Haul Buntet 2026 Tegaskan Pesantren sebagai Benteng Tradisi dan Keutuhan Bangsa
Ahad, 2 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Cirebon, NU Online
Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejabat negara menegaskan kembali peran pesantren sebagai benteng penjaga tradisi keagamaan sekaligus pilar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada puncak Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2026 di Cirebon, Sabtu (1/8/2026).
Mengusung tema Menjaga Tradisi, Mencipta Inovasi, Haul Buntet 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai penjaga tradisi keilmuan, spiritualitas, dan persatuan bangsa.
Ketua Umum Panitia Haul K Ammar Firman Maulana dalam laporannya menyampaikan bahwa tema tersebut merupakan manifestasi kesadaran kolektif Pondok Buntet Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia agar tetap berpegang teguh pada tradisi, sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman.
"Tema ini merupakan manifestasi kesadaran kolektif kita bahwa Buntet sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua harus terus memegang teguh tradisi, namun juga adaptif dan progresif dalam menghadapi dinamika serta tantangan modern saat ini," ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan penyelenggaraan Haul Buntet 2026 tidak terlepas dari fondasi yang telah dibangun para sesepuh, khususnya almarhum KH Adib Rofiuddin Izza, Dewan Sepuh, para kiai, serta seluruh warga Pondok Buntet Pesantren.
Sesepuh Pondok Buntet Pesantren, KH Hasanudin Kriyani, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi menyukseskan rangkaian Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun dimensi spiritual santri melalui mata rantai keilmuan para ulama.
"Di dalam pesantren bukan hanya mengisi akal santri dengan pengetahuan, tetapi juga ditanamkan pendidikan ruhani sebagaimana diajarkan Rasulullah. Para ulama menjadi sumber muktabar untuk mengambil agama, bukan hanya aqliyahnya, tetapi juga sanad ruhaninya," ujar Gus Yahya.
Ia juga mengajak warga Nahdliyin untuk terus menghidupkan semangat Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari dalam mendirikan Nahdlatul Ulama demi kemaslahatan agama dan umat. "Para kiai pesantren harus terus mengasuh jamaahnya. Nahdlatul Ulama harus menjadi cahaya bagi masyarakat," tegasnya.
Senada dengan itu, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh menegaskan bahwa haul merupakan momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dalam membela bangsa. "Ulama memiliki tanggung jawab besar untuk membebaskan bangsa ini dari penjajahan," katanya.
Komitmen menjaga sinergi antara pesantren dan negara juga disampaikan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Irjen Pol Pipit Rismanto. Ia menyatakan kesiapan jajarannya untuk terus bersama pesantren dalam menjaga keamanan dan persatuan bangsa.
Sementara itu, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandung Abdul Hakim berharap pesantren senantiasa menjadi garda terdepan dalam menghadirkan keadilan bagi umat. "Semoga pesantren selalu menjadi penerang umat sekaligus penegak keadilan," ujarnya.
Antusiasme jamaah telah terlihat sejak Jumat (31/7/2026) dan semakin meningkat hingga kawasan pasar dadakan di sekitar pesantren saat ziarah dan tahlil umum digelar pada Sabtu sore. Untuk mengantisipasi lonjakan jamaah, panitia menutup sejumlah akses kendaraan menuju kawasan inti Pondok Buntet Pesantren serta menyiapkan kantong-kantong parkir di beberapa titik di luar kompleks pesantren.
Dalam mauizhah hasanah, KH Reza Ahmad Zahid (Gus Reza) dari Pondok Pesantren Lirboyo mengajak jamaah menjadikan haul sebagai sarana memperkuat semangat perjuangan dengan meneladani para ulama.
"Tujuan haul adalah menambah semangat kembali untuk berjuang. Dengan menghadiri haul, kita mendapatkan suri teladan dari para ulama," ujar Katib Syuriyah PBNU itu.
Rangkaian acara puncak diawali penampilan nasyid grup Kawakib Al Ghorbiyah yang beranggotakan dzuriyah perempuan dan santri putri Pondok Buntet Pesantren. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin KH Ade Nasihul Umam, tilawah Al-Qur'an oleh qari internasional Ustadz Shidiq Mulyana, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Ya Lal Wathan, laporan panitia, sambutan para tokoh, mauizhah hasanah, serta ditutup dengan doa yang dipimpin Gus Reza.
Pada kesempatan tersebut, panitia juga mengumumkan bahwa film Mbah Muqoyyim tengah memasuki proses produksi dan direncanakan segera tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.
Kontributor: Farhat Kamal