Festival Muharram dan Qira’atul Qutub Al-Aziziyah 2026 Jadi Ajang Kaderisasi Santri dan Ulama di Aceh
Kamis, 25 Juni 2026 | 07:00 WIB
Bireuen, NU Online
Festival Muharram Se-Aceh dan Luar Aceh serta Qira’atul Qutub Al-Aziziyah 2026 yang digelar Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga menjadi ajang penguatan tradisi keilmuan Islam dan kaderisasi ulama di kalangan santri. Kegiatan dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah itu berlangsung selama delapan hari di kompleks Meunasah Gampong Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.
Festival bertema Santri Meusyuhuë Nanggroe Beumaju tersebut diikuti santri dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan Al-Aziziyah. Sejumlah cabang perlombaan digelar untuk mengasah kemampuan membaca, memahami, menghafal, menganalisis, dan menyampaikan kandungan kitab-kitab turats yang menjadi rujukan utama pendidikan dayah.
Mudir Tanfidz Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, Tgk H Zahrul Mubarrak HB (Abi MUDI), mengatakan Muharram menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri sekaligus meneladani perjuangan Rasulullah saw yang sarat dengan pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan dalam menegakkan kebenaran.
“Tahun Baru Islam mengingatkan kita pada perjuangan Rasulullah SAW yang sarat dengan nilai pengorbanan dan keteguhan dalam menegakkan kebenaran. Muharram hendaknya menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pengabdian kepada agama serta masyarakat,” ujarnya saat pembukaan, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, penguasaan kitab-kitab turats merupakan fondasi penting dalam sistem pendidikan dayah. Karena itu, tradisi intelektual Islam yang diwariskan para ulama harus terus dijaga dan dikembangkan.
“Kitab turats merupakan identitas dan kekayaan intelektual umat. Melalui kegiatan seperti ini, kita berharap lahir kader-kader ulama yang kuat dalam ilmu, kokoh dalam akhlak, serta mampu menjawab berbagai tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang diwariskan para ulama,” katanya.
Abi Mudi berharap semangat Muharram yang diusung dalam kegiatan tersebut menjadi energi baru bagi para santri untuk terus belajar, berprestasi, dan mengabdikan ilmu demi kemaslahatan agama, masyarakat, dan negara. Ia juga mengingatkan peserta agar menjunjung tinggi kejujuran serta menjaga adab selama perlombaan berlangsung.
“Kemenangan sejati bukan hanya menjadi juara, tetapi bertambahnya ilmu, semakin baik akhlak, dan semakin dekatnya kita kepada Allah swt,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Bagian Pengajian Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, Tgk Hendri Simpang Tiga, menjelaskan bahwa festival tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya akademik di lingkungan dayah sekaligus meningkatkan kompetensi santri dalam berbagai disiplin ilmu keislaman.
“Festival ini bukan sekadar ajang perlombaan untuk mencari juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana kaderisasi ulama dan intelektual muslim yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan wawasan, serta adab yang baik sebagaimana tradisi pendidikan dayah,” ujarnya.
Tahun ini panitia menyelenggarakan 15 cabang perlombaan, antara lain Qira’atul Kitab Al-Aziziyah, Fahmil Qutub, Qira’atul Kitab Al-Mahalli, Qira’atul Kitab Fathul Mu’in, Qira’atul Kitab Fathul Qarib, Presentasi Ushul Fiqh, Hafalan Jauhar Maknun, Hafalan Sulam Munawraq, Tashilut Turuqat, Pidato Bahasa Aceh Bersajak, Opini, Hafalan Jurumiyyah, Debat Ilmiah, Pidato Muntarjim, dan Tajhiz Mayat.
Menurut Hendri, salah satu cabang yang paling bergengsi adalah Qira’atul Kitab Al-Aziziyah yang diikuti 32 delegasi dari berbagai dayah di bawah naungan MUDI. Cabang tersebut menjadi arena bagi para santri untuk menunjukkan kemampuan membaca, memahami, dan menjelaskan kandungan kitab yang menjadi rujukan utama pendidikan dayah.
Festival dilaksanakan melalui dua tahap, yakni babak penyisihan dan babak final. Sistem tersebut diterapkan untuk menjaring santri-santri terbaik yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak sesuai tradisi pendidikan dayah.
Melalui kegiatan ini, Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga berharap dapat melahirkan generasi santri yang unggul dalam penguasaan kitab turats, memiliki wawasan keilmuan yang luas, serta mampu menjadi pelopor kemajuan umat dan pembangunan bangsa.