Khutbah Jumat: Bahaya Hoaks dan Dosa Menyebar Informasi Palsu
NU Online · Kamis, 6 Agustus 2026 | 04:48 WIB
M. Syarofuddin Firdaus
Kolumnis
Era media sosial seperti sekarang ini membuat penyebaran berita semakin mudah dan cepat. Media sosial membuat ruang dan waktu tidak lagi menjadi faktor keterlambatan dan kelambanan sebuah informasi. Pada saat bersamaan, kecepatan tersebut seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dalam menyebarkan berita yang salah, bahkan palsu.
Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: Bahaya Hoaks dan Dosa Menyebar Informasi Palsu,". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ الْإِنْسَانَ الْبَيَانَ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ قَوْلًا سَدِيدًا، وَنَهَاهُ عَنِ الزُّورِ وَالْبُهْتَانِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الصَّادِقِ الْأَمِينِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ تَمَامِ التَّقْوَى أَنْ يَحْفَظَ الْمُسْلِمُ لِسَانَهُ وَقَلَمَهُ وَكُلَّ مَا يَصْدُرُ عَنْهُ مِنْ قَوْلٍ أَوْ كِتَابَةٍ
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di antara wujud ketakwaan yang sangat dibutuhkan pada zaman ini adalah menjaga lisan, tulisan, dan setiap informasi yang kita sebarkan.
Dahulu, ucapan seseorang hanya didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Kini, melalui telepon genggam dan media sosial, satu kalimat dapat menjangkau ribuan, bahkan jutaan orang, hanya dalam hitungan detik. Karena itu, dampak dari setiap informasi yang kita bagikan, baik berupa pahala maupun dosa, dapat menyebar dengan sangat cepat.
Kemajuan teknologi adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan teknologi, kita dapat belajar ilmu dengan lebih mudah, menjaga silaturahmi meski terpisah jarak, serta menyebarkan dakwah kepada lebih banyak orang.
Namun, di balik segala kemudahan itu tersimpan amanah yang besar. Jangan sampai kemudahan berbagi informasi justru membuat kita tergesa-gesa menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, terlebih lagi informasi yang terbukti palsu. Setiap unggahan, pesan, dan komentar akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga setiap informasi yang kita sebarkan harus dipastikan kebenaran dan manfaatnya
Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya; "Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. al-Isra’: 36)
Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Tafsir al-Munir (Dimasyq: Dar al-Fikr, 1418 H, juz 15, hlm. 75) menjelaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan agar seseorang tidak berbicara atau bersikap melampaui apa yang diketahuinya. Seorang muslim juga dilarang mencela orang lain berdasarkan sesuatu yang tidak ia pahami atau tidak memiliki bukti yang jelas.
Melalui ayat ini, Allah mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh berbicara, meyakini, maupun mengikuti suatu informasi tanpa dilandasi ilmu dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Setiap ucapan dan sikap harus didasarkan pada pengetahuan yang benar, bukan prasangka, dugaan, atau kabar yang belum terverifikasi.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah
Dalam konteks kehidupan saat ini, ayat ini juga mengajarkan agar kita tidak mudah mempercayai dan menyebarkan setiap informasi yang muncul di layar telepon genggam kita. Sebab produksi berita dan informasi sangat melimpah dan cepat sehingga seringkali terjadi bias antara yang valid dan yang tidak.
Sebelum menekan tombol bagikan, sebelum meneruskan pesan ke grup keluarga, grup masjid, atau media sosial, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya benar-benar mengetahui bahwa informasi ini benar? Jika belum memiliki kepastian, maka sikap yang paling selamat adalah menahan diri.
Nabi Muhammad memberikan peringatan yang sangat tegas sebagaimana riwayat Imam Muslim di dalam kitab Shahih Muslim;
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya; "Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar." (HR. Muslim)
Coba perhatikan! Rasulullah tidak mengatakan bahwa seseorang baru disebut berdusta apabila ia membuat berita bohong dengan tangannya sendiri. Namun orang yang sekadar menyampaikan setiap berita yang didengarnya tanpa memastikan kebenarannya pun telah diperingatkan dengan sifat dusta.
Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang muslim bukan hanya tidak membuat kebohongan, tetapi juga tidak menjadi mata rantai penyebaran kebohongan. Bahkan bila melihat keumuman hadis tersebut membuat berita yang disampaikan tidak terbatas pada topik-topik tertentu saja, sehingga seperti berita-berita yang disandarkan kepada Nabi (hadis) juga termasuk.
Ma'asyiral muslimin hafidzkumullah
Sering kali ketika mendengar istilah hoaks, pikiran kita langsung tertuju kepada berita kriminal, isu politik, persoalan ekonomi, bencana alam, atau berbagai kabar yang menghebohkan masyarakat. Memang semua itu termasuk bentuk informasi yang harus diverifikasi. Akan tetapi, ada satu bentuk hoaks yang tidak kalah berbahaya, yaitu hoaks yang mengatasnamakan agama.
Betapa sering kita menjumpai gambar atau tulisan yang mencantumkan nama Rasulullah, para sahabat, atau para ulama besar, tetapi tanpa menyebutkan sumber yang jelas. Kalimat-kalimat itu terdengar indah, menyentuh hati, bahkan memotivasi.
