Khutbah Idul Fitri: Hari Kemenangan untuk Kebebasan Masyarakat Sipil
NU Online · Selasa, 17 Maret 2026 | 14:00 WIB
Sunnatullah
Kolomnis
Hari Raya Idul Fitri selalu dipahami sebagai hari kemenangan bagi setiap muslim setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kemenangan ini tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan menahan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan, tetapi juga dapat dipahami sebagai momentum untuk menjaga dan merawat kebebasan masyarakat sipil dalam kehidupan bersama.
Naskah khutbah Idul Fitri berikut ini dengan judul, “Khutbah Idul Fitri: Hari Kemenangan untuk Kebebasan Masyarakat Sipil”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اللّٰهُ أَكْبَرُ (٣×)، اللّٰهُ أَكْبَرُ (٣×)، اللّٰهُ أَكْبَرُ (٣×)، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَتَمَّ لَنَا شَهْرَ الصِّيَامِ، وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ مَوْسِمًا لِلْفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ وَالْإِكْرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اْلإِلَهُ الَّذِيْ تَفَرَّدَ بِالْعَظَمَةِ وَالدَّوَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَكْرَمُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالْكَرَامِ، مَا تَعَاقَبَتِ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Merupakan sebuah nikmat besar yang Allah SWT berikan kepada kita semua adalah keberhasilan kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan sempurna. Kita diberi kekuatan lahir dan batin untuk menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu. Dan pada pagi yang penuh berkah ini, Allah kembali mempertemukan kita untuk berkumpul dalam rangka melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang telah kita terima.
Selanjutnya, kami selaku khatib pada pelaksanaan shalat Idul Fitri ini, berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian, untuk terus berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa ketakwaan tidak hanya diwujudkan pada bulan Ramadhan semata, tetapi harus terus dijaga dan dipelihara dalam setiap waktu dan keadaan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Tanpa terasa, hari ini kita sudah sampai pada hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kemenangan ini tentu menjadi kebahagiaan bagi umat Islam, karena kita berhasil melewati proses panjang dalam menahan hawa nafsu serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Namun, di saat yang sama, kita juga dihadapkan dengan keadaan sosial yang kurang baik, misalnya perihal kebebasan masyarakat sipil. Sebagaimana yang dicatat oleh Tempo, kebebasan sipil di Indonesia dinilai kian tergerus dalam lima tahun terakhir. Hal itu ditandai dengan sikap represif aparat negara ataupun proses legislasi yang minim partisipasi publik bermakna.
Lantunan takbir Allahu akbar, tahmid, dan tahlil terdengar di mana-mana sebagai simbol kemenangan dan kebebasan. Ironisnya, di tanah air tercinta ini ruang kebebasan masyarakat sipil justru kian menyempit. Tentu fakta keadaan ini sangat miris dan memprihatinkan bagi kita semua, padahal Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Artinya, “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.” (QS. Al-Hadid: 25).
Mengutip penjelasan Syekh Syihabuddin al-Alusi dalam kitab Ruhul Ma’ani, jilid X, halaman 341, frasa liyaqûman-nâsu bil-qisth (agar manusia dapat berlaku adil) merupakan alasan mengapa Allah menurunkan Al-Qur’an. Al-Qisth pada ayat di atas mencakup dua hal, yaitu keadilan dalam urusan muamalah duniawi berupa kesetaraan dalam interaksi sosial, dan keadilan dalam urusan ukhrawi dengan berpegang teguh pada kitab Allah. Dalam kitab tersebut dijelaskan:
لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ، عِلَّةٌ لِإِنْزَالِ الْكِتَابِ وَالْمِيزَانِ، وَالْقِيَامُ بِالْقِسْطِ أَيْ بِالْعَدْلِ يَشْمَلُ التَّسْوِيَةَ فِي أُمُورِ التَّعَامُلِ بِاسْتِعْمَالِ الْمِيزَانِ
Artinya, “(agar manusia dapat berlaku adil) merupakan alasan diturunkannya Al-Kitab dan Al-Mizan (neraca keadilan). Penegakan keadilan yaitu dengan keadilan yang mencakup kesetaraan dalam urusan interaksi/transaksi dengan menggunakan alat ukur yang adil, dan dalam urusan akhirat dengan mengikuti Al-Kitab.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Ayat dan penjelasan ini mengingatkan kita bahwa tujuan utama dari risalah Islam adalah menegakkan keadilan (al-qisth). Keadilan ini harus terwujud dalam kehidupan nyata, baik dalam interaksi antar sesama manusia maupun dalam hubungan kita dengan Sang Pencipta. Keadilan duniawi yang dimaksud mencakup kesetaraan dalam segala aspek muamalah, di mana setiap individu memiliki hak yang sama untuk berinteraksi, berpendapat, dan berpartisipasi tanpa diskriminasi atau penindasan. Inilah inti dari kebebasan masyarakat sipil yang sesungguhnya.
Namun, realitas yang kita hadapi saat ini, seperti yang diungkapkan oleh laporan Tempo, menunjukkan adanya penggerusan terhadap ruang-ruang kebebasan sipil ini. Sikap represif, pembatasan partisipasi publik, dan proses legislasi yang minim transparansi adalah cerminan dari praktik yang menjauh dari nilai keadilan ilahi.
Ketika kebebasan masyarakat sipil terhambat, maka tegaknya keadilan pun akan terancam. Bagaimana mungkin kita bisa menegakkan keadilan jika suara-suara kritis dibungkam, aspirasi masyarakat diabaikan, dan partisipasi publik direduksi?
Oleh karena itu, kemenangan Idul Fitri ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk tidak hanya bersyukur secara spiritual, tetapi juga untuk bangkit secara kolektif. Kita perlu menyadari bahwa menjaga dan memperjuangkan kebebasan masyarakat sipil adalah bagian dari kewajiban kita untuk menegakkan keadilan. Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah.” (QS. An-Nisa’: 135).
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Idul Fitri yang dapat kami sampaikan pada pagi hari yang penuh berkah ini, dengan tema “Hari Kemenangan untuk Kebebasan Masyarakat Sipil.” Semoga apa yang telah disampaikan dapat menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemenangan Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan menahan hawa nafsu selama Ramadhan, tetapi juga sebagai momentum untuk menegakkan keadilan, menjaga kebebasan yang bertanggung jawab, serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk tetap istiqamah dalam kebaikan dan meneguhkan langkah kita dalam menegakkan keadilan di tengah kehidupan bermasyarakat. Amin ya rabbal alamin.
جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ (3x)، اَللهُ أَكْبَرُ (3x)، اَللهُ أَكْبَرُ (3x) وَلِلهِ الْحَمْدُ. اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Kultum Ramadhan: Hikmah Zakat Fitrah dalam Islam
6
Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
Terkini
Lihat Semua