Harga Daging Meugang Tinggi, NU Aceh: Momentum Berbagi dan Perkuat Ukhuwah
Jumat, 20 Maret 2026 | 16:00 WIB
Sejumlah warga Aceh sedang membeli daging meugang jelang lebaran 2026, Jumat (20/3/2026). (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Banda Aceh, NU Online
Harga daging pada meugang pertama dan kedua menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah di sejumlah wilayah Aceh berada di kisaran Rp170 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Meski tergolong tinggi, antusiasme masyarakat tetap tinggi dalam menyambut tradisi tahunan yang telah mengakar dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Aceh.
Di Kabupaten Bireuen, aktivitas jual beli daging tampak ramai sejak pagi hari. Pedagang telah menempati lapak sejak dini hari, khususnya di kawasan eks rel kereta api di Kecamatan Kota Juang. Daging sapi segar dijual sekitar Rp180 ribu per kilogram, sementara tulang iga atau rusuk berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
Pantauan NU Online di Kabupaten Pidie Jaya, seperti di Pasar Ulee Glee, menunjukkan harga daging berada pada kisaran Rp180 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan lokasi penjualan. Meski harga relatif tinggi, masyarakat tetap memadati pasar untuk membeli daging sebagai bagian dari tradisi meugang.
Sementara itu, harga tertinggi terpantau di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), yang mencapai Rp200 ribu per kilogram. Tingginya harga tersebut tidak menyurutkan minat masyarakat, meskipun pembelian umumnya dilakukan dalam jumlah terbatas.
Di Kota Sabang, harga daging kualitas satu berada di angka Rp180 ribu per kilogram, sedangkan kualitas dua dijual Rp160 ribu per kilogram. Tingginya minat beli masyarakat membuat sejumlah lapak pedagang bahkan habis terjual sebelum memasuki waktu siang.
Seorang pedagang daging di Gampong Cot Bau, Sabang, Arju, mengatakan bahwa harga daging masih dalam kisaran normal. Ia menyebutkan, selain daging, bagian lain seperti tulang dan hati juga banyak diminati masyarakat.
“Untuk tulang super kami jual Rp120 ribu per kilogram, tulang biasa Rp80 ribu, dan hati Rp160 ribu per kilogram. Harga tersebut masih bisa dijangkau masyarakat,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Ia menambahkan, sejak membuka lapak pukul 06.00 WIB, pembeli terus berdatangan hingga seluruh dagangannya habis sekitar pukul 11.00 WIB. Hal ini menunjukkan tingginya permintaan masyarakat pada momen meugang.
Di tengah harga yang relatif tinggi, tradisi meugang tetap dijalankan sebagai bagian dari identitas budaya dan keagamaan masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas konsumsi, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial dan berbagi kebahagiaan menjelang hari raya.
Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menjelaskan bahwa meugang memiliki akar sejarah panjang sejak masa Kesultanan Aceh. Pada masa itu, para sultan membagikan daging kepada masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap rakyat.
“Secara historis, meugang merupakan tradisi yang diwariskan sejak era kesultanan. Ini menunjukkan bahwa nilai keadilan sosial telah lama hidup dalam masyarakat Aceh,” ujarnya.
Menurutnya, hingga kini nilai filosofis tersebut tetap terjaga dalam praktik meugang. Tradisi ini menjadi momentum penting untuk berbagi rezeki, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan kebahagiaan bersama.
“Meugang bukan sekadar membeli daging, tetapi juga memperkuat ukhuwah. Ada nilai berbagi kepada tetangga dan kaum dhuafa agar semua dapat merasakan kebahagiaan menjelang hari raya,” ujarnya.
Dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe itu menambahkan, meugang juga mencerminkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Umumnya, masyarakat membeli daging dalam jumlah satu hingga dua kilogram per keluarga, disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi meugang tetap dapat dijalankan tanpa harus memberatkan.
Pemerintah daerah diharapkan terus memantau stabilitas harga dan distribusi bahan pangan menjelang hari raya. Langkah ini penting agar tradisi meugang tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Secara keseluruhan, harga daging meugang tahun ini yang berada di kisaran Rp170 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram mencerminkan tingginya permintaan masyarakat. Di balik itu, tradisi meugang tetap menjadi simbol kuat nilai kebersamaan, kepedulian, dan identitas keislaman masyarakat Aceh.