Karena merasa isinya baik, banyak orang langsung membagikannya tanpa berpikir panjang. Padahal, dalam agama ini, kebaikan isi tidak cukup menjadi alasan untuk menisbatkan sebuah perkataan kepada seseorang apabila tidak ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai contoh, di media sosial sering beredar ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam al-Syafi'i:
"Ikutilah ulama yang paling banyak difitnah atau paling banyak dimusuhi orang kafir."
Kalimat ini sangat populer dan kerap dijadikan bahan ceramah, tulisan, bahkan dikutip di media sosial. Namun, hingga kini tidak ditemukan redaksi tersebut dalam karya-karya Imam al-Syafi'i, kitab-kitab yang menghimpun perkataan beliau, maupun karya para muridnya. Bahkan Syekh Ibrahim al-Syafi'i, salah seorang ulama keturunan Imam al-Syafi'i, mengaku tidak pernah menemukan kutipan tersebut dalam literatur yang dapat dipertanggungjawabkan.
Oleh karena itu, menisbatkan ungkapan tersebut kepada Imam asy-Syafi'i tanpa dasar yang jelas bukanlah sikap yang sesuai dengan amanah ilmiah yang diajarkan Islam dan tradisi para ulama. Para ulama, apalagi kalangan ahli hadis cukup ketat dalam menyeleksi perkataan atau sikap yang disandarkan kepada tokoh tertentu, khususnya kepada baginda Nabi.
Demikian pula ketika kita membaca sebuah hadis yang tersebar di media sosial. Jangan sampai kita langsung berkata, "Rasulullah bersabda..." sebelum mengetahui apakah hadis itu benar-benar berasal dari beliau. Sebab, menjaga kemurnian ajaran Islam bukan hanya tugas para ulama, tetapi juga tanggung jawab setiap muslim sesuai dengan kemampuannya.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah
Hari ini, kita hidup di tengah banjir informasi. Setiap hari telepon genggam kita dipenuhi pesan, video, dan berbagai berita yang datang silih berganti. Tidak sedikit yang ternyata hoaks, fitnah, atau kutipan agama yang tidak jelas sumbernya. Ironisnya, banyak orang langsung menekan tombol bagikan tanpa lebih dahulu memastikan kebenarannya.
Padahal, para ulama hadis terdahulu rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk memastikan satu riwayat benar-benar berasal dari Rasulullah saw. Mereka memeriksa siapa yang meriwayatkan, bagaimana kejujurannya, dan apakah riwayat itu dapat dipercaya. Kehati-hatian mereka menjadi pelajaran bahwa menyampaikan informasi bukan perkara sepele.
Jangan sampai kemajuan teknologi justru menjadikan kita lebih mudah menyebarkan kebohongan. Satu kali menekan tombol share, sebuah informasi palsu dapat menyebar ke ribuan orang. Jika informasi itu menimbulkan fitnah atau menyesatkan orang lain, dosanya pun bisa terus mengalir selama kebohongan itu masih beredar.
Karena itu, ingatlah bahwa setiap ucapan, tulisan, dan informasi yang kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Alasan, "Saya hanya meneruskan pesan," tidak akan menghapus tanggung jawab kita.
Oleh karena itu, marilah kita membiasakan tiga sikap. Pertama, jangan mudah percaya terhadap setiap informasi yang kita terima. Kedua, biasakan memeriksa sumber dan kebenarannya, terlebih jika informasi itu berkaitan dengan agama atau menyangkut kehormatan seseorang. Ketiga, apabila masih ragu, maka diam dan tidak menyebarkannya adalah pilihan yang lebih selamat daripada menjadi penyebab tersebarnya kebohongan.
Marilah kita membiasakan tabayun sebelum berbagi informasi. Pastikan sumbernya, cek kebenarannya, dan jika masih ragu, lebih baik berhenti pada diri kita daripada menjadi penyebar hoaks yang merugikan banyak orang.
Semoga Allah menjaga lisan, tulisan, dan jari-jari kita dari segala bentuk kedustaan, menjadikan kita hamba-hamba yang jujur dalam berkata dan amanah dalam menyampaikan informasi, serta memberikan kepada kita taufik untuk senantiasa menyebarkan berita yang benar dan bermanfaat.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقَ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمُ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰
اَمَّابَعْدُ: فَيَاعِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ...ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
---------------
M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat
Terpopuler
1
Melalui PBNU, YANMU Salurkan 11 Ambulans dan 1.000 Al-Quran untuk PWNU dan PCNU
2
Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat
3
Fariz Alnizar Dilantik sebagai Rektor Unusia Periode 2026–2030
4
PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung 3.000 Lebih Peserta Muktamar Ke-35 NU
5
Agresi Israel Tak Berhenti usai Kesepakatan Pelucutan Senjata, Jumlah Korban di Gaza Capai 73.356 Jiwa
6
Masuk Bursa Bakal Calon Ketua Umum PBNU, Ini Kiprah dan Profil KH Marsudi Syuhud
Terkini
Lihat Semua