong-dorong oleh segerombolan santri laki-laki yang berebut antre lontong sate.

 

Sepanjang jalan Rahil masih tersenyum-senyum sendiri mengingat rencananya jika ada yang mengkritik cilok itu, ia tak segan akan menegur mereka dan mengingatkan bahwa tidak boleh mencela makanan.

 

Sementara itu, di belakangnya, mata sang kakek mulai berlinang. Ia mengucap syukur atas rezeki hari ini sehingga bisa memberikan istrinya uang untuk kebutuhan buka dan sahur mereka.

 

Tak hentinya Kakek Mus berdoa untuk kebaikan anak kecil manis yang dengan mantap membeli dagangannya sebanyak itu. Memohon kepada Allah agar membalas kebaikan dan kejernihan hatinya. Sejernih air yang terus menitik dari mata tuanya.

 

Shella Carissa masih menempuh pendidikan di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy dan Pascasarjana Institut Pesantren Babakan Cirebon. Penikmat musik inggris ini menyukai kajian feminis, politik, filsafat dan yang paling utama ngaji nahwu-shorof, terkhusus ngaji Al-Qur'an.