Daerah

Banjir Padang 3 Agustus Mulai Surut, Warga Bersih-Bersih di Tengah Trauma yang Belum Hilang

Jumat, 7 Agustus 2026 | 10:30 WIB

Banjir Padang 3 Agustus Mulai Surut, Warga Bersih-Bersih di Tengah Trauma yang Belum Hilang

Kondisi rumah warga pascabanjir Senin (3/8/2026) di Kota Padang, Sumatra Barat. (Dok warga)

Jakarta, NU Online

Banjir yang melanda Kota Padang, Sumatea Barat, mulai surut. Seiring menurunnya genangan air, warga kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan lingkungan dan bangunan yang terdampak. Namun, di balik aktivitas pemulihan tersebut, tersimpan trauma mendalam akibat banjir pada akhir tahun 2025.

 

Banjir terjadi setelah hujan berintensitas sangat tinggi mengguyur Kota Padang pada Senin (3/8/2026) pukul 11.00 WIB hingga 17.00 WIB. Curah hujan yang tinggi menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi kawasan permukiman dengan tinggi muka air mencapai sekitar 1,5 meter di beberapa lokasi.

 

Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, Bungus Teluk Kabung, Lubuk Begalung, dan Nanggalo. Sejumlah kelurahan yang terdampak antara lain Gunung Sarik, Pasar Lalang, Rimbo Tarok, Kuranji, Sungai Sapih, Aia Pacah, Koto Panjang Ikua Koto, Bungus Selatan, Teluk Kabung Utara, Pagambiran Ampalu Nan XX, hingga Surau Gadang.

 

Warga Kota Padang, Albert Reza menilai banjir yang kembali terjadi menunjukkan masih adanya persoalan yang belum terselesaikan di kawasan aliran sungai.

 

“Endapan-edapan lumpur yang ada di sepanjang Sungai Kuranji itu yang menyebabkan banjir bandang terulang. Jadi kalau seandainya hujan persekian jam, itu langsung airnya naik semua. Ruas-ruang jalanan utama di Kota Padang itu lumpuh total karena banjir,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (6/8/2026).

 

Reza menyampaikan bahwa sejak Selasa (4/8/2026) hingga saat ini pembersihan terus dilakukan oleh masyarakat bersama organisasi perangkat daerah (OPD) dan berbagai organisasi kemasyarakatan. Prioritas pembersihan difokuskan pada sekolah, rumah ibadah, serta rumah warga yang terdampak paling parah.

 

“Mulai selasa hingga sekarang pembersihan daerah yang terdampak banjir terus dilakukan, fokus utamanya di titik-titik sekolah, rumah ibadah. Kalau rumah warga yang rumahnya tidak terlalu parah, maka dilakukan pembersihan di jalanan, tapi kalau sampai parah, dibersihkan masuk ke dalam lumpur-lumpurnya,” katanya.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa banjir bandang pada November 2025 masih menyisakan trauma bagi masyarakat.

 

“Sebetulnya dampak banjir bandang November 2025 itu, masyarakat di Kota Padang mengalami trauma jika curah hujannya tinggi, jadi mereka mulai waspada tapi ya kewaspadaannya sudah di tingkat pasrah, tidak bisa ngapa-ngapain karena beberapa rumah yang dekat dengan aliran sungai itu hujan deras sebentar, air naik, banjir lagi, mereka sudah di titik pasrah sekarang,” ucapnya.

 

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bancana (BNPB) Abdul Muhari menyampaikan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang bersama Basarnas, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, serta masyarakat telah melakukan evakuasi, kaji cepat, dan pendataan warga terdampak.

 

“Saat ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat masih menetapkan Status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Banjir, Banjir Bandang, Tanah Longsor, dan Angin Kencang berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 360-195-2026 yang berlaku hingga 18 September 2026,” ujarnya di Jakarta pada Rabu (5/7/2026).

 

BNPB menghimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta pemerintah daerah guna mengurangi risiko bencana susulan.