Khutbah Jumat: Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan
NU Online · Jumat, 13 Maret 2026 | 04:30 WIB
Muhaimin Yasin
Kolomnis
Tidak terasa Ramadhan sudah di penghujung kepergiannya. Sebentar lagi, bulan penuh keberkahan, rahmat dan ampunan itu hendak berlalu. Tentu saja di sisa-sisa terakhirnya kita tidak ingin menyia-nyiakan masa. Di momen ini, ada satu ibadah yang sangat dianjurkan, yakni i’tikaf di masjid.
Khutbah Jumat berikut berjudul, “Khutbah Jumat Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan”. Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ زَمَانًا لِلطَّاعَاتِ، وَخَصَّ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْهُ بِمَزِيْدِ الْفَضْلِ وَالْبَرَكَاتِ، وَشَرَعَ فِيْهَا الِاعْتِكَافَ لِتَزْكِيَةِ النُّفُوْسِ وَتَطْهِيْرِ الْقُلُوْبِ مِنَ الشَّهَوَاتِ، وَجَعَلَهُ سَبَبًا لِنَيْلِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَالْفَوْزِ بِرَفِيْعِ الدَّرَجَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرَاتِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Sudah sepantasnya kita sebagai insan yang beriman, selalu menampilkan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah swt. Karena berkat segala karunia-Nya, kita dapat aman, tentram, dan nyaman dalam beraktivitas ibadah selama bulan suci Ramadhan.
Begitu pula kepada Baginda Nabi Muhammad saw yang telah berjuang, sepatutnya kita selalu menghaturkan shalawat dan salam. Sebab berkat tetesan keringat beliau dalam mendakwahkan Islam, kita bisa selamat di dunia dan akhirat. Tidak lupa juga kepada para sahabat, kerabat, dan ulama.
Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian, mari tingkatkan ketakwaan kepada Allah swt, dengan mengerjakan segala perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, serta mencari cara untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 35 dijelaskan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.”
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Hari demi hari telah berlalu, pekan demi pekan telah terlewatkan, tidak terasa kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Bulan suci yang selama satu musim dinantikan, sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita. Di sisa-sisa waktu yang masih ada ini, sebaiknya kita manfaatkan dengan maksimal.
Adapun cara terbaik dalam memanfaatkan masa akhir Ramadhan ini, adalah dengan tetap berpedoman kepada amaliah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Salah satu kebiasaan beliau dalam mengisi sepuluh malam akhir Ramadhan ialah dengan beri’tikaf di masjid, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bersumber dari Aisyah, istri Rasulullah saw:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللّٰهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Artinya: "Sungguh Nabi Muhammad Saw (selalu) beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, hingga beliau wafat. Kemudian para istrinya beri’tikaf juga setelah beliau.”
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Badruddin al-‘Aini dalam kitab 'Umdatul Qari, jilid XI halaman 143, menjelaskan, hadits ini adalah dalil tegas yang menetapkan anjuran melaksanakan i’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Terkhusus, ini sangat dianjurkan bagi laki-laki.
Berdasarkan hadits ini pula, i’tikaf diperkenankan bagi perempuan. Al-‘Aini memaparkan, dengan mengutip pendapat Imam An-Nawawi:
قَالَ النَّوَوِيّ: وَفِي هَذَا الحَدِيث دَلِيلٌ لِصِحَّةِ اعْتِكَافِ النِّسَاء، لِأَنَّهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ أَذَّنَ لَهُنَّ
Artinya: "An-Nawawi berkata, 'Dalam hadits (riwayat Aisyah) ini juga, dapat dijadikan landasan tentang keabsahan I’tikaf bagi wanita. Sebab Nabi saw telah mengizinkan mereka'.”
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Banyak alasan mengapa Nabi Muhammad saw gemar ber’itikaf di 10 malam terakhir bulan suci Ramadhan. Di antaranya adalah bahwa di waktu tersebut Lailatul Qadar tiba. Dengannya Nabi beritikaf, sembari memburu malam istimewa yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.
Sayyidah Aisyah ra meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَيَقُولُ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: "Rasulullah saw sering beri’tikaf pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda: 'Beri’tikaflah kalian pada Lailatul Qadar di 10 malam terakhir bulan Ramadhan'.” (Al-Bukhari)
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Sebab Lailatul Qadar itu terdapat di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, maka ketika kita memaksimalkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan beri’tikaf di masjid, maka potensi segala dosa kita diampuni akan semakin besar. Sebagaimana disebutkan oleh Nabi Muhammad saw dalam haditsnya:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Siapa saja yang beribadah pada Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan berniat karena Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Al-Bukhari)
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Beri’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sangat dianjurkan bagi seorang laki-laki dan perempuan. Nabi saw memberikan contoh kepada kita bahwa betapa pentingnya memaksimalkan waktu terakhir di bulan suci ini.
Dalam hadits diterangkan, bahwasanya Nabi Muhammad saw tidak pernah luput dari i’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat.
Alasannya adalah karena di malam-malam terakhir tersebut terdapat Lailatul Qadar, yakni suatu masa yang apabila seorang hamba beribadah di dalamnya, maka nilai pahalanya setara dengan beribadah selama seribu bulan.
Selain itu, di 10 malam terakhir ada Lailatul Qadar, maka dengan memfokuskan diri beribadah melalui i’tikaf, akan membuka potensi kita untuk diampuni oleh Allah swt atas segala dosa yang telah berlalu.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Lafal Doa Malam LaiLatul Qadar, Lengkap dengan Latin dan Terjemah
4
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
5
Khutbah Jumat: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah
6
Sambut 10 Hari Terakhir Ramadhan, Berikut 3 Niat Itikaf di Masjid
Terkini
Lihat Semua