Daerah

Daurah Tahqiq Beit at-Turath Kalimantan Bahas Pentingnya Validasi Teks Turats

Sabtu, 12 September 2026 | 17:00 WIB

Daurah Tahqiq Beit at-Turath Kalimantan Bahas Pentingnya Validasi Teks Turats

Daurah Tahqiq Eksklusif Sesi 1 di Markaz Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (11/9/2026) (Foto: Ahmad Mursyidi)

Banjar, NU Online
​​​​Turats memiliki posisi penting dalam perkembangan keilmuan Islam. Turats tidak sekadar peninggalan masa lalu, tetapi menjadi memori intelektual umat Islam.

 

Hal itu disampaikan Ketua Prodi Magister Turats Islam, Fakultas Islamic Studies, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Jawa Barat, H Muhammad Ilyas Marwal saat Daurah Tahqiq Eksklusif Sesi 1 di Markaz Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (11/9/2026).

 

“Turats bukan masa lalu untuk kita tinggali, la adalah memori intelektual umat yang menjadi titik berangkat membangun masa depan,” terangnya dalam kegiatan yang membahas urgensi tahqiq dalam memastikan teks turats tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah..

 

Ia menjelaskan, turats mencakup berbagai bidang keilmuan, seperti tafsir, hadis, fikih, usul fikih, tasawuf, bahasa Arab, sejarah, falak, kedokteran, astronomi, hingga karya ulama lokal Nusantara. Sementara Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber wahyu memiliki otoritas tersendiri.

 

Menurutnya, turats penting karena menyimpan identitas intelektual umat, sanad keilmuan, akumulasi pengetahuan, metodologi berpikir ulama, serta menjadi bagian penting dalam proses tajdid.

 

“Tidak ada tajdid tanpa turath, tidak ada ijtihad tanpa pemahaman, tidak ada pemahaman yang kokoh tanpa teks yang benar, dan teks yang benar membutuhkan tahqiq,” katanya.

 

Ilyas menjelaskan, tahqiq diperlukan karena teks kitab yang dibaca saat ini tidak selalu sama persis dengan naskah yang ditulis pengarangnya. Sebuah karya dapat mengalami perubahan dalam perjalanan penyalinan, termasuk kesalahan huruf, bagian yang terlewat, tambahan, perubahan urutan, hingga kesalahan atribusi kepada pengarang.

 

“Semua kitab yang kita baca hari ini tidak persis sebagaimana ditulis pеngarangnya, sebuah karya dapat melewati perjalanan panjang, Maka pekerjaan muhaqqiq bukan sekadar mengetik ulang manuskrip ia memperbaiki salah titik/huruf, perubahan teks, teks terlewat, tambahan, perubahan urutan, kesalahan atribusi kepada pengarang,” jelasnya.

 

Ia mendefinisikan tahqiq sebagai usaha ilmiah untuk menghadirkan teks sedekat mungkin dengan bentuk yang dikehendaki pengarang berdasarkan manuskrip dan bukti ilmiah yang tersedia.

 

Proses tersebut, lanjutnya, meliputi pengumpulan manuskrip, pencatatan kondisi naskah, penentuan manuskrip dasar, perbandingan antar-naskah, pencatatan perbedaan bacaan, verifikasi kutipan dan identitas tokoh, hingga penyusunan pengantar ilmiah serta indeks.

 

Ilyas juga menegaskan pentingnya perhatian terhadap manuskrip Nusantara, termasuk karya ulama Kalimantan Selatan. “Kalimantan Selatan mempunyai tradisi keilmuan Islam yang kuat. Turath Nusantara merupakan bagian dari turath Islam global, bukan khazanah kelas dua,” ungkapnya.

 

Menurutnya, teknologi dan kecerdasan buatan dapat membantu proses digitalisasi, pengenalan karakter tulisan, pencarian kutipan, perbandingan teks, hingga penyusunan indeks. Namun, AI tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu bagi muhaqqiq.

 

“Al adalah alat bagi muhaqqiq, bukan pengganti muhaqqiq,” katanya.