Hadir di Ujung Barat Negeri, Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah Sabang Perkuat Pendidikan Islam
Jumat, 18 September 2026 | 12:00 WIB
Sabang, NU Online
Sabang, daerah di ujung barat Indonesia, menjadi salah satu titik penguatan pendidikan Islam dengan hadirnya Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah. Peresmian dayah ini berlangsung Rabu (16/9/2026) oleh ulama kharismatik Aceh, Abu Syekh H Hasanoel Bashry HG atau Abu Mudi.
Peresmian tersebut berlangsung bertepatan dengan Wisuda Sarjana Angkatan III Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Aziziyah Sabang Aceh yang diikuti 54 mahasiswa. Mereka terdiri atas 37 lulusan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah dan 17 lulusan Program Studi Hukum Keluarga Islam.
Selain menjadi momentum penting dalam pengembangan pendidikan Islam, kehadiran dayah ini sekaligus memperkuat kesinambungan tradisi keilmuan Al-Aziziyah di Kota Sabang.
Abu Mudi menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak semata-mata bertujuan melahirkan sarjana, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki ilmu, iman, akhlak, dan tanggung jawab kepada masyarakat.
“Wisuda bukan akhir dari belajar, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Jadilah sarjana yang bermanfaat, berintegritas, memiliki kompetensi, dan tetap beriman serta beradab,” kata Abu Mudi yang juga Mustasyar PBNU 2022-2027.
Dalam rangkaian peresmian tersebut, Tgk Muslem Hamdani dikukuhkan sebagai pimpinan perdana Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah.
Pengukuhan tersebut menandai dimulainya kepemimpinan dayah dalam mengembangkan pendidikan keagamaan, pembinaan akhlak, pengkajian keislaman, serta penguatan tradisi keilmuan dayah di Kota Sabang.
Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk H Iskandar Zulkarnaen, menyambut baik berdirinya Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah. Menurutnya, kehadiran lembaga tersebut menambah kekuatan pendidikan Islam di Sabang dan membuka ruang lebih luas bagi pembinaan generasi muda.
Tokoh muda Nahdliyin yang juga Ketua Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) itu menilai dayah memiliki peran penting, tidak hanya sebagai tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter, adab, kedisiplinan, dan kaderisasi calon ulama.
“Kehadiran Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah tentu menjadi tambahan kekuatan bagi pendidikan Islam di Kota Sabang. Dayah harus terus menjadi tempat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.
Baca Juga
Sejarah Wabillahi Taufiq Wal Hidayah
Ia juga berharap hubungan antara pendidikan dayah dan perguruan tinggi terus diperkuat. Menurutnya, perkembangan zaman membutuhkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus kemampuan memahami berbagai persoalan kontemporer.
“Tradisi dayah harus tetap dijaga, sementara kemampuan akademik dan wawasan generasi muda juga harus terus diperkuat. Keduanya dapat berjalan bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Tgk Iskandar mengatakan kehadiran STIS Al-Aziziyah bersama Dayah Raudhatul Muna memiliki posisi strategis dalam memperkuat pendidikan Islam di Sabang.
Perguruan tinggi, kata dia, berperan memperkuat kemampuan akademik dan intelektual, sedangkan dayah menjadi ruang untuk memperdalam ilmu agama, membentuk adab, dan memperkuat karakter generasi muda.
Ia berharap kedua lembaga tersebut dapat berkembang secara beriringan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Sabang, Aceh, maupun Indonesia.
Sementara itu, Tgk Muslem Hamdani mengatakan amanah sebagai pimpinan perdana Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah merupakan tanggung jawab besar dalam melanjutkan pengembangan pendidikan Islam di Kota Sabang.
Ia berharap dayah tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperdalam ilmu agama, membangun akhlak, serta menjaga tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Aceh.
“Kami berharap Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah dapat menjadi tempat pembinaan ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menjaga tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.
Dengan diresmikannya Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah dan dikukuhkannya Tgk Muslem Hamdani sebagai pimpinan perdana, lembaga tersebut diharapkan tumbuh menjadi pusat pendidikan, pembinaan akhlak, pengkajian keislaman, dan kaderisasi generasi penerus ulama di Kota Sabang.
Peresmian tersebut turut dihadiri Prof Tgk Muntasir A Kadir, Abi Zahrul Mubarraq, Aba Sayed Mahyeddin, Abiya H Muhammad, Tgk Abrar Azizi, Abina Muhaimin, serta keluarga besar MUDI Mesjid Raya.
Turut hadir Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Aziziyah, Geusyik Balohan, sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat, Wakil Ketua DPRK Sabang, Ketua Mahkamah Syar'iyah Kota Sabang, Ketua MPU, Kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah, serta sejumlah pejabat lainnya.